Senin, 02 Maret 2026

YESUS MEWARTAKAN DAN MEMPERJUANGKAN KERAJAAN ALLAH

 

I.         GAMBARAN KERAJAAN ALLAH YANG DIWARTAKAN YESUS

 A.    Situasi Sosial Bangsa Israel dan Kerinduan Mereka pada Mesias dan Kerajaan Allah

Selama enam abad sebelum kedatangan Yesus, bangsa Israel selalu dijajah oleh bangsa lain, yaitu bangsa Persia, bangsa Yunani, dan terakhir bangsa Romawi. Selain ditindas oleh para penjajah itu, bangsa Israel juga ditindas oleh pemimpin­-pemimpin bangsanya sendiri, yaitu raja-raja boneka yang diangkat oleh para penjajah.

Dalam situasi tertindas seperti itu, bangsa Israel selalu memimpikan ke­datangan Mesias dan Kerajaan Allah. Unhik mengerti dengan baik impian bangsa Israel tentang Kerajaan Allah dan pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah, maka secara berlurut-turut kita akan mendalami tentang situasi sosial masyarakat Yahudi pada waktu itu, paham-pahamnya tentang Kerajaan Allah, dan pewartaan Yesus tentang Keraiaan Allah.

1.      Situasi Sosial Bangsa Israel

a.      Situasi Sosial-Politik

Setelah masa pembuangan bangsa Israel di Babilonia, enam abad sebelum Yesus, Palestina tunduk kepada Kerajaan Persia, Yunani, dan Kekaisaran Romawi. Secara internal, masyarakat Palestina dikuasai oleh raja-raja dan pejabat boneka yang ditunjuk oleh penguasa Roma. Selain pejabat-pejabat boneka, masih ada kelas pemilik tanah yang kaya raya dan kaum rohaniwan kelas tinggi yang suka menindas rakyat demi kepentingan dan kedudukan mereka. Golongan-golongan ini sering memihak penjajah supaya mereka tidak kehilangan hak istimewa atau nama baik di depan penjajah, kareria Roma mempunyai kekuasaan mencabut hak milik seseorang.

Puncak kekuasaan politik adalah procurator Yudea. Ia harus seorang Romawi. Ia berwenang menunjuk raja dan Imam Agung. Di Yudea, Imam Agung berperan di bidang politik sebagai raja selain sebagai pemimpin agama. Di Galilea kekuasaan dipegang oleh raja Herodes Antipas.

Dominasi rimiliter terlihat dengan kehadiran tentara Romawi di mana-mana. Mereka diambil dari Siria atau Palestina, tetapi tidak dari kalangan Yahudi.

Situasi yang menekan kadang-kadang tidak tertahankan, sehingga timbul pemberantakan yang umumnya digerakkan oleh kaum Zelot yang benmarkas di Galilea. Namun, pemberontakan kaum Zelot ini selalu dapat dipadamkan/ditum­pas.

Penumpasan kaum pemberontak (Zelot) ini biasanya membawa korban nyawa yang tidak sedikit.

b.        Situasi Sosio-Ekonomi

Penduduk desa biasanya hanya memiliki lahan-lahan kecil untuk usaha per­tanian. Sebagian besar tanah dikuasai oleh para tuan tanah yang kaya dan mereka tinggal di kota-kota. Lahan-lahan luas yang dikuasai oleh para tuan tanah itu di­gunakan untuk menanam jagung dan peternakan besar. Para tuan tanah yang tinggal di kota-kota itu praktis menjadi pengemudi roda ekonomi kota dan perdagangan internasional. Rakyat kebanyakan biasanya hanya menj adi penggarap tanah (buruh tam) atau pengembala ternak milik tuan-tuan tanah itu.

Kondisi ekonomi sebagian besar penduduk (rakyat) hanya pas-pasan, bahkan kurang untuk mencukupi kebutuhan keluarga karena penghasilan mereka terlalu kecil. Dalam sihiasi yang parah seperti itu, rakyat masih dibebani berbagai macam pajak dan pungutan untuk pemerintah, untuk Bait Allah, dan sebagainya. Konon, pajak dan pungutan-pungutan tersebut dapat mencapai 40% dari penghasilan rakyat.

 c.         Situasi Sosial-Kemasyarakatan

 Masyarakat Palestina terbagi dalam kelas-kelas. Di daerah pedesaan terdapat kelas-kelas atau kelompok sosial, yaitu tuan tanah besar, pemilik tanah kecil, perajin, kaum buruh, dan budak.

Di daerah perkotaan terdapat beberapa lapisan kelas sosial. Lapisan kelas sosial tertinggi adalah kaum aristokrat, imam-imam, pedagang-pedagang besar, dan pejabat-pejabat tinggi. Lapisan kelas sosial menengah bawah adalah para perajin, pejabat-pejabat rendah, awam, dan kaum Lewi. Lapisan kelas sosial pa­ling bawah adalah kaum buruh yang pada umumnya bekerja di sekitar Bait Allah. Di samping itu, terdapat juga kaum proletar marginal yang tidak terintegrasi dalam kegiatan ekonomi, yang terdiri atas orang-orang yang dikucilkan oleh ma­syarakat karena suatu hal (bukan karena kondisi ekonomi). Misalnya: para pendosa publik seperti pelacur dan pemungut bea cukai, penderita kusta yang menurut keyakinan Yahudi disebabkan oleh dosa si penderita atau dosa orang tuanya.

Menurut orang Yahudi, dosa itu dapat berjangkit seperti kuman penyakit. Oleh sebab itu, orang baik-baik tidak boleh bergaul dengan orang-orang berdosa.

Selain adanya kelompok-kelompok berdasarkan kelas sosial tersebut di atas, terdapat juga berbagai bentuk diskriminasi, misalnya diskriminasi rasial, seksual, pekerjaan, dan sebagainya.

 

 

 

 

d.       Situasi Sosio-Religius

Hukum Taurat sangat mewarnai hidup religius orang-orang Yahudi. Kaum Farisi berusaha menjaga warisan dan jati diri Yahudi berdasarkan hukum Taurat. Mereka menyoroti ketaatan pada setiap pasal hukum Taurat. Bagi mereka, menjadi rakyat Tuhan berarti taat pada setiap pasal hukum Taurat. Mereka berusaha me­nerapkan hukum Taurat pada setiap segi kehidupan. Tetapi, mereka sendiri sangat memilih-milih dalam ketaatan mereka.

Menaati hukum Tuhan berarti menaati secara ketat terhadap setiap pasal hukum Taurat. Orang-orang Farisi gemar memperluas tuntutan-tuntutan kebersihan yang berlaku untuk para imam bagi seluruh masyarakat Israel. Mereka menafsirkan dan kadang-kadang memanipulasi hukum Taurat demi kepentingan mereka sendiri, sehingga sering mendatangkan beban yang tidak tertahankan bagi rakyat kecil.

Singkatnya, rakyat kebanyakan di Palestina sangat tertindas pada saat Yesus muncul. Mereka ditindas secara politis, ekonomis, sosial, bahkan religius.

2.    Paham-Paham Tentang Kerajaan Allah

Dalam situasi tertindas, bangsa Israel sangat merindukan kedatangan Mesias dan Kerajaan Allah. Namun, paham mengenai Kerajaan Allah di kalangan bangsa Israel dipahami secara berbeda-beda.

a.      Paham Kerajaan Allah yang Berciri Nasionalistis

Paham ini dihayati oleh kaum Zelot. Kegiatan mereka bertujuan membebas­kan bangsa Israel dari kuasa politik penjajah kafir. Kaum Zelot berjihad untuk mengusir kaum kafir. Mereka berharap dengan kebangkitan nasionalisme, keme­nangan bangsa Israel dapat tercapai dan Kerajaan Allah tercipta.

b.      Kerajaan Allah Menurut Pandangan para Apokaliptis

Aliran ini percaya akan datangnya penghakiman Allah, karena dunia ini sudah jahat dan akan digantikan oleh dunia barn. Dalam dunia barn itu, yang balk akan dianugerahi kebakaan dan yang jahat akan dihukum.

