I.
GAMBARAN KERAJAAN ALLAH YANG DIWARTAKAN YESUS
Selama enam abad sebelum kedatangan Yesus, bangsa Israel
selalu dijajah oleh bangsa lain, yaitu bangsa Persia, bangsa Yunani, dan
terakhir bangsa Romawi. Selain ditindas oleh para penjajah itu, bangsa Israel
juga ditindas oleh pemimpin-pemimpin bangsanya sendiri, yaitu raja-raja boneka
yang diangkat oleh para penjajah.
Dalam situasi tertindas seperti itu, bangsa Israel selalu
memimpikan kedatangan Mesias dan Kerajaan Allah. Unhik mengerti dengan baik
impian bangsa Israel tentang Kerajaan Allah dan pewartaan Yesus tentang
Kerajaan Allah, maka secara berlurut-turut kita akan mendalami tentang situasi
sosial masyarakat Yahudi pada waktu itu, paham-pahamnya tentang Kerajaan Allah,
dan pewartaan Yesus tentang Keraiaan Allah.
1. Situasi Sosial Bangsa Israel
a. Situasi
Sosial-Politik
Setelah masa pembuangan bangsa Israel di Babilonia, enam abad sebelum Yesus, Palestina tunduk kepada Kerajaan Persia, Yunani, dan Kekaisaran Romawi. Secara internal, masyarakat Palestina dikuasai oleh raja-raja dan pejabat boneka yang ditunjuk oleh penguasa Roma. Selain pejabat-pejabat boneka, masih ada kelas pemilik tanah yang kaya raya dan kaum rohaniwan kelas tinggi yang suka menindas rakyat demi kepentingan dan kedudukan mereka. Golongan-golongan ini sering memihak penjajah supaya mereka tidak kehilangan hak istimewa atau nama baik di depan penjajah, kareria Roma mempunyai kekuasaan mencabut hak milik seseorang.
Puncak kekuasaan politik adalah procurator Yudea. Ia harus seorang Romawi. Ia berwenang menunjuk raja dan Imam Agung. Di Yudea, Imam Agung berperan di bidang politik sebagai raja selain sebagai pemimpin agama. Di Galilea kekuasaan dipegang oleh raja Herodes Antipas.
Dominasi rimiliter terlihat dengan kehadiran tentara
Romawi di mana-mana. Mereka diambil dari Siria atau Palestina, tetapi tidak
dari kalangan Yahudi.
Situasi yang menekan kadang-kadang tidak tertahankan,
sehingga timbul pemberantakan yang umumnya digerakkan oleh kaum Zelot yang
benmarkas di Galilea. Namun, pemberontakan kaum Zelot ini selalu dapat
dipadamkan/ditumpas.
Penumpasan kaum pemberontak (Zelot) ini biasanya membawa korban nyawa yang tidak sedikit.
b.
Situasi Sosio-Ekonomi
Penduduk
desa biasanya hanya memiliki lahan-lahan kecil untuk usaha pertanian. Sebagian
besar tanah dikuasai oleh para tuan tanah yang kaya dan mereka tinggal di
kota-kota. Lahan-lahan luas yang dikuasai oleh para tuan tanah itu digunakan
untuk menanam jagung dan peternakan besar. Para tuan tanah yang tinggal di
kota-kota itu praktis menjadi pengemudi roda ekonomi kota dan perdagangan
internasional. Rakyat kebanyakan biasanya hanya menj adi penggarap tanah (buruh
tam) atau pengembala ternak milik tuan-tuan tanah itu.
Kondisi
ekonomi sebagian besar penduduk (rakyat) hanya pas-pasan, bahkan kurang untuk
mencukupi kebutuhan keluarga karena penghasilan mereka terlalu kecil. Dalam
sihiasi yang parah seperti itu, rakyat masih dibebani berbagai macam pajak dan
pungutan untuk pemerintah, untuk Bait Allah, dan sebagainya. Konon, pajak dan
pungutan-pungutan tersebut dapat mencapai 40% dari penghasilan rakyat.
Masyarakat
Palestina terbagi dalam kelas-kelas. Di daerah pedesaan terdapat kelas-kelas
atau kelompok sosial, yaitu tuan tanah besar, pemilik tanah kecil, perajin,
kaum buruh, dan budak.
Di daerah
perkotaan terdapat beberapa lapisan kelas sosial. Lapisan kelas sosial
tertinggi adalah kaum aristokrat, imam-imam, pedagang-pedagang besar, dan
pejabat-pejabat tinggi. Lapisan kelas sosial menengah bawah adalah para
perajin, pejabat-pejabat rendah, awam, dan kaum Lewi. Lapisan kelas sosial paling
bawah adalah kaum buruh yang pada umumnya bekerja di sekitar Bait Allah. Di
samping itu, terdapat juga kaum proletar marginal yang tidak terintegrasi dalam
kegiatan ekonomi, yang terdiri atas orang-orang yang dikucilkan oleh masyarakat
karena suatu hal (bukan karena kondisi ekonomi). Misalnya: para pendosa publik
seperti pelacur dan pemungut bea cukai, penderita kusta yang menurut keyakinan
Yahudi disebabkan oleh dosa si penderita atau dosa orang tuanya.
Menurut
orang Yahudi, dosa itu dapat berjangkit seperti kuman penyakit. Oleh sebab itu,
orang baik-baik tidak boleh bergaul dengan orang-orang berdosa.
Selain
adanya kelompok-kelompok berdasarkan kelas sosial tersebut di atas, terdapat
juga berbagai bentuk diskriminasi, misalnya diskriminasi rasial, seksual,
pekerjaan, dan sebagainya.
d. Situasi
Sosio-Religius
Hukum
Taurat sangat mewarnai hidup religius orang-orang Yahudi. Kaum Farisi berusaha
menjaga warisan dan jati diri Yahudi berdasarkan hukum Taurat. Mereka menyoroti
ketaatan pada setiap pasal hukum Taurat. Bagi mereka, menjadi rakyat Tuhan
berarti taat pada setiap pasal hukum Taurat. Mereka berusaha menerapkan hukum
Taurat pada setiap segi kehidupan. Tetapi, mereka sendiri sangat memilih-milih
dalam ketaatan mereka.
Menaati
hukum Tuhan berarti menaati secara ketat terhadap setiap pasal hukum Taurat.
Orang-orang Farisi gemar memperluas tuntutan-tuntutan kebersihan yang berlaku
untuk para imam bagi seluruh masyarakat Israel. Mereka menafsirkan dan
kadang-kadang memanipulasi hukum Taurat demi kepentingan mereka sendiri,
sehingga sering mendatangkan beban yang tidak tertahankan bagi rakyat kecil.
Singkatnya,
rakyat kebanyakan di Palestina sangat tertindas pada saat Yesus muncul. Mereka
ditindas secara politis, ekonomis, sosial, bahkan religius.
2. Paham-Paham Tentang Kerajaan Allah
Dalam situasi tertindas, bangsa Israel sangat merindukan
kedatangan Mesias dan Kerajaan Allah. Namun, paham mengenai Kerajaan Allah di
kalangan bangsa Israel dipahami secara berbeda-beda.
a. Paham
Kerajaan Allah yang Berciri Nasionalistis
Paham ini dihayati oleh kaum Zelot.
Kegiatan mereka bertujuan membebaskan bangsa Israel dari kuasa politik
penjajah kafir. Kaum Zelot berjihad untuk mengusir kaum kafir. Mereka berharap
dengan kebangkitan nasionalisme, kemenangan bangsa Israel dapat tercapai dan
Kerajaan Allah tercipta.
b. Kerajaan
Allah Menurut Pandangan para Apokaliptis
Aliran
ini percaya akan datangnya penghakiman Allah, karena dunia ini sudah jahat dan
akan digantikan oleh dunia barn. Dalam dunia barn itu, yang balk akan
dianugerahi kebakaan dan yang jahat akan dihukum.
Menurut
pandangan aliran ini, Kerajaan Allah adalah sebuah kenyataan pada akhir zaman.
