Selasa, 21 April 2020

TUGAS GEREJA MENJADI SAKSI (MARTYRIA) DAN TUGAS GEREJA MELAYANI (DIAKONIA)


Tugas Gereja Menjadi Saksi (Martyria)
Kata saksi sering diartikan sebagai orang yang melihat atau mengetahui sendiri suatu peristiwa (kejadian). Saksi menunjuk pada personal atau pribadi seseorang yakni pribadi yang mengetahui atau mengalami dan mampu memberikan keterangan yang benar.
Menjadi saksi Kristus berarti menyampaikan atau menunjukan apa yang dialami dan diketahui tenang Yesus Kristus kepada orang lain. Penyampaian ini bisa melalui kata-kata (kerygma), sikap atau tindakan nyata.
Injil pertama-tama diwartakan dengan kesaksian, yakni diwartakan dengan tingkah laku dan peri hidup. Gereja juga mewartakan Injil kepada dunia dengan kesaksian hidupnya yang setia kepada Tuhan Yesus.  Para murid memang dipanggil supaya mereka menjadi saksi-Nya mulai dari Yerusalem yang kemudian berkembang ke seluruh Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Pada waktu itu yang dimaksud dengan ujung bumi adalah Roma. Dengan sampainya pewartaan Injil di Roma, maka diyakini bahwa pewartaan Injil juga akan sampai ke ujung bumi, seluruh dunia.
Bagi kita sekarang menjadi saksi Kristus mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi bearti menjadi saksi Kristusmulai dari rumah/keluarga, sanak saudara, tetangga, lingkungan sekolah sampai ke ujung di mana hidup kita nanti berakhir. Sabda Yesus itu menunjukkan tugas pokok yang harus dilaksanakan para pengikut-Nya. Dalam sejarah Gereja, kita tahu bahwa banyak orang telah merelakan dirinya menjadi saksi Kristus. Ingat saja sejarah mengenai para misionaris. Pewartaan dalam bentuk kesaksian hidup mungkin sangat relevan bagi kita di Indonesia. Kita hidup di tengah bangsa yang sangat majemuk dalam kepercayaan dan budayanya. Pewartaan verbal mungkin kurang simpatik dibandingkan dengan pewartaan lewat doalog, termasuk dialog hidup, di mana kita mewartakan iman kita melalui kesaksian hidup kita. Kita dapat menunjukkan hidup kita yang penuh cinta kasih dan persaudaraan ditengah situasi yang sarat dengan permusuhan, kekerasan, dan terror. Kita dapat menunjukkan hidup yang bersemangat solider di tengah suasana hidup yang serakah dan korup karena didorong oleh nafsu kepentingan diri atau golongan

Banyak sekali martir dalam sejarah gereja, mereka yang mati karena mempertahankan imannya pada Kristus. Misalnya, Stefanus martir pertama, yang dibunuh di luar tembok Yerusalem setelah berkotbah tentang Yesus. St. Ursula, Putri Inggris tewas dibunuh oleh kelompok pemberontak di hutan Prancis, karena mempertahankan iman dan keperawanannya.St. Petrus mati dibunuh di kota Roma dengan cara disalibkan terbalik. Uskup Oscar Romerodari El-Savador – Amerika Selatan, tewas ditembak karena perjuangannya menentang tindakan represif para tentara terhadap rakyat, demikian pula Uskup Don Helder Camara di Brasil. Banyak lagi orang yang tewas karena mereka adalah pengikut Kristus.
Ada dua jenis Martir :
1.      Martir Putih : Mereka yang dengan tegas dan tegar bersaksi tentang kristus, meskipun menerima banyak penderitaan, namun mereka tidak sampai mengurbankan nyawa.
2.      Martir Merah : mereka yang wafat karena bersaksi tentang Kristus atau karena tetap setiap pada imannya.

Tugas Gereja Menjadi Melayani (Diakonia)
Latar Belakang. Ciri cinta kasih gereja tampak sangat nyata dalam sikap utamanya yakni melayani. Inilah salah satu pesan utama Yesus Kristus setelah Ekaristi pada malam perjamuan terakhir. Yesus menanggalkan jubah tuan-Nya, lalu mengikatkan kain lenan pada pinggangnya seperti yang dilakukan para pelayanan. Lalau mulailah dia melakukan pekerjaan para hamba : mencuci kaki murid-muridnya. Tentu saja murid tersentak kaget, Petrus dengan terang menolak. Tapi Yesus bilang kalau dia tidak mau dicuci kakinya maka tidak pantas menjadi murid-Nya, sebab semua murid-Nya harus melakukan hal serupa kepada sesamanya. (Yohanes  13: 1 – 20) Kisah penuh emosional ini sungguh menyentuh hati para Rasul, maka mereka semua bekerja sungguh-sungguh dalam pelayanan, menjadi hamba di antara para hamba. (Lukas 17:10) bahkan bersedia mati untuk itu. Mereka semua, kecuali Yohanes, memang akhirnya jadi martir demi Kristus.

Dasar Pelayanan dalam Gereja
Dasar pelayanan dalam Gereja adalah semangat pelayanan Kristus sendiri. Pelayanan Kristiani adalah sikap pokok para pengikut Yesus. Dengan kata lain, melayani sesama adalah tanggung jawab setiap orang Kristiani sebagai konsekuen dalam imannya.