Menurut pandangan aliran ini, Kerajaan Allah adalah sebuah kenyataan pada akhir zaman. Dunia ini atau zaman ini sudah terlalu jahat dan jelek. Setelah zaman yang jahat ini hilang lenyap dibinasakan oleh Allah, maka Kerajaan Allah akan menjadi kenyataan di bumi baru dan langit baru yang dijadikan Allah.

c.       Kerajaan Allah Menurut Pandangan para Rabi

Allah sekarang sudah meraja secara hukum, sedangkan di akhir zaman Allah menyatakan kekuasaan-Nya sebagai Raja semesta alam dengan menghakimi dan menyatakan kepada sekalian bangsa. Bangsa Israel yang dikuasai oleh orang-orang kafir (karena dijajah oleh bangsa Romawi yang dianggap kafir) merupakan akibat dari dosa-dosanya. Jika bangsa Israel melakukan hukum Taurat, maka penjajah akan dipatahkan. Karena itu, mereka yang sekarang taat pada hukum aurat sudah menajdi warga Kerajaan Allah. Tetapi, jika tidak melakukan hukum Taurat, maka bangsa Israel akan terus dijajah dan diperintah oleh kaum kafir

B.    Gambaran Kerajaan Allah Dalam Terang

B. Gambaran Kerajaan Allah Dalam Terang 

1.      Arti dan Makna Kerajaan Allah dalam Injil Matius 25:31-45.

Bacalah kutipan Injil di bawah ini, kemudian dalamilah makna Kerajaan Allah bagi hidupmu, sesuai dengan isi perikop bacaan Matius 25: 39 – 45 

2.      Kerajaan Allah yang Diwartakan Yesus

Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus lebih mirip dengan pandangan para rabi dan para nabi. Allah mulai meraja, terutama dalam diri Yesus, dan akan mencapai kepenuhan-Nya pada akhir zaman. Ketika Yesus berkeliling di Palestina untuk mewartakan Kabar Baik dan melakukan berbagai perbuatan baik, termasuk mukjizat-mukjizat-Nya, menjadi nyata bahwa Kerajaan Allah sebenarnya mulai dibangun di tengah umat yang percaya.

Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus secara singkat dapat dikatakan sebagai berikut:

·         Kerajaan Allah adalah Allah yang meraja atau memerintah. Oleh karena itu, manusia harus mengakui kekuasaan Allah dan menyerahkan diri (percaya) kepada-Nya, sehingga terciptalah kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian.

·         Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus akan mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Di akhir zaman itulah, Allah benar-benar akan meraja. Dalam rangka ini, Kerajaan Allah terkait dengan penghakiman terakhir dan ukuran penghakiman adalah tindakan kasih. Mereka yang melaksanakan tindakan kasih masuk ke dalam Kerajaan Allah (bdk. Mat 25:31-45).

·         Kerajaan Allah yang mencapai kepenuhannya pada akhir zaman itu kini sudah dekat, bahkan sudah datang dalam sabda dan karya Yesus. Oleh karena itu, orang harus menanggapinya dengan bertobat dan percaya kepada warta yang dibawa oleh Yesus.

·         Kerajaan Allah adalah kabar mengenai masa depan dunia, di mana yang mis­kin tidak lagi miskin, yang lapar akan dipuaskan, yang tertindas tidak akan menderita lagi, yang tertawan akan dibebaskan. Namun, untuk mencapai masa depan yang demikian perlu perjuangan. Itulah sebabnya,Yesus terus-menerus berjuang supaya hal itu benar-benar terwujud. Selama hidup-Nya, Yesus terus-menerus berjuang supaya hal itu benar-benar terwujud. Seluruh hidup Yesus sampai la mengor­bankan hidup-Nya di kayu salib adalah untuk mewujudkan Kerajaan Allah, se­hingga orang benar-benar meng­alami damai sejahtera, sukacita, keadilan, dan kebenaran.

·         Perjuangan Yesus itu belum selesai, Yesus memberi tu­gas kepada para pengikut­Nya untuk melanjutkan per­juangan itu, agar Allah sungguh-sungguh meraja.

 

II.       YESUS MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH 

A.    Pewartaan Yesus Tentang Kerajaan Allah

Dalam mewartakan Kerajaan Allah, Yesus kerapkali memakai perumpamaan, yaitu cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari untuk menyampaikan suatu kebenaran, khususnya tentang Kerajaan Allah. Dengan perumpamaan itu, para pendengar lebih mudah menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh Yesus. Perumpamaan membuat orang tertantang untuk mencari dan menemukan pesan yang berkaitan dengan Kerajaan Allah. Perumpamaan-perumpamaan Yesus me­ngenai Kerajaan Allah mau menyampaikan hal-hal berikut:

1.      Kerajaan Allah Sudah Dekat

Yesus mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, bahkan sudah datang, terutama dalam diri Yesus. Ketika Yesus berkeliling Palestina untuk mewartakan Kabar Baik, sebenarnya Kerajaan Allah mulai tampak di tengah-tengah umat­Nya (lih. Luk 10: 23-24).                                                                                         

Pewartaan Kerajaan Allah yang sudah dekat itu terungkap dalam perumpama­an tentang Pohon Ara (lih. Mrk 13: 28-32). Dekatnya Kerajaan Allah membawa nada ancaman dalam perumpamaan tentang orang yang menghadap hakim (lih. Luk 12: 57-58) untuk menuntut kembali pinjaman dari orang yang berhutang (berdosa), maka harus segera membereskan perkara itu (bertobat) supaya jangan terlambat; penghakiman terakhir sudah diambang pintu.

Berdekatan dengan perumpamaan tentang pohon ara adalah perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (lih. Luk 16: 1-8). Perumpamaan ini antara lain man mengatakan bahwa orang harus cerdik, sebab Kerajaan Allah sudah diambang pintu untuk mengadakan pertanggungjawaban. Dekatnya Kerajaan Allah berarti juga dekatnya penghakiman Allah.

Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (lih. Luk 13: 6-9) mau menggambarkan bahwa Allah itu sesungguhnya sabar, tetapi jika pada waktunya orang tidak menghasilkan buah pertobatan (bdk Luk 3: 8-9), maka penghakiman akan mendatangi orang itu.

Penghakiman Allah akan datang secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka (lih. Mat24: 50). Hal ini diilustrasikan dalarn perumpamaan tentang pencuri yang datang pada waktu ma lain di saat yang tidak diketahui (lih. Mat 24: 43-44). Kedatangan Kerajaan Allah dan penghakiman yang tidak tersangka-sangka itu terungkap dalam perumpamaan tentang gadis yang bijaksana dan gadis yang bodoh. 

2.      Kerajaan Allah berarti Allah Mulai Memerintah

Kerajaan Allah berarti Allah yang memerintah sebagai raja. Allah yang memerintah dilukiskan oleh Yesus sebagai Bapa. Allah itu sungguh-sungguh Bapa yang baik hati dan suka mengampuni. Dalam perumpamaan domba yang hilang (lih. Luk 15: 3-7), Yesus menggambarkan Allah yang suka mengampuni. Dalam perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur (lih. Mat 20:1-5), Allah digam­barkan sebagai “Bapa keluarga” yang baik hati terhadap orang-orang yang tidak berjasa. Orang yang dimaksud adalah “pemungut cukai, pelacur, dan orang ber­dosa” yang bertobat dan atas dasar kebaikan Allah menerima pemerintahan-Nya.

Dalam perumpamaan anak yang hilang atau Bapa yang mengasihi anak yang hilang (lih. Luk 15: 11-32) mau menunjukkan balas kasih dan kasih Allah terhadap orang berdosa dan sukacita-Nya karena mereka bertobat. Perumpamaan ini juga sekaligus berisi kritik terhadap orang Farisi (yang dilambangkan anak yang sulung) yang membanggakan jasanya, tetapi tidak mengerti sikap hat] Bapa. Ketiga per­umpamaan dalam Luk 15: 1-32 (domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang) mau menekankan sukacita Allah yang menyambut orang berdosa yang bertobat ke dalam Kerajaan-Nya. 

3.      Kerajaan Allah Menuntut Sikap Pasrah (Iman) Manusia Kepada Allah

Allah meraja dengan kasih. Oleh sebab itu, manusia dituntut sikap pasrah, dan sikap iman kepada Allah. Allah menjadi harapan, sandaran, dan andalan bagi manusia. Manusia tidak boleh mengandalkan hal-ha1 lain, seperti harta, kekuasaan, bahkan dirinya sendiri.