Dunia ini atau zaman ini sudah terlalu jahat dan jelek. Setelah zaman yang
jahat ini hilang lenyap dibinasakan oleh Allah, maka Kerajaan Allah akan
menjadi kenyataan di bumi baru dan langit baru yang dijadikan Allah.
c. Kerajaan
Allah Menurut Pandangan para Rabi
Allah sekarang sudah meraja secara hukum, sedangkan di akhir zaman Allah menyatakan kekuasaan-Nya sebagai Raja semesta alam dengan menghakimi dan menyatakan kepada sekalian bangsa. Bangsa Israel yang dikuasai oleh orang-orang kafir (karena dijajah oleh bangsa Romawi yang dianggap kafir) merupakan akibat dari dosa-dosanya. Jika bangsa Israel melakukan hukum Taurat, maka penjajah akan dipatahkan. Karena itu, mereka yang sekarang taat pada hukum aurat sudah menajdi warga Kerajaan Allah. Tetapi, jika tidak melakukan hukum Taurat, maka bangsa Israel akan terus dijajah dan diperintah oleh kaum kafir
B. Gambaran Kerajaan Allah Dalam Terang
B. Gambaran Kerajaan Allah Dalam Terang
1.
Arti dan
Makna Kerajaan Allah dalam Injil Matius 25:31-45.
Bacalah kutipan Injil di bawah ini, kemudian dalamilah makna Kerajaan Allah bagi hidupmu, sesuai dengan isi perikop bacaan Matius 25: 39 – 45
2. Kerajaan Allah yang Diwartakan Yesus
Kerajaan
Allah yang diwartakan oleh Yesus lebih mirip dengan pandangan para rabi dan
para nabi. Allah mulai meraja, terutama dalam diri Yesus, dan akan mencapai
kepenuhan-Nya pada akhir zaman. Ketika Yesus berkeliling di Palestina untuk
mewartakan Kabar Baik dan melakukan berbagai perbuatan baik, termasuk
mukjizat-mukjizat-Nya, menjadi nyata bahwa Kerajaan Allah sebenarnya mulai
dibangun di tengah umat yang percaya.
Kerajaan
Allah yang diwartakan oleh Yesus secara singkat dapat dikatakan sebagai
berikut:
· Kerajaan Allah adalah Allah yang meraja atau memerintah. Oleh karena itu, manusia harus mengakui kekuasaan Allah dan menyerahkan diri (percaya) kepada-Nya, sehingga terciptalah kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian.
· Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus akan mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Di akhir zaman itulah, Allah benar-benar akan meraja. Dalam rangka ini, Kerajaan Allah terkait dengan penghakiman terakhir dan ukuran penghakiman adalah tindakan kasih. Mereka yang melaksanakan tindakan kasih masuk ke dalam Kerajaan Allah (bdk. Mat 25:31-45).
·
Kerajaan Allah yang mencapai kepenuhannya
pada akhir zaman itu kini sudah dekat, bahkan sudah datang dalam sabda dan
karya Yesus. Oleh karena itu, orang harus menanggapinya dengan bertobat dan
percaya kepada warta yang dibawa oleh Yesus.
·
Kerajaan Allah adalah kabar mengenai masa
depan dunia, di mana yang miskin tidak lagi miskin, yang lapar akan dipuaskan,
yang tertindas tidak akan menderita lagi, yang tertawan akan dibebaskan. Namun,
untuk mencapai masa depan yang demikian perlu perjuangan. Itulah sebabnya,Yesus
terus-menerus berjuang supaya hal itu benar-benar terwujud. Selama hidup-Nya,
Yesus terus-menerus berjuang supaya hal itu benar-benar terwujud. Seluruh hidup
Yesus sampai la mengorbankan hidup-Nya di kayu salib adalah untuk mewujudkan
Kerajaan Allah, sehingga orang benar-benar mengalami damai sejahtera,
sukacita, keadilan, dan kebenaran.
·
Perjuangan Yesus itu belum selesai, Yesus
memberi tugas kepada para pengikutNya untuk melanjutkan perjuangan itu, agar
Allah sungguh-sungguh meraja.
II. YESUS MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH
A. Pewartaan Yesus Tentang Kerajaan Allah
Dalam mewartakan Kerajaan Allah, Yesus
kerapkali memakai perumpamaan, yaitu cerita yang diambil dari kehidupan
sehari-hari untuk menyampaikan suatu kebenaran, khususnya tentang Kerajaan
Allah. Dengan perumpamaan itu, para pendengar lebih mudah menangkap pesan yang
ingin disampaikan oleh Yesus. Perumpamaan membuat orang tertantang untuk
mencari dan menemukan pesan yang berkaitan dengan Kerajaan Allah.
Perumpamaan-perumpamaan Yesus mengenai Kerajaan Allah mau menyampaikan hal-hal
berikut:
1. Kerajaan Allah Sudah Dekat
Yesus mewartakan
bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, bahkan sudah datang, terutama dalam diri
Yesus. Ketika Yesus berkeliling Palestina untuk mewartakan Kabar Baik,
sebenarnya Kerajaan Allah mulai tampak di tengah-tengah umatNya (lih. Luk 10:
23-24).
Pewartaan Kerajaan
Allah yang sudah dekat itu terungkap dalam perumpamaan tentang Pohon Ara (lih.
Mrk 13: 28-32). Dekatnya Kerajaan Allah membawa nada ancaman dalam perumpamaan
tentang orang yang menghadap hakim (lih. Luk 12: 57-58) untuk menuntut kembali
pinjaman dari orang yang berhutang (berdosa), maka harus segera membereskan
perkara itu (bertobat) supaya jangan terlambat; penghakiman terakhir sudah
diambang pintu.
Berdekatan dengan
perumpamaan tentang pohon ara adalah perumpamaan tentang bendahara yang tidak
jujur (lih. Luk 16: 1-8). Perumpamaan
ini antara lain man mengatakan bahwa orang harus cerdik, sebab Kerajaan Allah
sudah diambang pintu untuk mengadakan pertanggungjawaban. Dekatnya Kerajaan
Allah berarti juga dekatnya penghakiman Allah.
Perumpamaan tentang
pohon ara yang tidak berbuah (lih. Luk
13: 6-9) mau menggambarkan bahwa Allah itu sesungguhnya sabar, tetapi jika pada
waktunya orang tidak menghasilkan buah pertobatan (bdk Luk 3: 8-9), maka penghakiman akan mendatangi orang itu.
Penghakiman Allah akan datang secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka (lih. Mat24: 50). Hal ini diilustrasikan dalarn perumpamaan tentang pencuri yang datang pada waktu ma lain di saat yang tidak diketahui (lih. Mat 24: 43-44). Kedatangan Kerajaan Allah dan penghakiman yang tidak tersangka-sangka itu terungkap dalam perumpamaan tentang gadis yang bijaksana dan gadis yang bodoh.
2. Kerajaan Allah berarti Allah Mulai Memerintah
Kerajaan
Allah berarti Allah yang memerintah sebagai raja. Allah yang memerintah
dilukiskan oleh Yesus sebagai Bapa. Allah itu sungguh-sungguh Bapa yang baik
hati dan suka mengampuni. Dalam perumpamaan domba yang hilang (lih. Luk 15: 3-7), Yesus menggambarkan
Allah yang suka mengampuni. Dalam perumpamaan orang-orang upahan di kebun
anggur (lih. Mat 20:1-5), Allah digambarkan
sebagai “Bapa keluarga” yang baik hati terhadap orang-orang yang tidak berjasa.
Orang yang dimaksud adalah “pemungut cukai, pelacur, dan orang berdosa” yang
bertobat dan atas dasar kebaikan Allah menerima pemerintahan-Nya.
Dalam perumpamaan anak yang hilang atau Bapa yang mengasihi anak yang hilang (lih. Luk 15: 11-32) mau menunjukkan balas kasih dan kasih Allah terhadap orang berdosa dan sukacita-Nya karena mereka bertobat. Perumpamaan ini juga sekaligus berisi kritik terhadap orang Farisi (yang dilambangkan anak yang sulung) yang membanggakan jasanya, tetapi tidak mengerti sikap hat] Bapa. Ketiga perumpamaan dalam Luk 15: 1-32 (domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang) mau menekankan sukacita Allah yang menyambut orang berdosa yang bertobat ke dalam Kerajaan-Nya.
3. Kerajaan Allah Menuntut Sikap Pasrah (Iman)
Manusia Kepada Allah
Allah
meraja dengan kasih. Oleh sebab itu, manusia dituntut sikap pasrah, dan sikap
iman kepada Allah. Allah menjadi harapan, sandaran, dan andalan bagi manusia.
Manusia tidak boleh mengandalkan hal-ha1 lain, seperti harta, kekuasaan, bahkan
dirinya sendiri.
Yesus
menentang orang-orang Farisi karena mereka terlalu mengandalkan jasa jasa dan
kekuatan diri mereka. Yesus memuji orang-orang miskin dan menderita sebagai
yang “berbahagia”, karena dalam kemiskinannya itu mereka hanya mengandalkan
Allah dan mempercayakan diri pada Allah. Yesus tentu saja tidak mendukung
kemiskinan, bahkan Ia memperjuangkan kesejahteraan lahir batin bagi umat. Yesus
mengecam ketidakadilan yang dilakukan oleh para petinggi pemerintahan dan
agama.