Ciri-ciri Pelayanan Gereja
a.      Bersikap sebagai pelayan.
Mereka tidak protes, mereka melakukan apapun HARUS (sanggup atau tidak, ikhlas atau terpaksa) dilakukan, siap untuk diperlakukan sebagai hamba yang tidak berguna yang hanya siap melaksanakan semua tugas. (Lukas 17:10)
b.  Tetap Setia pada Kristus.
Melihat beratnya ciri pertama di atas, maka sangat penting untuk kita dekat dan bersatu pada Kristus sumber kekuatan. Dari-Nya kita akan mendapat penghiburan dan kekuatan untuk melaksanakan tugas yang sering melampui kemampuan kita sebagai manusia. Tuhan pun tahu, tugas para murid-Nya ini berat, maka Dia berjanji untuk berserta kita SELALU sampai akir zaman (Matius 28:20)
c.    Sasaran utamanya terutama adalah kaum miskin – Option for the Poor.
Keadilan jangan berpihak kepada siapapun termasuk yang miskin, tapi pelayanan harus tetap mengutamakan kaum miskin, terpinggir dan tidak beruntung hidupnya. Pelayanan itu bukan saja karikatif – rumah sakit murah, memberi makan, tapi juga memberikan pendidikan agar mereka dapat mandiri dan juga mereformasi system politik agar membela hidup mereka.
d.    Rendah Hati.                            
Ini adalah ciri utama pelayan. Seumur hidupnya dia harus tetap melihat dirinya sebagai pelayan (ciri nomor a di atas).  Pelayan boleh bangga, bersyukur dan kagum pada hasil kerjanya, tapi tidak boleh sombong. Untuk setiap hasil yang baik atau tidak, dia bersyukur sebab telah ikut ambil bagian dalam karya Allah. (Roma  15:17. Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah).

      Dalam Gereja ada Diakon yang punya tugas khusus untuk melayani. Namun semua umat dituntut untuk memiliki sikap melayani dalam pelbagai macam cara hidup mereka. Misalnya:

A.     Di bidang Transformatif : kebudayaan dan pendidikan.
Gereja berusaha terus membangun peradaban manusia (trans – melewati dan form – bentuk), melewati jaman sambil terus memperkenalkan nilai-nilai kerajaan Allah. Jalan paling ampuh adalah lewat budaya dan pendidikan. Maka muncullah sekolah-sekolah Katolik, bukan untuk mengkatolikan tapi untuk membangun manusia yang beradap – memiliki cinta kasih dan rasionalitas baik. Di Indonesia banyak sekali pemikir dan budayawan Katolik yang berpengaruh. Misalnya, Rm. Drost SJRm. Mangunwijaya(sastrawan, budayawan dan pendidik), Rm. Sinduanta (wartawan, budayawan), Rm. Mudjisutrisno(budayawan dan pendidik), dan masih banyak yang lainnya. Di negeri ini Institusi Pendidikan Katolik selalu menjadi patokan kemajuan pendidikan Indonesia.
B.      Di bidang Karikatif : kesejahteraan. (Charitas – kasih ; care – merawat)
Bidang ini meliputi pelayanan di bidang kesehatan, misalnya mendirikan rumah sakit atau klinik, atau lembaga-lembaga sosial ekonomi seperti koperasi Credit Union (CU). Misalnya, CU Melania di Bandung yang sudah beromset ratusan miliaran, tidak saja melayani umat gereja tapi terbuka kepada siapa saja yang mau ikut. Atau karya karikatif terhadap orang-orang jompo. Di bidang ini kita kenal Mather Teresadari Kalkuta, St. Damianus, dokter perawat kusta di kep. Molokai.
C.      Di bidang Reformatif : bidang politik dan hukum  (reform : membentuk kembali)
                  Peran gereja adalah menjaga tata dunia ini agar menyerupai dunia Kerajaan Allah yang penuh kasih, damai, sejahtera, adil, jujur dan benar. Tanpa kekerasan. Karena itu gereja mengutus para imam dan terutama para awam untuk menjadi garam dan terang dunia di dunia Politik dan Hukum. Mengapa kedua bidang ini, sebab politik dan hukumlah yang menguasai suatu bangsa.
      Pada bidang ini kita kenal Rm. Magnis Suseno (Penulis dan Pengajar Etika Politik), kini ada Ignatius Jonan di Kabinet Kerja Jokowi yang memajukan system Kreta Api Indonesia.


Perhatikan perbedaan berikut.

Pekerja
Pelayan
Orientasinya adalah uang
Oritentasinya Berkat
Bahagia jika jabatan / gaji naik.
Bahagia jika dirinya makin berarti untuk orang lain.
Kerja berdasarkan jam kerja.
Siap sedia kapan pun dibutuhkan.
Kemajuan perusahan / usaha berarti kesejahteraan pekerjanya.
Kebahagiaan orang lain berarti kemuliaan Tuhan dan kebagiaan batin pribadi.
Saya harus mendekati orang lain sebab saya membutuhkan mereka.
Saya mendekati mendekati orang lain sebab mereka membutuhkan saya.
Saya harus mendapatkan apa yang mereka punya.
Mereka harus mendapatkan apa yang saya punya.
 Harus selektif memilih patner atau sasaran pelanggan. Jauhi yang tidak berdaya / miskin.
Semua orang patut pendapat pelayanan, terutama yang tidak berdaya / miskin

Untuk memahami Tugas Gereja Menjadi Saksi dan Tugas Gereja Melayani, jawablah pertanyaan melalui Link  https://forms.gle/jpMNDtVb4WRRHEhJA



Tidak ada komentar:

Belajar Menulis "Menunggu..."

Pelatihan Belajar Menulis Menulis di Kompasiana   Tak terasa sudah beranjak malam, ketika saya keluar dari ruang perawatan di salah sa...