Yesus menentang orang-orang Farisi karena mereka terlalu mengandalkan jasa jasa dan kekuatan diri mereka. Yesus memuji orang-orang miskin dan men­derita sebagai yang “berbahagia”, karena dalam kemiskinannya itu mereka hanya mengandalkan Allah dan mempercayakan diri pada Allah. Yesus tentu saja tidak mendukung kemiskinan, bahkan Ia memperjuangkan kesejahteraan lahir batin bagi umat. Yesus mengecam ketidakadilan yang dilakukan oleh para petinggi peme­rintahan dan agama.

Yesus tidak menyapa berbahagia kepada orang-orang yang saleh dan taat pada Taurat seperti kaum Farisi, sebab mereka mengandalkan dirinya sendiri. Yesus menyapa orang miskin dan menderita, sebab mereka hanya mengandalkan Allah. Baca perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah (Luk 18: 9-14). 

4.      Kerajaan Allah itu Suatu Karunia

Kerajaan Allah adalah karunia dari Allah, bukan hanya jasa manusia. Dengan kata lain, pemerintahan Allah tidak ditegakkan atau diwujudkan hanya oleh daya upaya manusia. Kerajaan Allah sebagai karunia Allah ini diilustrasikan dalam perumpamaan “benih yang tumbuh” (Mrk 4: 26-29); “ragi” (Mat 13: 33 dst), “biji sesawi” (Mat 13: 31-32), dan “penabur” (Mrk 4: 1-9).

Titik perbandingan dalam perumpamaan-perumpamaan tersebut terletak pada keajaiban bahwa “benih” itu tumbuh, menjadi pohon besar, dan menghasilkan buah berlimpah, walaupun banyak rintangan. Demikianlah juga tentang Kerajaan Allah, biarpun banyak rintangannya (penabur), KerajaanAllah dengan kekuatannya sendiri (benih dan ragi) akan diwujudkan dan menghasilkan buah berlimpah. Kerajaan Allah sebagai karunia Allah harus diperjuangkan clan dikembang­kan oleh manusia sebagai nilai yang paling tinggi. Karena itu, manusia yang telah memperolehnya patut bergembira dan bersedia memperjuangkan dan mengem­bangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diilustrasikan dalam perumpama­an tentang “harta yang terpendam dan mutiara yang berharga” (Mat 13: 44-46). Fokus perumpamaan ini terletak dalam ayat 44 yaitu kegembiraan menemukan “harta terpendam”. Dengan usaha yang tidak mengenal lelah, akhirnya harta itu ditemukan sehingga mendatangkan kegembiraan luar biasa bagi yang empunya. “Harta terpendam” ini menggambarkan sesuatu yang sangat bernilai, yakni Ke­rajaan Allah. Orang dengan gembira hati mengorbankan segala sesuatu demi Kerajaan Allah yang paling berharga dan bemilai. 

B.     Perbuatan-Perbuatan Yesus Dalam Rangka Memperjuangkan Kerajaan Allah

Yesus memaklumkan dan memperjuangkan Kerajaan Allah dengan perkataan dan perbuatan. Perkataan dan perbuatan tersebut dalam hidup Yesus merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan (lih. Mat 11: 4-6). Perkataan atau sabda Yesus menjelaskan atau menerangkan perbuatan-perbuatan Yesus supaya per­buatan itu dapat ditangkap maksudnya, sedangkan perbuatan-perbuatan mewujud­nyatakan perkataan-perkataan Yesus, sehingga kata-kata Yesus bukanlah kata­kata kosong, tetapi kata-kata yang penuh kuasa dan arti. Maka dalam kesempatan ini akan dijelaskan mengenai perjuangan Yesus melalui perbuatan.

1.      Yesus Mengadakan Mukjizat-Mukjizat

Yesus mewartakan Kerajaan Allah tidak hanya dengan sabda-sabda-Nya, tetapi juga melalui mukjizat-mukjizat. Mukjizat yang dimaksudkan adalah kejadian atau perbuatan luar biasa yang bagi orang percaya menangkapnya sebagai per­nyataan kekuasaan Allah Penyelamat. Dengan mukzijat itu, Allah menyatakan kekuasaan penyelamatan-Nya.

Mukjizat hanya sebagai tanda bagi orang yang percaya, yaitu tanda kemurahan hati Tuhan (Yesus), sedangkan bagi yang tidak percaya adalah suatu pertanyaan. Mukjizat-mukjizat Yesus itu mau menunjukkan:

a.      Yesus menghubungkan mukjizat-mukjizat-Nya dengan pemberitaan tentang Kerajaan Allah. Di luar itu, Yesus tidak pernah membuat mukjizat. Itulah sebabnya, Yesus menolak membuat tanda/mukzijat di hadapan pejabat atau orang banyak untuk melegitimasikan diri-Nya sebagai yang berasal dari Allah (Mat 16: 1; Luk 11: 16-29).

b.      Dasar dan motif mengadakan mukjizat adalah pemberitaan tentang Kerajaan Allah. Pemberitaan tentang Kerajaan Allah hanya ditujukan kepada orang miskin dan tertindas. Karena itu, mukjizat-mukjizat Yesus justru teriuju ke­pada orang yang malang, sakit dan di bawah kuasa kejahatan. Mukjizat-muk­jizat itu menyatakan bahwa Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus dan yang membebaskan orang dari kuasa jahat, benar-benar bagi mereka.

c.       Mukjizat-mukjizat Yesus mempunyai arti mesianis. Artinya, mukjizat-muk­jizat Yesus mau menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nanti­kan. Mukjizat-mukjizat yang dikerjakan Yesus merupakan tanda dari Kerajaan Allah yang sudah datang. MeIalui penyembuhan orang sakit dan pengusiran roh-roh jahat menajdi nyata bahwa zaman Mesias sudah dimulai. Hal ini juga menjadi jelas ketika Yohanes bertanya apakah Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Yesus memberi jawaban dengan berkata : “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar : Orang buta melihat, orang bisu mendengar, orang mati dibangkitkan, orang kusta menjadi tahir dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11:4-5).

d.     Mukjizat-mukjizat Yesus menyatakan solidaritas Allah dengan manusia yang miskin dan menderita serta kerasukan roh jahat. Allah menyatakan diri setia kawan dengan orang yang sakit dan kerasukan setan. Dengan demikian, mukjizat Yesus juga menjadi tanda bahwa Yesus datang untuk menampakkan kebaikan hati Allah, supaya yang menderita tidak menderita, supaya yang dibawah kuasa setan dibebaskan dan yang sakit disembuhkan.

2.      Yesus Bergaul dengan Semua Orang : Tanda Cinta-Nya yang Universal

Yesus dekat dengan semua orang, maka Ia j uga sangat terbuka terhadap semua orang. la bergaul dengan semua orang. la tidak mengkotak-kotakkan dan membuat kelas-kelas di antara manusia. Yesus tidak pernah hanya dekat dengan sekelompok orang clan menyingkirkan kelompok yang lainnya. Yesus akrab dengan semua orang (lih. Yoh 7: 42-52) dan penguasa, bahkam penjajah (lih. Mrk 7: 1-10) yang beritikad baik. Yesus pun akrab dengan para pegawai pajak yang korup (lih. Luk 19: 1-10), dengan wanita tuna susila (lih. Luk 7: 36-50), dan para penderita penyakit berbahaya yang dikucilkan.

Pergaulan Yesus dengan orang-orang yang berdosa dan najis sering dipandang oleh kaum Farisi amat tidak sesuai dengan adat sopan santun dan peraturan agama yang berlaku pada saat itu.

 

3.      Yesus Membebaskan Orang-Orang dari Beban Legalisme

Yesus sering dikecam oleh lawan-lawannya sebagai orang yang suka berpesta pora, suka makan dan minum, tidak berpuasa, dan tidak menghiraukan banyak ketentuan hukum Taurat lainnya.

Yesus memaklumkan bahwa Allah itu Pembebas. Allah ingin memungkin­kan manusia mengembangkan diri secara lebih utuh dan penuh. Segala hukum, peraturan, dan perintah harus diabdikan kepada tujuan memerdekaan manusia. Maksud terdalam setiap hukum adalah membebaskan (atau menghindarkan) manu­sia dari segala sesuatu yang dapat menghalangi manusia berbuat baik. Begitu pula, tujuan hulcum Taurat.