Yesus tidak menyapa berbahagia kepada orang-orang yang saleh dan taat pada Taurat seperti kaum Farisi, sebab mereka mengandalkan dirinya sendiri. Yesus menyapa orang miskin dan menderita, sebab mereka hanya mengandalkan Allah. Baca perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah (Luk 18: 9-14).
4. Kerajaan Allah itu Suatu Karunia
Kerajaan Allah adalah karunia dari
Allah, bukan hanya jasa manusia. Dengan kata lain, pemerintahan Allah tidak
ditegakkan atau diwujudkan hanya oleh daya upaya manusia. Kerajaan Allah
sebagai karunia Allah ini diilustrasikan dalam perumpamaan “benih yang tumbuh”
(Mrk 4: 26-29); “ragi” (Mat 13: 33 dst), “biji sesawi” (Mat 13: 31-32), dan
“penabur” (Mrk 4: 1-9).
Titik perbandingan dalam perumpamaan-perumpamaan tersebut terletak pada keajaiban bahwa “benih” itu tumbuh, menjadi pohon besar, dan menghasilkan buah berlimpah, walaupun banyak rintangan. Demikianlah juga tentang Kerajaan Allah, biarpun banyak rintangannya (penabur), KerajaanAllah dengan kekuatannya sendiri (benih dan ragi) akan diwujudkan dan menghasilkan buah berlimpah. Kerajaan Allah sebagai karunia Allah harus diperjuangkan clan dikembangkan oleh manusia sebagai nilai yang paling tinggi. Karena itu, manusia yang telah memperolehnya patut bergembira dan bersedia memperjuangkan dan mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diilustrasikan dalam perumpamaan tentang “harta yang terpendam dan mutiara yang berharga” (Mat 13: 44-46). Fokus perumpamaan ini terletak dalam ayat 44 yaitu kegembiraan menemukan “harta terpendam”. Dengan usaha yang tidak mengenal lelah, akhirnya harta itu ditemukan sehingga mendatangkan kegembiraan luar biasa bagi yang empunya. “Harta terpendam” ini menggambarkan sesuatu yang sangat bernilai, yakni Kerajaan Allah. Orang dengan gembira hati mengorbankan segala sesuatu demi Kerajaan Allah yang paling berharga dan bemilai.
B. Perbuatan-Perbuatan Yesus Dalam Rangka
Memperjuangkan Kerajaan Allah
Yesus
memaklumkan dan memperjuangkan Kerajaan Allah dengan perkataan dan perbuatan.
Perkataan dan perbuatan tersebut dalam hidup Yesus merupakan suatu kesatuan
yang tidak terpisahkan (lih. Mat 11: 4-6). Perkataan atau sabda Yesus
menjelaskan atau menerangkan perbuatan-perbuatan Yesus supaya perbuatan itu
dapat ditangkap maksudnya, sedangkan perbuatan-perbuatan mewujudnyatakan
perkataan-perkataan Yesus, sehingga kata-kata Yesus bukanlah katakata kosong,
tetapi kata-kata yang penuh kuasa dan arti. Maka dalam kesempatan ini akan
dijelaskan mengenai perjuangan Yesus melalui perbuatan.
1. Yesus Mengadakan Mukjizat-Mukjizat
Yesus mewartakan Kerajaan Allah tidak
hanya dengan sabda-sabda-Nya, tetapi juga melalui mukjizat-mukjizat. Mukjizat
yang dimaksudkan adalah kejadian atau perbuatan luar biasa yang bagi orang
percaya menangkapnya sebagai pernyataan kekuasaan Allah Penyelamat. Dengan
mukzijat itu, Allah menyatakan kekuasaan penyelamatan-Nya.
Mukjizat hanya sebagai tanda bagi
orang yang percaya, yaitu tanda kemurahan hati Tuhan (Yesus), sedangkan bagi
yang tidak percaya adalah suatu pertanyaan. Mukjizat-mukjizat Yesus itu mau
menunjukkan:
a. Yesus
menghubungkan mukjizat-mukjizat-Nya dengan pemberitaan tentang Kerajaan Allah.
Di luar itu, Yesus tidak pernah membuat mukjizat. Itulah sebabnya, Yesus
menolak membuat tanda/mukzijat di hadapan pejabat atau orang banyak untuk
melegitimasikan diri-Nya sebagai yang berasal dari Allah (Mat 16: 1; Luk 11:
16-29).
b. Dasar dan
motif mengadakan mukjizat adalah pemberitaan tentang Kerajaan Allah.
Pemberitaan tentang Kerajaan Allah hanya ditujukan kepada orang miskin dan
tertindas. Karena itu, mukjizat-mukjizat Yesus justru teriuju kepada orang
yang malang, sakit dan di bawah kuasa kejahatan. Mukjizat-mukjizat itu
menyatakan bahwa Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus dan yang membebaskan
orang dari kuasa jahat, benar-benar bagi mereka.
c. Mukjizat-mukjizat
Yesus mempunyai arti mesianis. Artinya, mukjizat-mukjizat Yesus mau
menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan. Mukjizat-mukjizat
yang dikerjakan Yesus merupakan tanda dari Kerajaan Allah yang sudah datang.
MeIalui penyembuhan orang sakit dan pengusiran roh-roh jahat menajdi nyata
bahwa zaman Mesias sudah dimulai. Hal ini juga menjadi jelas ketika Yohanes bertanya
apakah Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Yesus memberi jawaban dengan
berkata : “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu
dengar : Orang buta melihat, orang bisu mendengar, orang mati dibangkitkan,
orang kusta menjadi tahir dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat
11:4-5).
d. Mukjizat-mukjizat
Yesus menyatakan solidaritas Allah dengan manusia yang miskin dan menderita
serta kerasukan roh jahat. Allah menyatakan diri setia kawan dengan orang yang
sakit dan kerasukan setan. Dengan demikian, mukjizat Yesus juga menjadi tanda
bahwa Yesus datang untuk menampakkan kebaikan hati Allah, supaya yang menderita
tidak menderita, supaya yang dibawah kuasa setan dibebaskan dan yang sakit
disembuhkan.
2. Yesus Bergaul dengan Semua Orang : Tanda
Cinta-Nya yang Universal
Yesus
dekat dengan semua orang, maka Ia j uga sangat terbuka terhadap semua orang. la bergaul dengan semua
orang. la tidak
mengkotak-kotakkan dan membuat kelas-kelas di antara manusia. Yesus tidak
pernah hanya dekat dengan sekelompok orang clan menyingkirkan kelompok yang
lainnya. Yesus akrab dengan semua orang (lih. Yoh 7: 42-52) dan penguasa,
bahkam penjajah (lih. Mrk 7: 1-10) yang beritikad baik. Yesus pun akrab dengan
para pegawai pajak yang korup (lih. Luk 19: 1-10), dengan wanita tuna susila
(lih. Luk 7: 36-50), dan para penderita penyakit berbahaya yang dikucilkan.
Pergaulan
Yesus dengan orang-orang yang berdosa dan najis sering dipandang oleh kaum
Farisi amat tidak sesuai dengan adat sopan santun dan peraturan agama yang
berlaku pada saat itu.
3. Yesus Membebaskan Orang-Orang dari Beban
Legalisme
Yesus
sering dikecam oleh lawan-lawannya sebagai orang yang suka berpesta pora, suka
makan dan minum, tidak berpuasa, dan tidak menghiraukan banyak ketentuan hukum
Taurat lainnya.
Yesus
memaklumkan bahwa Allah itu Pembebas. Allah ingin memungkinkan manusia
mengembangkan diri secara lebih utuh dan penuh. Segala hukum, peraturan, dan
perintah harus diabdikan kepada tujuan memerdekaan manusia. Maksud terdalam
setiap hukum adalah membebaskan (atau menghindarkan) manusia dari segala
sesuatu yang dapat menghalangi manusia berbuat baik. Begitu pula, tujuan hulcum
Taurat.
Sikap
Yesus terhadap hukum Taurat dapat diringkas dengan mengatakan bahwa Yesus
selalu memandang hukum Taurat dalam terang hukum kasih. Yesus menolak hukum
Taurat yang sudah dimanipulasi dan ditafsirkan secara keliru.
4. Yesus Memanggil Pengikut-PengikutNya
Untuk
mewartakan Kerajaan Allah, Yesus memanggil dan mengutus muridmurid-Nya. Mereka
dituntut memiliki keterlibatan yang radikal. Orang-orang yang dipanggil Yesus
harus:
a. Segera
meninggalkan segala-galanya;
b. Belajar
dan hidup dekat dengan Yesus;
c. Siap
diutus;
d. Siap
menderita.