Sikap Yesus terhadap hukum Taurat dapat diringkas dengan mengatakan bahwa Yesus selalu memandang hukum Taurat dalam terang hukum kasih. Yesus menolak hukum Taurat yang sudah dimanipulasi dan ditafsirkan secara keliru. 

4.      Yesus Memanggil Pengikut-PengikutNya

Untuk mewartakan Kerajaan Allah, Yesus memanggil dan mengutus murid­murid-Nya. Mereka dituntut memiliki keterlibatan yang radikal. Orang-orang yang dipanggil Yesus harus:

a.      Segera meninggalkan segala-galanya;

b.      Belajar dan hidup dekat dengan Yesus;

c.       Siap diutus;

d.     Siap menderita.

 

C.    Nilai-Nilai Duniawi dan Nilai-Nilai Kerajaan Allah

1.      Uang/Harta dan Kerajaan Allah

Uang, harta, dan kekayaan pasti mempunyai nilai, maka kita harus berusaha untuk memilikinya. Namun, kita yang harus menguasai harta, bukan harta yang menguasai kita. Uang, harta, dan kekayaan tidak boleh dimutlakkan, sehingga menghalangi kita untuk mencapai nilai-nilai yang lebih luhur, yakni Kerajaan Allah. Jika kita hanya terobsesi dan bernafsu untuk mengutamakan kekayaan, maka kita sudah mendewakan harta.

Nafsu (ambisi) untuk mengumpulkan uang atau kekayaan agaknya berten­tangan dengan usaha mencari Kerajaan Allah. Betapa sulitnya orang kaya masuk dalam Kerajaan Allah, seperti halnya seekor unta masuk ke dalam lubang jarum (bdk. Mrk 10: 25). Maksudnya, Yesus mendorong agar orang tidak terbelenggu uang/harta dan kekayaan. Yesus mendorong agar orang kaya memiliki semangat solidaritas terhadap orang miskin dan menderita clan suka membatu mereka dengan kekayaannya.

Yang dituntut oleh Yesus bukan hanya sekedar derma, melainkan usaha nyata dari orang kaya untuk membebaskan orang dari kemiskinan dan penderitaan. 

2.      Kekuasaan dan Kerajaan Allah

Kekuasaan itu sangat bernilai. Namun, orang tidak boleh memutlakkannya sehingga usaha kita membangun Kerajaan Allah terhalang. Ada dua cara yang sangat berbeda dalam mengerti dan melaksanakan kekuasaan. Yang satu adalah penguasaan, yang lain adalah pelayanan. Kekuasaan dalam Kerajaan Allah tidak mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.

Kebanyakan pemimpin Yahudi (imam-imam kepala, tua-tua, ahli kitab, dan orang Farisi) kebanyakan adalah penindas. Kekuasaan sering membuat mereka menguasai dan menindas orang lain (terlebih yang lemah) dengan memanipulasi hukum taurat.

Yesus tidak menentang hukum Taurat sebagai hukum. Tetapi, Yesus menentang cara orang menggunakan hukum dan sikap mereka terhadap hukum. Para ahli kitab dan orang-orang farisi telah menjadikan hukum sebagai beban, padahal seharusnya merupakan pelayanan (bdk. Mat 23:4; Mrk 2:27). Yesus juga menolak setiap hukum dan penafsiran yang digunakan untuk menindas orang. Menurut Yesus, hukum harus berciri pelayanan, belas kasih, clan cinta. Dalam Kerajaan Allah, kekuasaan, wewenang, dan hukum melulu fungsional. 

3.      Kehormatan/gengsi dan Kerajaan Allah

Kehormatan atau gengsi adalah nilai yang sangat dipertahankan orang. Gengsi dan kedudukan sering dianggap lebih penting daripada segala sesuatu. Orang akan memilih bunuh diri atau berkelahi sampai mati daripada kehilangan gengsi atau harga dirinya. Kedudukan dan gengsi/harga diri sering didasarkan pada keturunan, kekayaan, kekuasaan, pendidikan, dan keutamaan. Akibat adanya gengsi clan kedudukan inilah masyarakat dapat terpecah-pecah di dalam kelompok-kelompok. Ada kelompok yang memiliki status sosial tinggi dan ada kelompok yang melmiliki status sosial rendah. Sebenarnya, siapa saja yang begitu lekat pada gengsi dan harga diri tidak sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang dicanangkan oleh Yesus.

Yesus mengatakan: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga (Allah)? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini; kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga” (Mat 18: 1-4,. Anak adalah perumpamaan mengenai “kerendahan” sebagai lawan dari kebesaran, status, gengsi, dan harga diri. Ini tidak berarti bahwa hanya orang-orang dalam kel as tertentu yang akan diterima dalam Keraj aan Allah. Setiap orang dapat masuk ke dalamnya jika la man berubah dan menjadi sepenti anak kecil (Mat 18: 3;, menjadikan dirinya kecil seperti anak-anak kecil (Mat 18: 4).

Kerajaan yang diwartakan dan dikehendaki oleh Yesus adalah suatu masyara­kat yang tidak membeda-bedakan lebih rendah atau lebih tinggi. Setiap orang akan dicintai dan dihormati, bukan karena pendidikan, kekayaan, asal usul, ke­kuasaan, status, keutamaan, atau keberhasilan-keberhasilan lain, tetapi karena ia adalah pribadi yang diciptakan Allah sebagai citra-Nya.

4.      Solidaritas dan Kerajaan Allah

Perbedaan pokok kerajaan di.tnia dan Kerajaan Allah bukan karena keduanya mempunyai bentuk solidaritas yang berbeda. Kerajaan dunia sering dilandaskan pada solidaritas kelompok yang eksklusif (suku, agama, ras, keluarga, dan sebagai­nya) dan demi kepentingan sendiri. Sementara, Kerajaan Allah dilandasi solidaritas yang mencakup semua umat manusia. “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesama manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5: 43-44). Dalam kutipan ini, Yesus memperluas pengertian “saudara”. Saudara tidak hanya teman, tetapi juga mencakup musuh: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah untuk orang yang mencdci kamu” (Luk 6: 27-28). “Dan jika kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka” (Luk 6: 32).

Solidaritas kelompok (mengasihi orang yang mengasihi kamu) bukanlah solidaritas menurut Yesus. Solidaritas yang dikehendaki oleh Yesus adalah soli­daritas terhadap semua orang tanpa memandang bulu, termasuk juga musuh. 

 

III.   SENGSARA, WAFAT DAN KEBANGKITAN YESUS 

A.    Latar Belakang dan Sebab-Sebab Sengsara dan Wafat Yesus

Untuk memahami peristiwa Yesus dihukum mati dan menjalani hukuman mati, ada baiknya kita mengamati dua hal berikut ini :

1.      Konteks sosial menjelang penyaliban Yesus

2.      Mereka yang berperan dalam penyaliban Yesus 

1.      Konteks Sosial Menjelang Penangkapan, Pengadilan, dan Penyaliban Yesus

a.      Konteks Perayaan paskah

Perayaan Paskah merupakan pesta bangsa Israel untuk memperingati peristiwa pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Perayaan ini berlangsung selama tujuh hari, menajdi pekan roti tak beragi. Bangsa Israel menghayati peristiwa pembebasan dari Mesir sebagai keterlibatan Allah dalam hidup mereka. Pada perayaan Paskah itu, seluruh rakyat terlibat dengan cara berziarah ke Yerusalem. Maka, Yerusalem dipadati oleh rakyat yang akan merayakan Paskah.

Dalam rangka perayaan Paskah tersebut, Yesus dan murid-murid-Nya juga pergi ke Yerusalem. Dalam situasi Paskah Yahudi itulah, terjadi peristiwa besar yang menimpa diri Yesus. Ia ditangkap, diadili, dan disalibkan. Pengadilan dan penyaliban Yesus diwarnai oleh berbagai isu yang berkembang pada waktu itu.

b.      Pemberontakan terhadap Pemerintah Roma

Biasanya, dalam setiap perayaan paskah, tentara Roma juga selalu siap siaga untuk menghadapi kemungkinan yang tidak diinginkan, misalnya kekacauan. Pada masa Yesus, situasi Palestina tidaklah tenteram. Selalu ada usaha-usaha untuk melawan pemerintah Romawi.

Pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah dan pernyataan diri-Nya sebagai Mesias dapat menubuhkan harapan bangsa Yahudi akan datangnya Mesias. Harapan ini akan mendorong mereka untuk memberontak. Dengan demikian, tindakan Yesus dapat menumbuhkembangkan pemberontakan politis seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Zelot. Hal itulah yang dijadikan alasan oleh para pemuka agama Yahudi untuk menghukum Yesus dan menghadapkan-Nya pada Ponsius Pilatus.

Dalam peristiwa penangkapan dan pengadilan terhadap Yesus, pasukan Romawi diperalat oleh para pemuka agama yang mengisyaratkan bahwa Yesus dan pengikut-Nya termasuk dalam kelompok orang yang mau memberontak. Markus menceritakan, “Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan” (bdk. Mrk.15:7)

c.       Munculnya Mesias-Mesias Palsu

Pada masa kehidupan Yesus telah muncul beberapa orang yang diyakini oleh orang-orang Yahudi sebagai Mesias. Mereka dipandang sebagai Mesias seperti diramalkan oleh nabi Yesaya. Nabi Yesaya bernubuat bahwa Allah akan mengangkat seorang keturunan Daud untuk naik takhta kerajaan. Orang-orang yang dianggap memenuhi nubuat nabi Yesaya pada masa itu antara lain Yudas dari Galilea dan Simon dari Bar Kokhba.

Munculnya mesias-mesias itu selalu diwaspadai oleh pemerintah Roma. Se­bab, biasanya setelah seorang mesias mulai muncul, maka akan disusul adanya pemberontakan. Mesias-mesias yang ada menjadi biang kerusuhan.

Injil dengan jelas membedakan antara Yesus dan orang-orang yang dianggap mesias itu. Ha1 ini sungguh-sungguh diketahui oleh Pilatus dan orang-orang Ro­mawi lainnya. Oleh karena itu, dalam proses pengadilan yang dipimpinnya, Pilatus berusaha membebaskan Yesus. Pilatus mengetahui bahwa tindakan Yesus berkaitan dengan hidup keagamaan clan bukan politis. Tindakan Pilatus semakin jelas dengan tawarannya untuk membebaskan Yesus atau Barabas.

Namun, orang Yahudi tidak mau mengambil risiko dengan Yesus itu. Yesus pernah membuat kehebohan di Bait Allah. Kalau terjadi lagi, pasukan Romawi dapat menyerbu Bait Allah. Padahal; banyak penduduk Yerusalem menggantung­kan hidupnya pada BaitAllah. BaitAtlah sebagai tempat ziarah merupakan sumber naflcah bagi mereka. Maka lebih baik mereka memilih Barabas untuk dibebaskan. 

2.      Mereka yang Berperan dalam Peristiwa Pengadilan dan Penyaliban Yesus

a.      Para Petinggi Agama

Warta dan tindakan Yesus memang barn, rnerombak agama Yahudi. Hal ini jelas tidak disukai oleh para pemuka agama. Para pemuka agama itu beranggapan bahwa hanya agama yang menjamin kelangsungan bangsa. Barangsiapa merong­rong agama dianggap membahayakan bangsa. Perubahan agama dianggap dapat menimbulkan murka Allah. Jika Allah murka maka habislah riwayat bangsa Yahudi.

Yesus berasal dari “udik”, dari suku yang agamanya tidak kokoh. “Tidak ada nabi yang berasal dari Galilea!” Yesus tidak berijazah, tidak berpendidikan, dengan hak apakah la mengutik-utik Kitab Suci? Yesus tidak mempunyai backing, ke­luarganya sederhana, teman-temannya rakyat jelata, sekelompok orang yang tidak mempunyai wewenang agama sedikit pun juga. Apa yang dibuat oleh Yesus, se­hingga bermacam-ma.cam tuduhan dilemparkan kepada-Nya oleh para ahli Taurat dan kaum Farisi?

·         Yesus bergaul dengan sampah masyarakat:

Ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa ia makan dengan pe­mungut bea cukai dan orang berdosa.

·         Yesus dianggap melanggar hukum Taurat:

Yesus menyatakan semua makanan halal; Ia menyentuh orang kusta; Ia tidak berpuasa.

·         Yesus dianggap melanggar adat saleh:

Yesus berbicara dengan perempuan kafir; Ia membela wanita pezinah; Ia makan dengan tangan najis.

·         Yesus dianggap melanggar Sabat:

Yesus berkata: “Hari Sabat diadakan untuk manusia clan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2: 27)

·         Yesus dianggap mencampuri urusan para pemuk, agama:

Imam Agung bertanggung jawab atas Bait Allah. Tetapi, Yesus mengusir para pedagang di Bait Allah, padahal Dia dianggap tidak mempunyai hak apa-apa terhadap urusan Bait Allah. Yesus dianggap berani mengatakan bahwa Ia mengerti apa yang dikehendaki Allah, bahwa ia mengenal Allah lebih daripada para nabi dahulu, lebih daripada Musa. Di mata para petinggi agama, Yesus dianggap provokator.

 

b.      Para Petinggi Pemerintahan

Pada masa Yesus, situasi Palestina tidak aman/tenteram, karena selalu ada usaha-usaha untuk melawan pemerintahan Romawi. Pewartaan Yesus tentang Ke­rajaanAllah dan pernyataan diri-Nya sebagai Mesias dapat menumbuhkan harapan bangsa Israel akan datangnya Mesias. Harapan ini akan mendorong mereka untuk memberontak. Dengan demikian, tindakan Yesus dianggap dapat menumbuhkan pemberontakan politis seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Zelot. Hal itulah yang telah dijadikan alasan para pemuka agama Yahudi untuk menghukum Yesus dan menghadapkan-Nya pada Pilatus.

Dalam peristiwa penangkapan dan pengadilan terhadap Yesus, pasukan Romawi diperalat oleh para pemuka agama bahwa Yesus dan pengikut-Nya termasuk dalam kelompok orang yang mau memberontak. Markus menceritakan : “Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan” (Mrk. 15:7).

Keributan di Bait Allah ketika Yesus dan murid-murid-Nya menghalau para pedagang mungkin membuat pemerintahan kolonial Romawi mencurigai Yesus. Ketiga bangsa-Nya sendiri menyerahkan Yesus, pemerintah Romawi rupanya tidak terlalu berkeberatan untuk mengamankan dan membebaskan dia dari segala tuduhan. 

c.       Vonis Hukuman Mati untuk Yesus

Seluruh majelis agama menolak Yesus. Dengan suara bulat, mereka memutus­kan untuk memberikan hukuman mati terhadap Yesus. Imam Agung, pemimpin yang dipilih Allah untuk menggembalakan umat-Nya, membuang Yesus.

Ponsius Pilatus, gubernur sipil menghukum Yesus. Nlurid-murid dan teman­teman Yesus tidak seorang pun membela-Nya. Mereka semua meninggalkan Yesus dan membiarkan Dia dihukurn mati disalib. Menurut keyakinan Yahudi, mati di­salib merupakan tanda bukti bahwa seseorang dibuang oleh Allah sendiri.

Hukuman mati disalib itu lebih daripada mencabut nyawa saja. Mati di kayu salib berarti: dibuang oleh bangsanya dan dikutuk oleh Allah. Mayat seorang terhukum harus lekas-lekas dikuburkan, karena dianggap mengotori dan menajis­kan tanah yang diberikan Allah. 

B.     Kisah Sengsara dan Wafat Yesus

Kisah sengsara dan wafat Yesus yang disampaikan oleh Lukas dalam Injilnya sangat khas. Kesengsaraan Yesus disampaikan Lukas berpangkal dari hasil peng­alaman kehidupannya sebagai murid Yesus. Lukas adalah salah seorang murid Yesus yang menyampaikan hasil perenungan perjalanan terakhir hidup Yesus.

1.      Penangkapan Yesus di Taman Getsemani

Yesus mengetahui bahwa la akan mengalami kesengsaraan sebagai konse­kuensi dari pewartaan-Nya yang dianggap mengganggu gugat kemapanan banyak pihak. Di taman Getsemani, Yesus secara khusus mempersiapkan penderitaan yang akan ditanggung-Nya. Ia berdoa kepada Bapa-Nya. Sebagai manusia biasa, Yesus merasakan ketakutan yang luar biasa sehingga la berseru, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi bukanlah kehendak­Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22: 42).

Kebiasaan Yesus untuk berdoa telah diketahui oleh para murid-Nya. Yudas juga mengetahuinya. Maka, Yudas memanfaatkan kebiasaan Yesus yang berdoa di tempat-tempat yang sepi sebagai kesempatan untuk znenyerahkan-Nya kepada orang yang akan membayarnya. Setelah Yesus selesai berdoa, Yudas datang ke taman itu bersama orang banyak. Yesus ditangkap bagaikan seorang perampok atau penjahat. Penangkapan Yesus ini menjadi awal penderitaan yang dijalani­Nya. Lukas mencatat: “Dan orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olok Dia dan rnemukul-Nya” (Luk 22: 63). 

2.      Yesus Diadili oleh Pengadilan Agama

Dari taman Getsemani, Yesus dibawa ke rumah imam besar. Yang menjabat imam besar pada waktu itu adalah Kayafas. Kayafas bersama mertuanya, Hanas, melakukan pemeriksaan terhadap Yesus. Di ternpat Imam besar, Yesus diolok­-olok dan dipukuli oleh orang-orang yang menahan-Nya. Imam besar banyak bertanya kepada Yesus tentang murid-murid-Nya dan ajaran-Nya. Yesus memberi­kan tanggapan-Nya. “Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu meng­ajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi ber­kumpul; Aku tidak pernah bicara sembunyi-sembunyi” (Yoh 18: 20).

Tanggapan Yesus ini tentu saja sangat menjengkelkan mereka yang mengikuti pemeriksaan itu. Mereka sebenarnya mau menjebak Yesus untuk menemukan kesalahan yang dapat menjadi alasan menghukum Dia. Mereka mau menjebak Yesus dengan soal Bait Allah.

Mereka selama ini tidak menyukai campur tangan Yesus, teristimewa dengan urusan Bait Allah. Yesus pernah membuat kegemparan dengan mengusir para pedagang dari Bait Allah. Bait Allah adalah pusat keagamaan bagi orang-orang Yahudi. Bagi para pemuka agama, Bait Allah menjadi pusat kekuasaan mereka dan menjadi sumber penghasilan mereka karena pajak yang mereka tarik dalam bentuk pajak keagamaan. Apabila Bait Allah hancur atau di bawah kekuasaan orang lain, mereka akan kehilangan kedudukan, jabatan, dan penghasilan. Oleh karena itu, dengan alasan mempertahankan sistem keagamaan secara nasional, mereka berusaha memprsalahkan Yesus atas tindakan-Nya terhadap Bait Allah. Namun, mereka tetap belum dapat menemukan alasan kuat untuk menghukum Yesus.

Kemudian, mereka menghadapkan Yesus ke Mahkamah Agama. Sidang Mahkamah Agama melanjutkan pemeriksaan awal yang telah dilakukan oleh imam besar. Mereka bertanya : “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami” (Luk.22:67). Pertanyaan ini sebenarnya juga merupakan pertanyaan jebakan. Para pemuka agama Yahudi mau menyudutkan Yesus untuk menunjukkan secara jelas identitas-Nya. Mereka telah mengetahui bahwa pengakuan Yesus sebagai anak Allah akan menjadi alasan yang dapat diterima semua pihak untuk menghukum Dia.

Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Dia adalah Anak Allah. Mendengar jawaban Yesus itu, maka dengan segera sidang Mahkamah Agama mengambil keputusan untuk menghukum mati Yesus, karena la telah menyatakan din sebagai Anak Allah. Yesus dianggap telah menghujat Allah. Setelah mendengar jawaban Yesus, mereka bersepakat membawa Yesus kepada Pilatus. Hal ini mereka lakukan karena mereka mengetahui hanya Pilatuslah yang dapat menentukan hukuman mati. 

3.      Yesus Diadili oleh Pengadilan Negeri

Wakil pemerintah Roma yang berkuasa pada waktu itu adalah Pontius Pilatus. DI Palestina, Pontius Pilatus tinggal di Yerusalem dalam sebuah istana yang dahulu merupakan tempat kediaman resmi raja-raja Yahudi sewaktu Yehuda masih berdiri. Di depan gedung ini terdapat serambi yang luas. Di bawah langit terbuka, di sebuah pelantaran, Yesus diadili karena orang-orang Yahudi tidak mau masuk ke dalam gedung yang mereka anggap sudah dicemarkan itu. Tuntutan mereka harus dituruti Pontius Pilatus, Yesus harus dihukum mati. Pilatus menanyakan apa yang menjadi kesalahan Yesus, tetapi tidak ditemukannya. Lalu Pilatus menyatakan kepada imam-imam kepala, para pemimpin, dan rakyat bahwa ia tidak menemukan kesalahan apa pun pada diri Yesus (lih. Luk 23: 14-16).

Meskipun mengetahui bahwa Yesus tidak bersalah, Pontius Pilatus menjatuh­kan hukuman. Pilatus membuat kompromi yang tidak adil. Pilatus akan menyesah Yesus sebelum membebaskan-Nya. Tetapi, mereka yang hadir dalam pengadiian itu berteriak-teriak menginginkan kematian Yesus. Setelah disesah, Yesus diserah­kannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya (lih. Luk 23: 25). Setelah disesah, Yesus dimahkotai duri, diludahi, dicemoohkan, disuruh memang­gul salib menuju Bukit Tengkorak, dan disalibkan di sana bersama dua orang penjahat.

 

4.      Wafat Yesus

Santo Lukas mencatat dal am Injilnya bahwa ketika mereka sampai di tempat bernama Bukit Tengkorak mereka menyalibkan Yesus di situ bersama dengan dua orang penjahat, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri­Nya. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain la selamatkan, biarlah sekarang menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika la adalah Mesias, orang yang dipilih Allah” (lih. Luk 23: 34-35).

Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkan diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegur dia, katanya: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini juga engkau ada bersama dengan Aku di dalam Firdaus” Selanjutnya, Santo Lukas menulis: Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tirai Bait Allah terbelah dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan­Mu Kuserahlcan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian, la menyerahkan nyawa-Nya. Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ, melihat apa yang terjadi, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. (Luk 23: 39-49).

Kematian Yesus menurut Lukas disertai dengan firasat alam yang sangat dahsyat. Firasat alam yang pertama yang dipaparkan oleh Lukas adalah kegelapan yang meliputi seluruh daerah itu pada tengah hari (lih. Luk 23: 44).

Kuasa kegelapan tampak seakan-akan memegang kekuasaannya atas seluruh dunia; semua cahaya dipusatkan pada salib. Kegelapan sering dihubungkan dengan rasa takut, kecemasan, dan adanya bahaya. Kegelapan Menjadi lambang ketidak­berdayaan. Peristiwa kegelapan yang terjadi saat kematian Yesus memiliki arti yang khusus, yakni sebagai wujud keterlibatan Allah atas kematian Yesus. Melalui kegelapan yang diciptakan-Nya, Allah mau menyatakan terang kehidupan baru yang akan muncul. Dari kegelapan lahirlah Mesias yang membuka sejrah keselamatan baru bagi semua bangsa di dunia.

Tanda kedua yang menyertai wafat Yesus adalah terbelahnya tirai Bait Allah menjadi dua (lih. Luk 23:45). Terbelahnya tirai Bait Allah membawa perubahan radikal. Tirai Bait Allah dimaksudkan untuk memisahkan ruang yang dikhususkan untuk para imam dan orang-orang yang percaya. Orang-orang yang dianggap tidak pantas seperti orang-orang kafir, wanita, anak-anak hanya boleh berada di halaman luar Bait Allah. Mereka tidak boleh melihat dan masuk dalam ruang kudus di Bait Allah.

Saat kematian Yesus, tirai Bait Allah terbelah dua, dari atas ke bawah. Kematian Yesus membawa kedekatan dengan manusia. Allah terbuka bagi semua bangsa. Allah adalah Allah beserta kita. Allah kita tidak tinggal di tempat terasing, dalam ruangan Bait Allah, melainkan berada di antara kita. Di puncak Golgota, di kayu salib, penyertaan Allah semakin nyata, yakni penyertaan untuk merangkum penderitaan manusia. 