C. Nilai-Nilai Duniawi dan Nilai-Nilai Kerajaan
Allah
1. Uang/Harta dan Kerajaan Allah
Uang,
harta, dan kekayaan pasti mempunyai nilai, maka kita harus berusaha untuk
memilikinya. Namun, kita yang harus menguasai harta, bukan harta yang menguasai
kita. Uang, harta, dan kekayaan tidak boleh dimutlakkan, sehingga menghalangi
kita untuk mencapai nilai-nilai yang lebih luhur, yakni Kerajaan Allah. Jika
kita hanya terobsesi dan bernafsu untuk mengutamakan kekayaan, maka kita sudah
mendewakan harta.
Nafsu
(ambisi) untuk mengumpulkan uang atau kekayaan agaknya bertentangan dengan
usaha mencari Kerajaan Allah. Betapa sulitnya orang kaya masuk dalam Kerajaan
Allah, seperti halnya seekor unta masuk ke dalam lubang jarum (bdk. Mrk 10: 25). Maksudnya, Yesus
mendorong agar orang tidak terbelenggu uang/harta dan kekayaan. Yesus mendorong
agar orang kaya memiliki semangat solidaritas terhadap orang miskin dan
menderita clan suka membatu mereka dengan kekayaannya.
Yang dituntut oleh Yesus bukan hanya sekedar derma, melainkan usaha nyata dari orang kaya untuk membebaskan orang dari kemiskinan dan penderitaan.
2. Kekuasaan dan Kerajaan Allah
Kekuasaan itu sangat bernilai. Namun,
orang tidak boleh memutlakkannya sehingga usaha kita membangun Kerajaan Allah
terhalang. Ada dua cara yang sangat berbeda dalam mengerti dan melaksanakan
kekuasaan. Yang satu adalah penguasaan, yang lain adalah pelayanan. Kekuasaan
dalam Kerajaan Allah tidak mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.
Kebanyakan pemimpin Yahudi (imam-imam
kepala, tua-tua, ahli kitab, dan orang Farisi) kebanyakan adalah penindas.
Kekuasaan sering membuat mereka menguasai dan menindas orang lain (terlebih
yang lemah) dengan memanipulasi hukum taurat.
Yesus tidak menentang hukum Taurat sebagai hukum. Tetapi, Yesus menentang cara orang menggunakan hukum dan sikap mereka terhadap hukum. Para ahli kitab dan orang-orang farisi telah menjadikan hukum sebagai beban, padahal seharusnya merupakan pelayanan (bdk. Mat 23:4; Mrk 2:27). Yesus juga menolak setiap hukum dan penafsiran yang digunakan untuk menindas orang. Menurut Yesus, hukum harus berciri pelayanan, belas kasih, clan cinta. Dalam Kerajaan Allah, kekuasaan, wewenang, dan hukum melulu fungsional.
3. Kehormatan/gengsi dan Kerajaan Allah
Kehormatan
atau gengsi adalah nilai yang sangat dipertahankan orang. Gengsi dan kedudukan
sering dianggap lebih penting daripada segala sesuatu. Orang akan memilih bunuh
diri atau berkelahi sampai mati daripada kehilangan gengsi atau harga dirinya.
Kedudukan dan gengsi/harga diri sering didasarkan pada keturunan, kekayaan,
kekuasaan, pendidikan, dan keutamaan. Akibat adanya gengsi clan kedudukan
inilah masyarakat dapat terpecah-pecah di dalam kelompok-kelompok. Ada kelompok
yang memiliki status sosial tinggi dan ada kelompok yang melmiliki status
sosial rendah. Sebenarnya, siapa saja yang begitu lekat pada gengsi dan harga
diri tidak sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang dicanangkan oleh
Yesus.
Yesus
mengatakan: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga (Allah)? Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil
ini; kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga” (Mat 18: 1-4,. Anak adalah
perumpamaan mengenai “kerendahan” sebagai lawan dari kebesaran, status, gengsi,
dan harga diri. Ini tidak berarti bahwa hanya orang-orang dalam kel as tertentu
yang akan diterima dalam Keraj aan Allah. Setiap orang dapat masuk ke dalamnya
jika la man berubah dan menjadi sepenti anak kecil (Mat 18: 3;, menjadikan
dirinya kecil seperti anak-anak kecil (Mat 18: 4).
Kerajaan
yang diwartakan dan dikehendaki oleh Yesus adalah suatu masyarakat yang tidak
membeda-bedakan lebih rendah atau lebih tinggi. Setiap orang akan dicintai dan
dihormati, bukan karena pendidikan, kekayaan, asal usul, kekuasaan, status,
keutamaan, atau keberhasilan-keberhasilan lain, tetapi karena ia adalah pribadi
yang diciptakan Allah sebagai citra-Nya.
4. Solidaritas dan Kerajaan Allah
Perbedaan
pokok kerajaan di.tnia dan Kerajaan Allah bukan karena keduanya mempunyai
bentuk solidaritas yang berbeda. Kerajaan dunia sering dilandaskan pada
solidaritas kelompok yang eksklusif (suku, agama, ras, keluarga, dan sebagainya)
dan demi kepentingan sendiri. Sementara, Kerajaan Allah dilandasi solidaritas
yang mencakup semua umat manusia. “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah
sesama manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah
musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5: 43-44). Dalam
kutipan ini, Yesus memperluas pengertian “saudara”. Saudara tidak hanya teman,
tetapi juga mencakup musuh: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang
yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah
untuk orang yang mencdci kamu” (Luk 6: 27-28). “Dan jika kamu mengasihi orang
yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi
juga orang-orang yang mengasihi mereka” (Luk 6: 32).
Solidaritas kelompok (mengasihi orang yang mengasihi kamu) bukanlah solidaritas menurut Yesus. Solidaritas yang dikehendaki oleh Yesus adalah solidaritas terhadap semua orang tanpa memandang bulu, termasuk juga musuh.
III. SENGSARA, WAFAT DAN KEBANGKITAN YESUS
A. Latar Belakang dan Sebab-Sebab Sengsara dan
Wafat Yesus
Untuk memahami peristiwa Yesus dihukum
mati dan menjalani hukuman mati, ada baiknya kita mengamati dua hal berikut ini
:
1. Konteks
sosial menjelang penyaliban Yesus
2. Mereka yang berperan dalam penyaliban Yesus
1. Konteks Sosial Menjelang Penangkapan,
Pengadilan, dan Penyaliban Yesus
a. Konteks
Perayaan paskah
Perayaan Paskah merupakan pesta bangsa
Israel untuk memperingati peristiwa pembebasan bangsa Israel dari Mesir.
Perayaan ini berlangsung selama tujuh hari, menajdi pekan roti tak beragi.
Bangsa Israel menghayati peristiwa pembebasan dari Mesir sebagai keterlibatan
Allah dalam hidup mereka. Pada perayaan Paskah itu, seluruh rakyat terlibat
dengan cara berziarah ke Yerusalem. Maka, Yerusalem dipadati oleh rakyat yang
akan merayakan Paskah.
Dalam rangka perayaan Paskah tersebut,
Yesus dan murid-murid-Nya juga pergi ke Yerusalem. Dalam situasi Paskah Yahudi
itulah, terjadi peristiwa besar yang menimpa diri Yesus. Ia ditangkap, diadili,
dan disalibkan. Pengadilan dan penyaliban Yesus diwarnai oleh berbagai isu yang
berkembang pada waktu itu.
b. Pemberontakan
terhadap Pemerintah Roma
Biasanya, dalam setiap perayaan
paskah, tentara Roma juga selalu siap siaga untuk menghadapi kemungkinan yang
tidak diinginkan, misalnya kekacauan. Pada masa Yesus, situasi Palestina
tidaklah tenteram. Selalu ada usaha-usaha untuk melawan pemerintah Romawi.
Pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah
dan pernyataan diri-Nya sebagai Mesias dapat menubuhkan harapan bangsa Yahudi
akan datangnya Mesias. Harapan ini akan mendorong mereka untuk memberontak.
Dengan demikian, tindakan Yesus dapat menumbuhkembangkan pemberontakan politis
seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Zelot. Hal itulah yang dijadikan
alasan oleh para pemuka agama Yahudi untuk menghukum Yesus dan menghadapkan-Nya
pada Ponsius Pilatus.