C.    Makna Sengsara dan Wafat Yesus

1.      Wafat Yesus adalah Konsekuensi dari Pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah

Wafat Yesus tidak dapat dilepaskan dari seluruh perjalanan karya dan hidup­Nya. Yesus sudah mengetahui risiko penderitaan dan kesengsaraan yang.akan ditanggung-Nya. Bahkan, Yesus sudah member-itahukan kepada para murid-Nya bagaimana Ia menderita, wafat, dan disalibkan. Tugas perutusan Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah yang dilaksanakan melalui sabda dan tindakan­-tindakan-Nya akan membawa diri-Nya pada penderitaan.

Pewartaan Yesus dalam sabda dan tindakan-Nya sangatlah radikal. Para penguasa, tua-tua bangsa Yahudi, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat sangat tersinggung dengan segala sepak terjang Yesus. Yesus menyadari bahwa kesaksian yang paling kuat dan paling final tentang kesungguhan-Nya mewartakan Kerajaan Allah ialah kesiapan-Nya untuk mati demi pewartaan-Nya itu. Andaikata Yesus lari dari risiko atas pewartaan-Nya, tentu seluruh pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah tidak akan dipercayai lagi. Maka, Yesus harus menghadapi risiko pewartaan­Nya dengari tegar hati. Yesus yakin bahwa dengan sikap-Nya yang konsekuen dan berani menghadapi maut akan memberanikan semua murid dan pengikut-­pengikut-Nya untuk di kemudian hari mewartakan dan member-ikan kesaksian tentang Kerajaan Allah, walaupun harus mempertaruhkan nyawa-Nya 

2.      Wafat Yesus sebagai Tanda Ketaatan dan Kesetiaan-Nya pada Bapa

Yesus menerima semua yang terjadi atas diri-Nya dengan rela, karena itulah yang dikehendaki oleh Allah dalam rencana penyelamatan-Nya. Yesus memandang kematian-Nya bukan sebagai nasib, melainkan sebagai kurban yang mengukuhkan Perjanjian Baru antara Allah dan umat manusia seluruhnya. Para murid Yesus diberi teladan untuk mempertaruhkan nyawa sebagai wujud kesetiaan terhadap Kerajaan Allah.

Tugas untuk mewartakan Keraj aan Allah menuntut kesetiaan dengan taruhan nyawa. Oleh karena itu, peristiwa salib yang membawa kematian Yesus bukanlah kegagalan. Peristiwa salib justru merupakan tahap yang menentukan dalam karya penyelamatan Allah. Wafat Yesus menjadi peristiwa penyelamatan yang memba­harui hidup manusia, karena setelah wafat-Nya, Allah tidak meninggalkan Dia. Yesus dibangkitkan dari kematian. Wafat Yesus rnemperlihatkan cinta kasih Allah kepada manusia.

Yesus menyadari bahwa kematian adalah bagian dari rencana Bapa-Nya. Sabda yang dinyatakan-Nya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4: 34). Yesus setia kepada kehendak Bapa-Nya, Ia taat sampai mati. Yesus mengganti ketaatan-Nya untuk ketidaktaatan kita. “Jadi, sama seperti ketidaktaatan satu orang, semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang, semua orang menjadi orang yang benar” (Rm 5: 19).

Dengan ketaatan-Nya sampai matt, Yesus menyelesaikan tugas-Nya sebagai hamba yang menderita; seperti yang dikatakan dalam Yes 53: 10-12. 

3.      Wafat Yesus adalah Tanda Solidaritas-Nya dengan Manusia

Wafat Yesus “untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan” (1 Kor 1: 23). Tetapi menurut Paulus, bagi arang-arang yang percaya akan Allah, peristi-wa Yesus disalibkan mempunyai arti baru. Untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang yang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmah Allah. Sebab, yang bodoh dari Allah lebih besar hikmahnya daripada manusia (1 Kor 1: 24-25). Dalam diri Yesus yang wafat disalibkan itu Allah berkarya.

Dalam peristiwa salib, kita dapat mengenal penyertaan Allah dalam hidup manusia. Allah yang berbelas kasih tidak pernah meninggalkan manusia. Sekalipun manusia mengalami kesengsaraan dan penderitaan, Allah tetap menjadi Allah beserta kita (Emmanuel). Kesengsaraan dan wafat Yesus menjadi tanda agung kehadiran Kerajaan Allah karena memberi kesaksian tentang Allah yang sebenarnya, yakni Allah yang Mahakasih.

Allah dalam diri Yesus telah solider dengan manusia. Ia telah senasib dengan manusia sampai kepada kematian, bahkan kematian yang paling hina. Tidak ada wujud solidaritas yang lebih final dan lebih hebat daripada kematian Yesus. Yesus rela mati disalib di antara dua penjahat. Ia telah menjadi manusia, sama dengan kaum tersisih dan terbuang. 

4.      Penampakan-Penampakan Yesus

Tanda lain akan kebangkitan Yesus adalah penampakan. Orang-orang pertama yang bertemu dengan Yesus yang telah bangkit adalah Maria dari Magdala dan wanita-wanita saleh yang datang ke makam untuk meminyaki jenazah Yesus (lih. Mrk 16: 1) yang dengan tergesa-gesa dimakamkan pada hari Jumat, karena hari Sabat sudah tiba. Dengan demikian, para wanita itu merupakan orang-orang pertama yang membawa berita tentang kebangkitan Yesus. Sesudah itu, Yesus menampakkan diri kepada para rasul, lebih dahulu kepada Petrus, kemudian kepada kedua belas murid-Nya.

1.      Tiga unsur pokok dalam penampakan Yesus

Ada tiga unsur pokok yang nyata di dalam penampakan-penampakan Yesus sebagaimana disampaikan kepada kita melalui Injil, yakni sebagai berikut:

a.      Unsur Prakarsa

Inisiatif datang dari Yesus. Yesus sendiri yang memprakarsai penampakan. Yesus “menampakkan diri” atau “memperlihatkan diri”. Istilah ini menunjukkan dua hal:

·         Pertama, sesuatu yang biasanya tidak kelihatan, kini kelihatan. Setelah bang­kit, Yesus tidak termasuk lagi pada dunia yang kelihatan. Agar dapat dilihat oleh murid-murid-Nya, Yesus harus menjadikan diri-Nya kelihatan.

·         Kedua, penglihatan para murid yang “melihat Tuhan” setelah kebangkitan­Nya bukanlah penglihatan biasa.

b.      Unsur Pengakuan

Yesus dikenal dan diakui sebagai Kristus dan Tuhan. Dia yang menampak­kan diri-Nya tidak lain dan tidak bukan adalah Yesus dari Nazareth yang wafat di kayu salib. Dia kini hidup dalam kemuliaan. Pengakuan ini diungkapkan, “Yesus bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga” (Luk 24: 46).

c.       Unsur Kesaksian

Para rasul menerima tugas dari Tuhan untuk memaklumkan ke-Tuhanan­Nya. Salah satu hal yang mencolok dalam cerita tentang penampakan ialah para murid mula-muia tidak mengenal Yesus. Mereka rnembutuhkan waktu untuk mengenal Yesus kembali. Unsur yang cukup mencolok ini mernpunyai dua arti, yakni:

·         Pertama, membuktikan bahwa penglihatan mengenai Yesus yang bangkit tidaklah diciptakan oleh daya khayal para murid sendiri, tetapi mendatangi mereka dari luar.

·         Kedua, menunjukkan betapa Yesus diperbaharui oleh kebangkitan-Nya. Ia tidak lagi persis sama seperti sebelum wafat dan bangkit. 

2.      Makna Penampakan Yesus

Apabila Yesus selama 40 hari masih menampakkan diri, maka hal ini tidak berarti bahwa la selama beberapa pekan masih meneruskan hidup-Nya yang lama. Sebab, “hidup yang lama” sudah berakhir dan diubah menjadi “hidup yang serba baru”. Arti penampakan selama 40 hari itu ialah:

·         Pertama, Yesus memperkenalkan para murid dan seluruh Gereja-Nya dengan suatu cara kehadiran yang baru. Untuk tujuan itu, penampakan selama 40 hari merupakan masa peralihan.

·         Kedua, dengan menampakkan diri kepada para murid, Yesus menunjukkan bahwa Ia selalu hadir, juga kalau mereka tidak melihat-Nya. Yesus yang telah bangkit itu merupakan “alam ciptaan baru” di tengah-tengah kita. Penampakan-Nya menunjukkan kehadiran-Nya yang permanen. Beberapa contoh bentuk-bentuk kehadiran Yesus yang permanen disajikan oleh cerita Paskah. Sejak bangkit dari alam maut, Yesus hadir di tengah-tengah kita.