Dalam peristiwa penangkapan dan
pengadilan terhadap Yesus, pasukan Romawi diperalat oleh para pemuka agama yang
mengisyaratkan bahwa Yesus dan pengikut-Nya termasuk dalam kelompok orang yang
mau memberontak. Markus menceritakan, “Dan pada waktu itu adalah seorang yang
bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa pemberontak lainnya.
Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan” (bdk. Mrk.15:7)
c. Munculnya
Mesias-Mesias Palsu
Pada masa kehidupan Yesus telah muncul
beberapa orang yang diyakini oleh orang-orang Yahudi sebagai Mesias. Mereka
dipandang sebagai Mesias seperti diramalkan oleh nabi Yesaya. Nabi Yesaya
bernubuat bahwa Allah akan mengangkat seorang keturunan Daud untuk naik takhta
kerajaan. Orang-orang yang dianggap memenuhi nubuat nabi Yesaya pada masa itu
antara lain Yudas dari Galilea dan Simon dari Bar Kokhba.
Munculnya mesias-mesias itu selalu
diwaspadai oleh pemerintah Roma. Sebab, biasanya setelah seorang mesias mulai
muncul, maka akan disusul adanya pemberontakan. Mesias-mesias yang ada menjadi
biang kerusuhan.
Injil dengan jelas membedakan antara
Yesus dan orang-orang yang dianggap mesias itu. Ha1 ini sungguh-sungguh
diketahui oleh Pilatus dan orang-orang Romawi lainnya. Oleh karena itu, dalam
proses pengadilan yang dipimpinnya, Pilatus berusaha membebaskan Yesus. Pilatus
mengetahui bahwa tindakan Yesus berkaitan dengan hidup keagamaan clan bukan
politis. Tindakan Pilatus semakin jelas dengan tawarannya untuk membebaskan
Yesus atau Barabas.
Namun, orang Yahudi tidak mau mengambil risiko dengan Yesus itu. Yesus pernah membuat kehebohan di Bait Allah. Kalau terjadi lagi, pasukan Romawi dapat menyerbu Bait Allah. Padahal; banyak penduduk Yerusalem menggantungkan hidupnya pada BaitAllah. BaitAtlah sebagai tempat ziarah merupakan sumber naflcah bagi mereka. Maka lebih baik mereka memilih Barabas untuk dibebaskan.
2. Mereka yang Berperan dalam Peristiwa
Pengadilan dan Penyaliban Yesus
a. Para
Petinggi Agama
Warta
dan tindakan Yesus memang barn, rnerombak agama Yahudi. Hal ini jelas tidak
disukai oleh para pemuka agama. Para pemuka agama itu beranggapan bahwa hanya
agama yang menjamin kelangsungan bangsa. Barangsiapa merongrong agama dianggap
membahayakan bangsa. Perubahan agama dianggap dapat menimbulkan murka Allah.
Jika Allah murka maka habislah riwayat bangsa Yahudi.
Yesus
berasal dari “udik”, dari suku yang agamanya tidak kokoh. “Tidak ada nabi yang
berasal dari Galilea!” Yesus tidak berijazah, tidak berpendidikan, dengan hak
apakah la mengutik-utik Kitab Suci? Yesus tidak mempunyai backing, keluarganya sederhana, teman-temannya rakyat jelata,
sekelompok orang yang tidak mempunyai wewenang agama sedikit pun juga. Apa yang
dibuat oleh Yesus, sehingga bermacam-ma.cam tuduhan dilemparkan kepada-Nya
oleh para ahli Taurat dan kaum Farisi?
·
Yesus bergaul dengan sampah masyarakat:
Ahli-ahli
Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa ia makan dengan pemungut bea cukai
dan orang berdosa.
·
Yesus dianggap melanggar hukum Taurat:
Yesus
menyatakan semua makanan halal; Ia menyentuh orang kusta; Ia tidak berpuasa.
·
Yesus dianggap melanggar adat saleh:
Yesus
berbicara dengan perempuan kafir; Ia membela wanita pezinah; Ia makan dengan
tangan najis.
·
Yesus dianggap melanggar Sabat:
Yesus
berkata: “Hari Sabat diadakan untuk manusia clan bukan manusia untuk hari
Sabat” (Mrk 2: 27)
·
Yesus dianggap mencampuri urusan para pemuk,
agama:
Imam
Agung bertanggung jawab atas Bait Allah. Tetapi, Yesus mengusir para pedagang
di Bait Allah, padahal Dia dianggap tidak mempunyai hak apa-apa terhadap urusan
Bait Allah. Yesus dianggap berani mengatakan bahwa Ia mengerti apa yang
dikehendaki Allah, bahwa ia mengenal Allah lebih daripada para nabi dahulu,
lebih daripada Musa. Di mata para petinggi agama, Yesus dianggap provokator.
b. Para
Petinggi Pemerintahan
Pada masa Yesus, situasi Palestina tidak
aman/tenteram, karena selalu ada usaha-usaha untuk melawan pemerintahan Romawi.
Pewartaan Yesus tentang KerajaanAllah dan pernyataan diri-Nya sebagai Mesias
dapat menumbuhkan harapan bangsa Israel akan datangnya Mesias. Harapan ini akan
mendorong mereka untuk memberontak. Dengan demikian, tindakan Yesus dianggap
dapat menumbuhkan pemberontakan politis seperti yang telah dilakukan oleh
orang-orang Zelot. Hal itulah yang telah dijadikan alasan para pemuka agama
Yahudi untuk menghukum Yesus dan menghadapkan-Nya pada Pilatus.
Dalam peristiwa penangkapan dan pengadilan
terhadap Yesus, pasukan Romawi diperalat oleh para pemuka agama bahwa Yesus dan
pengikut-Nya termasuk dalam kelompok orang yang mau memberontak. Markus
menceritakan : “Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang
dipenjarakan bersama beberapa pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan
pembunuhan dalam pemberontakan” (Mrk. 15:7).
Keributan di Bait Allah ketika Yesus dan murid-murid-Nya menghalau para pedagang mungkin membuat pemerintahan kolonial Romawi mencurigai Yesus. Ketiga bangsa-Nya sendiri menyerahkan Yesus, pemerintah Romawi rupanya tidak terlalu berkeberatan untuk mengamankan dan membebaskan dia dari segala tuduhan.
c. Vonis
Hukuman Mati untuk Yesus
Seluruh majelis agama menolak Yesus.
Dengan suara bulat, mereka memutuskan untuk memberikan hukuman mati terhadap
Yesus. Imam Agung, pemimpin yang dipilih Allah untuk menggembalakan umat-Nya,
membuang Yesus.
Ponsius Pilatus, gubernur sipil
menghukum Yesus. Nlurid-murid dan temanteman Yesus tidak seorang pun
membela-Nya. Mereka semua meninggalkan Yesus dan membiarkan Dia dihukurn mati
disalib. Menurut keyakinan Yahudi, mati disalib merupakan tanda bukti bahwa
seseorang dibuang oleh Allah sendiri.
Hukuman mati disalib itu lebih
daripada mencabut nyawa saja. Mati di kayu salib berarti: dibuang oleh
bangsanya dan dikutuk oleh Allah. Mayat seorang terhukum harus lekas-lekas
dikuburkan, karena dianggap mengotori dan menajiskan tanah yang diberikan
Allah.
B. Kisah Sengsara dan Wafat Yesus
Kisah sengsara dan wafat Yesus yang
disampaikan oleh Lukas dalam Injilnya sangat khas. Kesengsaraan Yesus
disampaikan Lukas berpangkal dari hasil pengalaman kehidupannya sebagai murid
Yesus. Lukas adalah salah seorang murid Yesus yang menyampaikan hasil
perenungan perjalanan terakhir hidup Yesus.
1. Penangkapan Yesus di Taman Getsemani
Yesus
mengetahui bahwa la akan mengalami kesengsaraan sebagai konsekuensi dari
pewartaan-Nya yang dianggap mengganggu gugat kemapanan banyak pihak. Di taman
Getsemani, Yesus secara khusus mempersiapkan penderitaan yang akan ditanggung-Nya. Ia berdoa kepada
Bapa-Nya. Sebagai manusia biasa, Yesus merasakan ketakutan yang luar biasa
sehingga la berseru, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari
pada-Ku, tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”
(Luk 22: 42).
Kebiasaan
Yesus untuk berdoa telah diketahui oleh para murid-Nya. Yudas juga
mengetahuinya. Maka, Yudas memanfaatkan kebiasaan Yesus yang berdoa di
tempat-tempat yang sepi sebagai kesempatan untuk znenyerahkan-Nya kepada orang
yang akan membayarnya. Setelah Yesus selesai berdoa, Yudas datang ke taman itu
bersama orang banyak. Yesus ditangkap bagaikan seorang perampok atau penjahat.
Penangkapan Yesus ini menjadi awal penderitaan yang dijalaniNya. Lukas
mencatat: “Dan orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olok Dia dan
rnemukul-Nya” (Luk 22: 63).
2. Yesus Diadili oleh Pengadilan Agama
Dari
taman Getsemani, Yesus dibawa ke rumah imam besar. Yang menjabat imam besar
pada waktu itu adalah Kayafas. Kayafas bersama mertuanya, Hanas, melakukan
pemeriksaan terhadap Yesus. Di ternpat Imam besar, Yesus diolok-olok dan
dipukuli oleh orang-orang yang menahan-Nya. Imam besar banyak bertanya kepada
Yesus tentang murid-murid-Nya dan ajaran-Nya. Yesus memberikan tanggapan-Nya.
“Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah
ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak
pernah bicara sembunyi-sembunyi” (Yoh 18: 20).
Tanggapan
Yesus ini tentu saja sangat menjengkelkan mereka yang mengikuti pemeriksaan
itu. Mereka sebenarnya mau menjebak Yesus untuk menemukan kesalahan yang dapat
menjadi alasan menghukum Dia. Mereka mau menjebak Yesus dengan soal Bait Allah.
Mereka
selama ini tidak menyukai campur tangan Yesus, teristimewa dengan urusan Bait
Allah. Yesus pernah membuat kegemparan dengan mengusir para pedagang dari Bait
Allah. Bait Allah adalah pusat keagamaan bagi orang-orang Yahudi. Bagi para
pemuka agama, Bait Allah menjadi pusat kekuasaan mereka dan menjadi sumber
penghasilan mereka karena pajak yang mereka tarik dalam bentuk pajak keagamaan.
Apabila Bait Allah hancur atau di bawah kekuasaan orang lain, mereka akan
kehilangan kedudukan, jabatan, dan penghasilan. Oleh karena itu, dengan alasan
mempertahankan sistem keagamaan secara nasional, mereka berusaha memprsalahkan
Yesus atas tindakan-Nya terhadap Bait Allah. Namun, mereka tetap belum dapat
menemukan alasan kuat untuk menghukum Yesus.
Kemudian,
mereka menghadapkan Yesus ke Mahkamah Agama. Sidang Mahkamah Agama melanjutkan
pemeriksaan awal yang telah dilakukan oleh imam besar. Mereka bertanya :
“Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami” (Luk.22:67). Pertanyaan
ini sebenarnya juga merupakan pertanyaan jebakan. Para pemuka agama Yahudi mau
menyudutkan Yesus untuk menunjukkan secara jelas identitas-Nya. Mereka telah
mengetahui bahwa pengakuan Yesus sebagai anak Allah akan menjadi alasan yang
dapat diterima semua pihak untuk menghukum Dia.
Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Dia adalah Anak
Allah. Mendengar jawaban Yesus itu, maka dengan segera sidang Mahkamah Agama
mengambil keputusan untuk menghukum mati Yesus, karena la telah menyatakan din
sebagai Anak Allah. Yesus dianggap telah menghujat Allah. Setelah mendengar
jawaban Yesus, mereka bersepakat membawa Yesus kepada Pilatus. Hal ini mereka
lakukan karena mereka mengetahui hanya Pilatuslah yang dapat menentukan hukuman
mati.
3. Yesus Diadili oleh Pengadilan Negeri
Wakil
pemerintah Roma yang berkuasa pada waktu itu adalah Pontius Pilatus. DI
Palestina, Pontius Pilatus tinggal di Yerusalem dalam sebuah istana yang dahulu
merupakan tempat kediaman resmi raja-raja Yahudi sewaktu Yehuda masih berdiri.
Di depan gedung ini terdapat serambi yang luas. Di bawah langit terbuka, di
sebuah pelantaran, Yesus diadili karena orang-orang Yahudi tidak mau masuk ke
dalam gedung yang mereka anggap sudah dicemarkan itu. Tuntutan mereka harus
dituruti Pontius Pilatus, Yesus harus dihukum mati. Pilatus menanyakan apa yang
menjadi kesalahan Yesus, tetapi tidak ditemukannya. Lalu Pilatus menyatakan
kepada imam-imam kepala, para pemimpin, dan rakyat bahwa ia tidak menemukan
kesalahan apa pun pada diri Yesus (lih. Luk 23: 14-16).
Meskipun
mengetahui bahwa Yesus tidak bersalah, Pontius Pilatus menjatuhkan hukuman.
Pilatus membuat kompromi yang tidak adil. Pilatus akan menyesah Yesus sebelum
membebaskan-Nya. Tetapi, mereka yang hadir dalam pengadiian itu
berteriak-teriak menginginkan kematian Yesus. Setelah disesah, Yesus diserahkannya
kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya (lih. Luk 23: 25). Setelah disesah, Yesus dimahkotai duri,
diludahi, dicemoohkan, disuruh memanggul salib menuju Bukit Tengkorak, dan
disalibkan di sana bersama dua orang penjahat.
4. Wafat Yesus
Santo
Lukas mencatat dal am Injilnya bahwa ketika mereka sampai di tempat bernama
Bukit Tengkorak mereka menyalibkan Yesus di situ bersama dengan dua orang
penjahat, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiriNya.
Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang
mereka perbuat” Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain la
selamatkan, biarlah sekarang menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika la adalah
Mesias, orang yang dipilih Allah” (lih. Luk
23: 34-35).
Seorang
dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau
adalah Kristus? Selamatkan diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegur dia,
katanya: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” Kata
Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini juga engkau ada
bersama dengan Aku di dalam Firdaus” Selanjutnya, Santo Lukas menulis: Ketika
itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi daerah itu
sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tirai Bait Allah terbelah
dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tanganMu
Kuserahlcan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian, la menyerahkan nyawa-Nya.
Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya:
“Sungguh, orang ini adalah orang benar!” Dan sesudah seluruh orang banyak, yang
datang berkerumun di situ, melihat apa yang terjadi, pulanglah mereka sambil
memukul-mukul diri. (Luk 23: 39-49).
Kematian
Yesus menurut Lukas disertai dengan firasat alam yang sangat dahsyat. Firasat
alam yang pertama yang dipaparkan oleh Lukas adalah kegelapan yang meliputi
seluruh daerah itu pada tengah hari (lih.
Luk 23: 44).
Kuasa
kegelapan tampak seakan-akan memegang kekuasaannya atas seluruh dunia; semua
cahaya dipusatkan pada salib. Kegelapan sering dihubungkan dengan rasa takut,
kecemasan, dan adanya bahaya. Kegelapan Menjadi lambang ketidakberdayaan.
Peristiwa kegelapan yang terjadi saat kematian Yesus memiliki arti yang khusus,
yakni sebagai wujud keterlibatan Allah atas kematian Yesus. Melalui kegelapan
yang diciptakan-Nya, Allah mau menyatakan terang kehidupan baru yang akan
muncul. Dari kegelapan lahirlah Mesias yang membuka sejrah keselamatan baru
bagi semua bangsa di dunia.
Tanda
kedua yang menyertai wafat Yesus adalah terbelahnya tirai Bait Allah menjadi
dua (lih. Luk 23:45). Terbelahnya
tirai Bait Allah membawa perubahan radikal. Tirai Bait Allah dimaksudkan untuk
memisahkan ruang yang dikhususkan untuk para imam dan orang-orang yang percaya.
Orang-orang yang dianggap tidak pantas seperti orang-orang kafir, wanita,
anak-anak hanya boleh berada di halaman luar Bait Allah. Mereka tidak boleh
melihat dan masuk dalam ruang kudus di Bait Allah.
Saat
kematian Yesus, tirai Bait Allah terbelah dua, dari atas ke bawah. Kematian
Yesus membawa kedekatan dengan manusia. Allah terbuka bagi semua bangsa. Allah
adalah Allah beserta kita. Allah kita tidak tinggal di tempat terasing, dalam
ruangan Bait Allah, melainkan berada di antara kita. Di puncak Golgota, di kayu
salib, penyertaan Allah semakin nyata, yakni penyertaan untuk merangkum
penderitaan manusia.
C. Makna Sengsara dan Wafat Yesus
1. Wafat Yesus adalah Konsekuensi dari
Pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah
Wafat Yesus tidak dapat dilepaskan
dari seluruh perjalanan karya dan hidupNya. Yesus sudah mengetahui risiko
penderitaan dan kesengsaraan yang.akan ditanggung-Nya. Bahkan, Yesus sudah
member-itahukan kepada para murid-Nya bagaimana Ia menderita, wafat,
dan disalibkan. Tugas perutusan Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah yang
dilaksanakan melalui sabda dan tindakan-tindakan-Nya akan membawa diri-Nya
pada penderitaan.