·         Melalui sabda-Nya, misalnya dalam cerita tentang dua murid dalam perjalanan ke Emaus (lih. Luk24:13-35). Waktu mereka berjalan bersama Yesus, hati mereka belum tersentuh oleh rupa Yesus. Tetapi, hati mereka berkobar-kobar ketika Ia mulai berbicara dan menerangkan Kitab Suci kepada mereka (lih.Luk24:32). Dalam sabda, mereka berjumpa dengan Yesus. 

3.      Wafat Yesus Menyelamatkan Manusia

Wafat Yesus yang mengerikan bukanlah kebetulan, tetapi merupakan bagian dari misted penyelamatan Allah. Kitab Suci sudah menubuatkan rencana penye­lamatan Ilahi melalui kematian. “Hamba-Ku yang Benar” sebagai misteri pene­busan yang universal. Santo Paulus dalam pengakuan iman menyatakan: “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci” (1Kor 15: 3).

Yesus mati untuk kepentingan kita. Hal ini ditegaskan melalui surat pertama Santo Petrus yang menyatakan: Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengari barang yang fana, bukan pula dengan perak dan emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1Ptr 1: 18-19). Santo Paulus berkata: “Dialah yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor 5: 21).

Penyerahan diri Yesus kepadaAllah telah mempersatukan kita kembali dengan Allah. Rekonsiliasi antara kita dan Allah telah terj adi berkat kematian Yesus disalib. 

  4.   Kenaikan Yesus Kristus ke Surga

                 Selama empat puluh hari setelah kebangkitan, Yesus menampakkan diri kepada para muridNya. Selama itu, keadaanNya yang mulia masih terselubung dalam sosok tubuh seorang manusia biasa, sehingga para murid-murid-Nya dapat mengenali Dia (bdk. Mrk 16:12; Luk 24:15; Yoh 20:14-15; 21:4).Ia hadir di tengah mereka, makan dan minum bersama murid-murid-Nya (bdk. Kis 10:41) dan mengajarkan (bdk. Kis 1:3) mereka mengenai Kerajaan Allah. Yesus mengakhiri kebersamaan dengan para muridNya dengan menyampaikan tugas perutusan untuk mewartakan Injil, dan menjanjikan kuasa Roh Kudus (Kis 1:8) . “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke Surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Mrk 16:19)

                 Gereja mengimani bahwa Kristus naik ke Surga dengan tubuh dan jiwa-Nya. Hal itu disebabkan karena ke-Allahan-Nya, Yesus senantiasa berada bersama dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Dengan kenaikan-Nya ke Surga – dengan tubuh dan jiwa – maka Kristus untuk selamanya membawa persatuan kodrat kemanusiaan-Nya yang telah mulia bersama dengan ke-Allahan-Nya.

Kenaikan Kristus ke Surga berbeda dengan pengangkatan Bunda Maria ke Surga. Bunda Maria diangkat ke Surga karena kekuatan Allah, sedangkan Kristus naik ke Surga karena kekuatan-Nya sendiri – karena Dia adalah sungguh Allah. Rasul Paulus menegaskan: “Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.” (Ef 4:10). Dengan demikian, Yesus naik ke Surga dan ditinggikan lebih tinggi dari segala sesuatu baik di bumi maupun di Surga, bahkan segala sesuatu diletakkan di bawah kaki Kristus (lih. Ef 1:20-22).

Kenaikan Yesus Kristus ke Surga, mempunyai makna bahwa Ia ditinggikan dengan setinggi-tingginya, hal itu diungkapkan dengan perkataan “Duduk di sebelah kanan Allah Bapa.” . “duduk di sisi kanan Bapa”mengandung makna bahwa Yesus Kristus sehakikat dengan Bapa dan kemuliaan dan kehormatan. Duduk di sebelah kanan Bapa berarti awal kekuasaan Mesias. Penglihatan nabi Daniel dipenuhi: “Kepada- Nya diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kekuasaan sebagai raja. Segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa mengabdi kepada-Nya. Kekuasaan-Nya kekal dan tidak akan lenyap. Kerajaan-Nya tidak akan musnah” (Dan 7:14). Sejak saat ini para Rasul menjadi saksi-saksi “kekuasaan-Nya”, yang “tidak akan berakhir” (Syahadat Nisea-Konstantinopel).

Makna Kebangkitan Bagi Kita

Rasul Paulus menulis sebagai berikut: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:17). Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa pengajaran dan termasuk klaim bahwa Dia sungguh Allah mendapatkan bukti yang kuat. Hal ini diperkuat bahwa janji akan kebangkitan Kristus telah dinubuatkan sebelumnya. Rasul Paulus menyatakan, “Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak- Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini.” (Kis 13:32-33) Dengan kebangkitan Kristus, maka terbukalah pintu masuk menuju kehidupan baru, yaitu hidup yang dibenarkan oleh Allah atau hidup yang penuh rahmat Allah. Dikatakan dalam Rm 6:4 “Supaya seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Hidup yang baru, yaitu hidup di dalam rahmat, memungkinkan kita untuk dapat menjadi saudara Kristus dan menjadi anak- anak Allah di dalam Kristus. Dan kepercayaan akan besarnya rahmat Allah ini, membuka harapan baru kepada kita, bahwa pada saatnya nanti, kitapun akan dibangkitkan bersama dengan Kristus dan kemudian hidup berbahagia untuk selama-lamanya bersama dengan Kristus dalam persatuan abadi bersama Allah Roh Kudus dan Allah Bapa.

Makna Kenaikan Yesus Ke Surga Bagi Kita

Berkat kenaikan Yesus ke Surga, maka: Pertama, Kristus adalah Sang Pemimpin kita. Ia akan membawa serta kita semua yang percaya dan bergabung dengan Dia masuk dalam kemuliaan surgawi. Kristus adalah Kepala Gereja dan kita adalah Tubuh-Nya (lih. Ef 5:23; bdk. Mik 2:13), maka kalau Kristus naik ke Surga dengan kodrat-Nya sebagai manusia dan Allah, maka kita sebagai anggota-anggota-Nya juga akan diangkat ke Surga dengan tubuh dan jiwa kita, sebagaimana yang telah Ia janjikan semasa hidup-Nya untuk menyediakan tempat bagi kita (lih. Yoh 14:2).

Kedua, Kristus menjadi Pengantara Kita pada Bapa. Berkat kenaikan Kristus ke Surga, kita dapat sepenuhnya mempercayai Kristus. Dia tidak hanya menjanjikan tempat di Surga, tetapi telah menunjukkan kepada para murid, Dia sendiri terlebih dahulu naik ke Surga. Dengan kenaikan-Nya ke Surga, maka Dia dapat menjadi Pengantara kita kepada Allah Bapa (lih. Ibr 7:25), sehingga kita yang berdosa dapat mempunyai kepercayaan yang besar akan belas kasih Allah (lih. 1Yoh 2:1).

Ketiga, kita dipanggil untuk hidup berfokus hal-hal surgawi. Setelah kebangkitan-Nya dan sebelum kenaikan-Nya ke Surga, para rasul bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6). Para rasul yang pada waktu itu masih belum mengerti secara penuh akan Kerajaan Allah, masih berharap bahwa setelah kebangkitan-Nya, Kristus akan memulihkan kejayaan Kerajaan Israel. Namun, dengan kenaikan Kristus ke Surga, maka Kristus sekali lagi menegaskan bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini namun dari Surga (lih. Yoh 18:36). Oleh karena itu, sebagai umat beriman, yang telah dibangkitkan bersama dengan Kristus – dengan Sakramen Baptis – senantiasa mencari perkara-perkara di atas, di mana Kristus ada yaitu di Surga (lih. Kol 3:1). Dengan demikian kita tidak boleh berfokus pada perkara-perkara di bumi, melainkan pada perkara-perkara yang di atas atau hal-hal surgawi (lih. Kol 3:2).

Tidak ada komentar:

GEREJA DAN DUNIA

  Konsili Vatikan II sungguh telah memperbaharui Gereja dan hubungannya dengan dunia. Hubungan yang menjadi baik ini disebabkan karena Gerej...