Pewartaan Yesus dalam sabda dan tindakan-Nya sangatlah radikal. Para penguasa, tua-tua bangsa Yahudi, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat sangat tersinggung dengan segala sepak terjang Yesus. Yesus menyadari bahwa kesaksian yang paling kuat dan paling final tentang kesungguhan-Nya mewartakan Kerajaan Allah ialah kesiapan-Nya untuk mati demi pewartaan-Nya itu. Andaikata Yesus lari dari risiko atas pewartaan-Nya, tentu seluruh pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah tidak akan dipercayai lagi. Maka, Yesus harus menghadapi risiko pewartaanNya dengari tegar hati. Yesus yakin bahwa dengan sikap-Nya yang konsekuen dan berani menghadapi maut akan memberanikan semua murid dan pengikut-pengikut-Nya untuk di kemudian hari mewartakan dan member-ikan kesaksian tentang Kerajaan Allah, walaupun harus mempertaruhkan nyawa-Nya
2. Wafat Yesus sebagai Tanda Ketaatan dan
Kesetiaan-Nya pada Bapa
Yesus
menerima semua yang terjadi atas diri-Nya dengan rela, karena itulah yang
dikehendaki oleh Allah dalam rencana penyelamatan-Nya. Yesus memandang
kematian-Nya bukan sebagai nasib, melainkan sebagai kurban yang mengukuhkan
Perjanjian Baru antara Allah dan umat manusia seluruhnya. Para murid Yesus
diberi teladan untuk mempertaruhkan nyawa sebagai wujud kesetiaan terhadap
Kerajaan Allah.
Tugas
untuk mewartakan Keraj aan Allah menuntut kesetiaan dengan taruhan nyawa. Oleh
karena itu, peristiwa salib yang membawa kematian Yesus bukanlah kegagalan.
Peristiwa salib justru merupakan tahap yang menentukan dalam karya penyelamatan
Allah. Wafat Yesus menjadi peristiwa penyelamatan yang membaharui hidup
manusia, karena setelah wafat-Nya, Allah tidak meninggalkan Dia. Yesus
dibangkitkan dari kematian. Wafat Yesus rnemperlihatkan cinta kasih Allah
kepada manusia.
Yesus
menyadari bahwa kematian adalah bagian dari rencana Bapa-Nya. Sabda yang
dinyatakan-Nya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan
menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4: 34). Yesus setia kepada kehendak Bapa-Nya,
Ia taat sampai mati. Yesus mengganti ketaatan-Nya untuk ketidaktaatan kita.
“Jadi, sama seperti ketidaktaatan satu orang, semua orang telah menjadi orang
berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang, semua orang menjadi orang yang
benar” (Rm 5: 19).
Dengan
ketaatan-Nya sampai matt, Yesus menyelesaikan tugas-Nya sebagai hamba yang
menderita; seperti yang dikatakan dalam Yes 53: 10-12.
3. Wafat Yesus adalah Tanda Solidaritas-Nya
dengan Manusia
Wafat Yesus “untuk orang-orang Yahudi
suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan” (1 Kor
1: 23). Tetapi menurut Paulus, bagi arang-arang yang percaya akan Allah,
peristi-wa Yesus disalibkan mempunyai arti baru. Untuk mereka yang
dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang yang bukan Yahudi, Kristus adalah
kekuatan Allah dan hikmah Allah. Sebab, yang bodoh dari Allah lebih besar
hikmahnya daripada manusia (1 Kor 1: 24-25). Dalam diri Yesus yang wafat
disalibkan itu Allah berkarya.
Dalam peristiwa salib, kita dapat
mengenal penyertaan Allah dalam hidup manusia. Allah yang berbelas kasih tidak
pernah meninggalkan manusia. Sekalipun manusia mengalami kesengsaraan dan
penderitaan, Allah tetap menjadi Allah beserta kita (Emmanuel). Kesengsaraan dan wafat Yesus menjadi tanda agung
kehadiran Kerajaan Allah karena memberi kesaksian tentang Allah yang
sebenarnya, yakni Allah yang Mahakasih.
Allah dalam diri Yesus telah solider
dengan manusia. Ia telah senasib dengan manusia sampai kepada kematian, bahkan
kematian yang paling hina. Tidak ada wujud solidaritas yang lebih final dan
lebih hebat daripada kematian Yesus. Yesus rela mati disalib di antara dua
penjahat. Ia telah menjadi manusia, sama dengan kaum tersisih dan terbuang.
4. Penampakan-Penampakan Yesus
Tanda lain akan kebangkitan Yesus
adalah penampakan. Orang-orang pertama yang bertemu dengan Yesus yang telah
bangkit adalah Maria dari Magdala dan wanita-wanita saleh yang datang ke makam
untuk meminyaki jenazah Yesus (lih. Mrk 16: 1) yang dengan tergesa-gesa
dimakamkan pada hari Jumat, karena hari Sabat sudah tiba. Dengan demikian, para
wanita itu merupakan orang-orang pertama yang membawa berita tentang
kebangkitan Yesus. Sesudah itu, Yesus menampakkan diri kepada para rasul, lebih
dahulu kepada Petrus, kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
1. Tiga unsur pokok dalam penampakan Yesus
Ada tiga unsur pokok yang nyata di
dalam penampakan-penampakan Yesus sebagaimana disampaikan kepada kita melalui
Injil, yakni sebagai berikut:
a. Unsur
Prakarsa
Inisiatif
datang dari Yesus. Yesus sendiri yang memprakarsai penampakan. Yesus
“menampakkan diri” atau “memperlihatkan diri”. Istilah ini menunjukkan dua hal:
·
Pertama, sesuatu yang biasanya tidak
kelihatan, kini kelihatan. Setelah bangkit, Yesus tidak termasuk lagi pada
dunia yang kelihatan. Agar dapat dilihat oleh murid-murid-Nya, Yesus harus
menjadikan diri-Nya kelihatan.
·
Kedua, penglihatan para murid yang “melihat
Tuhan” setelah kebangkitanNya bukanlah penglihatan biasa.
b. Unsur
Pengakuan
Yesus dikenal dan diakui sebagai
Kristus dan Tuhan. Dia yang menampakkan diri-Nya tidak lain dan tidak bukan
adalah Yesus dari Nazareth yang wafat di kayu salib. Dia kini hidup dalam
kemuliaan. Pengakuan ini diungkapkan, “Yesus bangkit dari antara orang mati
pada hari ketiga” (Luk 24: 46).
c. Unsur
Kesaksian
Para
rasul menerima tugas dari Tuhan untuk memaklumkan ke-TuhananNya. Salah satu
hal yang mencolok dalam cerita tentang penampakan ialah para murid mula-muia
tidak mengenal Yesus. Mereka rnembutuhkan waktu untuk mengenal Yesus kembali.
Unsur yang cukup mencolok ini mernpunyai dua arti, yakni:
·
Pertama, membuktikan bahwa penglihatan
mengenai Yesus yang bangkit tidaklah diciptakan oleh daya khayal para murid
sendiri, tetapi mendatangi mereka dari luar.
· Kedua, menunjukkan betapa Yesus diperbaharui oleh kebangkitan-Nya. Ia tidak lagi persis sama seperti sebelum wafat dan bangkit.
2. Makna Penampakan Yesus
Apabila
Yesus selama 40 hari masih menampakkan diri, maka hal ini tidak berarti bahwa
la selama beberapa pekan masih meneruskan hidup-Nya yang lama. Sebab, “hidup
yang lama” sudah berakhir dan diubah menjadi “hidup yang serba baru”. Arti
penampakan selama 40 hari itu ialah:
·
Pertama, Yesus memperkenalkan para murid dan
seluruh Gereja-Nya dengan suatu cara kehadiran yang baru. Untuk tujuan itu,
penampakan selama 40 hari merupakan masa peralihan.
·
Kedua, dengan menampakkan diri kepada para
murid, Yesus menunjukkan bahwa Ia selalu hadir, juga kalau mereka tidak
melihat-Nya. Yesus yang telah bangkit itu merupakan “alam ciptaan baru” di
tengah-tengah kita. Penampakan-Nya menunjukkan kehadiran-Nya yang permanen.
Beberapa contoh bentuk-bentuk kehadiran Yesus yang permanen disajikan oleh
cerita Paskah. Sejak bangkit dari alam maut, Yesus hadir di tengah-tengah kita.
· Melalui sabda-Nya, misalnya dalam cerita tentang dua murid dalam perjalanan ke Emaus (lih. Luk24:13-35). Waktu mereka berjalan bersama Yesus, hati mereka belum tersentuh oleh rupa Yesus. Tetapi, hati mereka berkobar-kobar ketika Ia mulai berbicara dan menerangkan Kitab Suci kepada mereka (lih.Luk24:32). Dalam sabda, mereka berjumpa dengan Yesus.
3. Wafat Yesus Menyelamatkan Manusia
Wafat
Yesus yang mengerikan bukanlah kebetulan, tetapi merupakan bagian dari misted
penyelamatan Allah. Kitab Suci sudah menubuatkan rencana penyelamatan Ilahi
melalui kematian. “Hamba-Ku yang Benar” sebagai misteri penebusan yang
universal. Santo Paulus dalam pengakuan iman menyatakan: “Kristus telah mati
karena dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci” (1Kor 15: 3).
Yesus
mati untuk kepentingan kita. Hal ini ditegaskan melalui surat pertama Santo
Petrus yang menyatakan: Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara
hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengari
barang yang fana, bukan pula dengan perak dan emas, melainkan dengan darah yang
mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda
dan tak bercacat (1Ptr 1: 18-19). Santo Paulus berkata: “Dialah yang tidak
mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita
dibenarkan oleh Allah” (2Kor 5: 21).
Penyerahan diri Yesus kepadaAllah telah mempersatukan kita kembali dengan Allah. Rekonsiliasi antara kita dan Allah telah terj adi berkat kematian Yesus disalib.
4. Kenaikan Yesus Kristus ke Surga
Selama
empat puluh hari setelah kebangkitan, Yesus menampakkan diri kepada para
muridNya. Selama itu, keadaanNya yang mulia masih terselubung dalam sosok tubuh
seorang manusia biasa, sehingga para murid-murid-Nya dapat mengenali Dia (bdk.
Mrk 16:12; Luk 24:15; Yoh 20:14-15; 21:4).Ia hadir di tengah mereka, makan dan
minum bersama murid-murid-Nya (bdk. Kis 10:41) dan mengajarkan (bdk. Kis 1:3)
mereka mengenai Kerajaan Allah. Yesus mengakhiri kebersamaan dengan para
muridNya dengan menyampaikan tugas perutusan untuk mewartakan Injil, dan
menjanjikan kuasa Roh Kudus (Kis 1:8) . “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian
kepada mereka, terangkatlah Ia ke Surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah”
(Mrk 16:19)
Gereja
mengimani bahwa Kristus naik ke Surga dengan tubuh dan jiwa-Nya. Hal itu
disebabkan karena ke-Allahan-Nya, Yesus senantiasa berada bersama dengan Allah
Bapa dan Allah Roh Kudus. Dengan kenaikan-Nya ke Surga – dengan tubuh dan jiwa
– maka Kristus untuk selamanya membawa persatuan kodrat kemanusiaan-Nya yang
telah mulia bersama dengan ke-Allahan-Nya.
Kenaikan Kristus ke Surga berbeda dengan
pengangkatan Bunda Maria ke Surga. Bunda Maria diangkat ke Surga karena
kekuatan Allah, sedangkan Kristus naik ke Surga karena kekuatan-Nya sendiri –
karena Dia adalah sungguh Allah. Rasul Paulus menegaskan: “Ia yang telah turun,
Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk
memenuhkan segala sesuatu.” (Ef 4:10). Dengan demikian, Yesus naik ke Surga dan
ditinggikan lebih tinggi dari segala sesuatu baik di bumi maupun di Surga,
bahkan segala sesuatu diletakkan di bawah kaki Kristus (lih. Ef 1:20-22).
Kenaikan
Yesus Kristus ke Surga, mempunyai makna bahwa Ia ditinggikan dengan
setinggi-tingginya, hal itu diungkapkan dengan perkataan “Duduk di sebelah
kanan Allah Bapa.” . “duduk di sisi kanan Bapa”mengandung makna bahwa Yesus
Kristus sehakikat dengan Bapa dan kemuliaan dan kehormatan. Duduk di sebelah
kanan Bapa berarti awal kekuasaan Mesias. Penglihatan nabi Daniel dipenuhi:
“Kepada- Nya diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kekuasaan sebagai raja. Segala
bangsa, suku bangsa, dan bahasa mengabdi kepada-Nya. Kekuasaan-Nya kekal dan
tidak akan lenyap. Kerajaan-Nya tidak akan musnah” (Dan 7:14). Sejak saat ini
para Rasul menjadi saksi-saksi “kekuasaan-Nya”, yang “tidak akan berakhir”
(Syahadat Nisea-Konstantinopel).
Makna Kebangkitan Bagi Kita
Rasul Paulus
menulis sebagai berikut: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah
pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:17).
Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa pengajaran dan termasuk klaim bahwa Dia
sungguh Allah mendapatkan bukti yang kuat. Hal ini diperkuat bahwa janji akan
kebangkitan Kristus telah dinubuatkan sebelumnya. Rasul Paulus menyatakan, “Dan
kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang
diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan
mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur
kedua: Anak- Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini.” (Kis
13:32-33) Dengan kebangkitan Kristus, maka terbukalah pintu masuk menuju
kehidupan baru, yaitu hidup yang dibenarkan oleh Allah atau hidup yang penuh
rahmat Allah. Dikatakan dalam Rm 6:4 “Supaya seperti Kristus telah dibangkitkan
dari antara orang mati demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”
Hidup yang baru, yaitu hidup di dalam rahmat, memungkinkan kita untuk dapat
menjadi saudara Kristus dan menjadi anak- anak Allah di dalam Kristus. Dan
kepercayaan akan besarnya rahmat Allah ini, membuka harapan baru kepada kita,
bahwa pada saatnya nanti, kitapun akan dibangkitkan bersama dengan Kristus dan
kemudian hidup berbahagia untuk selama-lamanya bersama dengan Kristus dalam
persatuan abadi bersama Allah Roh Kudus dan Allah Bapa.
Makna Kenaikan Yesus Ke Surga
Bagi Kita
Berkat kenaikan Yesus ke
Surga, maka: Pertama, Kristus adalah Sang Pemimpin kita. Ia akan membawa serta
kita semua yang percaya dan bergabung dengan Dia masuk dalam kemuliaan surgawi.
Kristus adalah Kepala Gereja dan kita adalah Tubuh-Nya (lih. Ef 5:23; bdk. Mik
2:13), maka kalau Kristus naik ke Surga dengan kodrat-Nya sebagai manusia dan
Allah, maka kita sebagai anggota-anggota-Nya juga akan diangkat ke Surga dengan
tubuh dan jiwa kita, sebagaimana yang telah Ia janjikan semasa hidup-Nya untuk
menyediakan tempat bagi kita (lih. Yoh 14:2).
Kedua, Kristus menjadi
Pengantara Kita pada Bapa. Berkat kenaikan Kristus ke Surga, kita dapat
sepenuhnya mempercayai Kristus. Dia tidak hanya menjanjikan tempat di Surga,
tetapi telah menunjukkan kepada para murid, Dia sendiri terlebih dahulu naik ke
Surga. Dengan kenaikan-Nya ke Surga, maka Dia dapat menjadi Pengantara kita
kepada Allah Bapa (lih. Ibr 7:25), sehingga kita yang berdosa dapat mempunyai
kepercayaan yang besar akan belas kasih Allah (lih. 1Yoh 2:1).
Ketiga,
kita dipanggil untuk hidup berfokus hal-hal surgawi. Setelah kebangkitan-Nya
dan sebelum kenaikan-Nya ke Surga, para rasul bertanya, “Tuhan, maukah Engkau
pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6). Para rasul yang pada
waktu itu masih belum mengerti secara penuh akan Kerajaan Allah, masih berharap
bahwa setelah kebangkitan-Nya, Kristus akan memulihkan kejayaan Kerajaan
Israel. Namun, dengan kenaikan Kristus ke Surga, maka Kristus sekali lagi
menegaskan bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini namun dari Surga (lih. Yoh
18:36). Oleh karena itu, sebagai umat beriman, yang telah dibangkitkan bersama
dengan Kristus – dengan Sakramen Baptis – senantiasa mencari perkara-perkara di
atas, di mana Kristus ada yaitu di Surga (lih. Kol 3:1). Dengan demikian kita
tidak boleh berfokus pada perkara-perkara di bumi, melainkan pada
perkara-perkara yang di atas atau hal-hal surgawi (lih. Kol 3:2).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar