Minggu, 03 Juni 2012

Kebangkitan Yesus

KEBANGKITAN DAN KENAIKAN YESUS KE SURGA Kebangkitan Yesus pada pokoknya berarti bahwa Yesus yang di dunia ini benar-benar mati, dan dari keadaan mati itu beralih masuk ke dalam keadaan lain sama sekali. Ia kini hidup dengan cara yang lain sekaligus tetap berpengaruh dan aktif menyelamatkan manusia. Maka untuk masuk ke dalam kebangkitan abadi ini, Yesus harus melewati kematianNya. Hal ini ditandainya dengan makam yang kosong. Berbicara tentang makam kosong, tidak membuktikan kebangkitan Yesus. Menurut Markus 16:8, makam yang kosong tidak menimbulkan kepercayaan wanita-wanita yang menemukannya. Sebaliknya mereka ketakutan dan melarikan diri. Makam kosong mempunyai arti Ambivalen. Makam kosong sama sekali tidak berkata apa-apa tentang bagaimana dan karena apa menjadi kosong. Jadi kita harus berkesimpulan bahwa makam kosong bukanlah menjadi bukti pokok kebangkitan Yesus, melainkan sebuah perandaian. Makam kosong berarti jangan mencari Dia (Kristus yang hidup, diantara orang mati (lih Luk 24 : 5). Makam itu terbuka artinya duka cita dan kegelapan maut sudah diganti oleh suka cita dan terang kebangkitan. Bagi orang yang percaya makam kosong merupakan tanda yang membutuhkan keterangan lebih lanjut supaya bermakna.apa yang diwartakan oleh makam kosong adalah kebangkitan Kristus sebagai misteri penyelamatan, juga berarti bahwa jenazah Yesus tidak diambil atau di curi oleh manusia dan bahwa Yesus tidak kembali lagi kepada suatu kehidupan duniawi seperti Lazarus, tetapi kehidupan yang mulia. Bukti Kebangkitan Yesus Kisah sengsara dan wafat Yesus hanya memiliki arti bagi keselamatan kita. Karena dilihat dalam terang kebangkitan. Kebangkitan Kristus merupakan inti iman kita. St. Paulus menegaskan, “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu “(1Kor 15:14:15). Dalam Kitab Suci, khususnya Injil, kebangkitan Yesus diwartakan melalui dua cara, yang pertama melalui kisah “kubur kosong” dan kedua melalui “penampakan-penampakan”. I. Kubur Kosong Kalau anda ke Israel dan melihat tempat dimana dahulu Yesus dikuburkan ada tertulis; “Jangan cari orang hidup di tengah-tengah orang mati, Ia sudah bangkit lihatlah kuburNya kosong”. Ketika kita masuk ke kuburan itu, memang kosong. Saya bersyukur Tuhan Yesus tidak ada kuburanNya. Kalau kita melihat, ada tokoh-tokoh agama tertentu yang mati dan tidak bangkit kembali, kemudian beberapa waktu kemudian ditemukan giginya. Di tempat penemuan itu kemudian dibuat kuil sebagai bukti bahwa sang tokoh pernah hidup. Saya bersyukur Tuhan Yesus sudah bangkit. Jadi tidak perlu ada kuburan untuk mengenangNya. Pertama, memang benar tidak ada saksi mata yang melihat proses kebangkitan Yesus. Kisah kubur kosong juga bukanlah bukti akan kebangkitan Yesus, tetapi merupakan tanda dari kebangkitan. Bila Yesus orang Nazaret yang disalibkan itu telah bangkit (bdk Mrk 16:6b), maka pastilah kubur-Nya akan kosong. Jadi, kubur kosong itu sendiri tidak membawa pada iman akan kebangkitan Yesus. Injil Lukas dan Yohanes mengindikasikan bahwa Rasul Petrus yang menyaksikan kubur kosong, tidak dibawa pada iman akan kebangkitan Yesus (Luk 24:12; bdk. Yoh 20: 6-7). Kubur kosong bukan bukti bahwa Yesus telah bangkit, tetapi hanyalah tanda dari kebangkitan. Iman Rasul Petrus akan kebangkitan ditumbuhkan karena penampakan dan pertemuan dengan Yesus yang bangkit (Luk 24:34; 1 Kor 15:5). Kedua, ada empat kisah kubur kosong, yaitu Mat 28:1-10; Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12 dan Yoh 20:1-10. Keempat kisah kubur kosong itu sepakat bahwa wanita-wanita tertentu dalam rombongan Yesus menemukan kubur Yesus kosong pada hari ketiga setelah penyaliban. Meskipun ada perbedaan tentang rincian dalam setiap kisah, tetapi ketiga Injil sinoptik sepakat menampilkan malaikat sebagai pewarta kebangkitan (Mat 28:5-6; Mrk 16:6; Luk 24:5-7). Inilah kerygma kebangkitan Yesus yang disampaikan oleh pribadi ilahi, yaitu perwakilan Allah. Malaikat itulah yang menugaskan para wanita untuk menyampaikan pesannya kepada para murid (Mat 28:7; Mrk 16:7). Kesaksian malaikat ini tentu merupakan tandingan dari kesaksian bohong para penjaga kubur Yesus bahwa murid-murid Yesus datang mencuri jenasah-Nya (Mat 28: 13). Kehadiran malaikat itu merupakan jaminan kebenaran pewartaan tentang kebangkitan Yesus. Ketiga, dalam kisah kubur kosong dalam Injil Yohanes, tidak dikatakan adanya malaikat Tuhan sebagai jaminan kebenaran pewartaan kebangkitan. Sebagai gantinya, Injil Yohanes menampilkan ”murid yang dikasihi” (Yoh 20:2). Kesaksian ”murid yang dikasihi” dikontraskan dengan apa yang dialami oleh Rasul Petrus, yaitu yang melihat kain kafan, kain peluh, tetapi tidak sampai percaya (Yoh 20:6b-7). Penginjil Yohanes menjelaskan bahwa sikap Petrus ini terjadi karena ”belum mengerti isi Kitab Suci” (ay 9). Hal ini hendak mengatakan bahwa kubur kosong itu tidak mendatangkan kepercayaan akan kebangkitan Yesus. Kubur kosong bukan bukti bahwa Yesus telah bangkit. Di lain pihak, ketika ”murid yang lain” itu masuk ke kubur, ia ”melihatnya dan percaya” (ay 8). Apa yang dilihatnya di dalam kubur memberikan kepadanya pencerahan untuk mengerti isi Kitab Suci sehingga membuatnya percaya. Jadi, murid yang lain itu percaya akan kebangkitan Yesus bukan karena melihat kubur kosong, tetapi karena mendapat pencerahan untuk mengerti Kitab Suci secara lebih mendalam (bdk. Luk 24:25-27). Keempat, dusta mahkamah agama bahwa para murid Yesus mencuri jenasah-Nya sulit diterima karena dusta ini tidak bisa menjelaskan apa motivasi yang mungkin bisa mendorong para murid untuk menyebarkan sebuah kebohongan, padahal kebohongan itu menyebabkan mereka dikejar-kejar, dipenjara dan bahkan dibunuh. Keberanian para murid untuk menjadi martir mencerminkan keyakinan mereka akan kebangkitan Yesus. Siapa yang secara sukarela mau mati untuk sesuatu yang diketahui sebagai kebohongan? Kelima, iman kita pada kebangkitan Yesus memang tidak didasarkan pada kubur kosong, tetapi didasarkan pada kesaksian para murid yang melihat Yesus hidup sesudah kematiannya. Rasul Paulus membuat semacam daftar dari para saksi mata ini, yaitu Petrus (Kefas), keduabelas murid-Nya, lebih dari lima ratus saudara, Yakobus dan terakhir Paulus sendiri (1 Kor 15:3-8). Untuk meyakinkan para muridnya, Paulus bahkan menegaskan bahwa kebanyakan para saksi mata itu masih hidup, sehingga bisa ditanyai tentang kebenaran kebangkitan Yesus itu. II. Kain Kafan Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa Yesus benar-benar bangkit? Mudah saja, Anda dapat melihat kain kafanNya. Bila orang Israel mati, maka mayatnya akan ditutup dengan dua potong kain kafan, satu kainmenutupi kaki sampai leher dan satu kain lagi menutupi leher sampai kepala, kemudian orang itu akan ditidurkan di sebuah gua. Ketika mendapat laporan dari Maria, bahwa Yesus bangkit, murid-murid nerlari kekuburanNya. Mereka berlari sampai ke dalam dan bertemu dengan malaikat. Kata malaikat kepada mereka, “Lihatlah ! Inilah tempat mereka membaringkan Dia” (Mark 16:6b) Lalu dalam Yohanes 20:6-7, Petrus melihat bahwa kain kafan Yesus masih utuh. Jika ada yang mencuri mayat Yesus, pastilah kain kafanNya tidak akan utuh lagi. Tetapi anehnya, kain kafan Yesus masih utuh. Gulungannya tetap seperti kepompong, masih utuh dan tidak berantakan sama sekali. Hanya di dalamnya sudah tidak ada tubuh Yesus. Dia sudah bangkit. Posisi kain kafanNya juga tetap seperti semula tidak berubah sedikitpun. Ini membuktikan bahwa bukan manusia yang membuka kain kafan itu tapi Yesus sendiri yang keluar dari kain. Itulah tubuh kebangkitan. Makna Kebangkitan Yesus Bagi Kita 1. Kebangkitan Yesus mensahkan dan melegitimasi apa yang telah dilakukan atau diajarkanNya. 2. Dalam kebangkitan Yesus, terpenuhilah janji-janji Perjanjian lama dan janji Yesus sendiri selama hidupNya di dunia 3. Kebangkitan menegaskan ke Allah an Yesus 4. Rahasia Paskah mempunyai dua sisi, yakni dengan kematianNya Yesus membebaskan kita dari dosa dan dengan kebangkitanNya pula Yesus membuka pintu masuk menuju kehidupan baru. 5. Kebangkitan Yesus adalah dasar utama kebangkitan kita yang akan datang Penampakan Yesus Dalam cerita makam kosong, Yesus sendiri tidak ditampakkan. Lain halnya dengan penampakan Yesus yang telah bangkit. Cerita penampakan itu menyatakan kegembiraan Paskah. Yesus memperlihatkan diriNya selama 40 hari 40 malam (Kis 1:3) kepada murid-muridNya. Mulai dari Maria Magdalena (Yoh 20:15-16), kepada para wanita (Mat 28:9), kepada dua orang murid yang dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:15), di Yerusalem, Ia berdiri ditengah murid-muridnya (Yoh 20:19,22), makan bersama (Luk 24:36, 41-43), dan ketika di Galilea, Ia menampakkan diri di atas bukit dan mengutus para murid (Mat 28:16-29), dan masih banyak kisah yang lain. Kalau kita perhatikan selbih seksama, berbagai cerita penampakan Yesus yang bangkit selalu meliputi tiga unsur pokok yang penting bagi kita, yaitu prakarsa, pengakuan, dan kesaksisn. 1. Unsur Prakarsa Inisiatif selalu datang dari Yesus. Ia sendiri yang memprakarsaai penampakan itu. Penampakan itu sendiri digunakan untuk ini menunjukkan dua hal : Pertama sesuatu yang biasanya tidak kelihatan, kini kelihatan. Setelah bangkit Yesus tidak termasuk lagi pada dunia yang kelihatan, agar dapat dilihat oleh murid-muridNya, Yesus harus menjadikan diriNya kelihatan. Kedua penglihatan para murid yang “melihat Tuhan” setelah kebangkitanNya bukanlah penglihatan biasa. 2. Unsur Pengakuan Yesus dikenal dan diakui sebagai Kristus dan Tuhan. Dia yang menampakkan diri-Nya itu diakui sebagai tak lain dan tak bukan adalah Yesus dari Nasaret. Dia hidup melampaui wafat-Nya. Pengakuan iman ini dinyatalan dengan ungkapan, “Yesus bangkit dari antara orang mati pada hari ke tiga” 3. Unsur Kesaksian Unsur yang cukup mencolok adalah Pertama, membuktikan bahwa penglihatan mengenai Yesus yang bangkit tidaklah diciptakan oleh daya khayal para murid sendiri, tetapi mendatangi mereka dari luar. Kedua menunjukkan betapa Yesus diperbaharui oleh kebangkitanNya. Ia tidak lagi persis sama seperti sebelum wafat dan bangkit. Apabila Yesus selama 40 hari masih menampakkan diri, maka hal ini tidak berarti bahwa Ia selama beberapa hari masih meneruskan hidup-Nya yang lama. Sebab, hidup yang lama sudah berakhir dan diubah menjadi hidup yang serba baru. Arti penampakan Yesus selama 40 hari sebagai berikut : Pertama, Yesus memperkenalkan para murid dan seluruh Gereja-Nya dengan suatu cara kehadiran yang baru. Untuk tujuan itu, penampakan selama 40 hari merupakan masa peralihan. Kedua, dengan menampakkan diri kepada para murid, Yesus yang telah bangkit itu selalu hadir, juga kalau mereka tidak melihatnya. Yesus yang telah bangkit itu merupakan “alam ciptaan baru” di tengah-tengah kita. Penampakan-Nya mernunjukkan kehadiran-Nya yang permanen. Beberapa contoh tentang bentuk-bentuk kehadiran Yesus yang permanen itu disajikan oleh cerita-cerita Paksah. Sejak bangkit dari alam maut, Yesus hadir di tengah-tengah kita. a. Melalui sabda-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam cerita kedua murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35). Waktu berjalan mereka belum tersentuh oleh rupa Yesus. Tetapi hati mereka berkobar-kobar ketika Ia mulai berbicara dan menerangkan Kitab Suci kepada mereka. Dalam sabda, mereka berjumpa dengan Yesus. b. Melalui tanda, Yesus membuat para murid mengenal-Nya melalui tanda “memecah-mecahkan roti” tanda ini oleh Gereja diwujudkan dalam Sakremen Ekaristi. Untuk seterusnya, Yesus akan memberikan diri-Nya dalam perayaan Ekaristi. c. Melalui Roh Kudus-Nya, Sebagai tanda kehadiran Roh Yesus telah menghembusi mereka dan memberikan Roh kepada mereka. Peristiwa ini disebut dengan Pentakosta. d. Jabatan kegembalaan Petrus dan melalui kuasa Apostolik untuk mengampuni dosa, Tuhan yang telah bangkit itu tetap hadir di tengah-tengah umatNya. C. Makna Kenaikkan Yesus ke Surga. 1. Kenaikkan Kristus ke surga menggambarkan langkah masuk yang definitif dari kodrat manusiawi Yesus ke dalam kemukiaan Allah di surga. 2. Yesus Kristus, kepala Gereja mendahului kita masuk ke dalam Kerajaan Kemuliaan Bapa, supaya kita semua anggota-anggota tubuhNya dapat hidup dalam harapan karena Yesus Kristus sudah masuk ke dalam tempat kudus di surga selamanya, makaia tanpa henti-hentinya bertindak sebagai pengantara yang senantiasa mencurahkan roh Kudus ke atas kita.

Selasa, 06 Maret 2012

Tradisi

TRADISI DALAM GEREJA KATOLIK

APA ITU TRADISI? Tradisi merupakan bagian yang amat penting dalam Gereja Katolik. Kata 'tradisi' dapat dijelaskan sebagai: meneruskan informasi, kepercayaan serta kebiasaan-kebiasaan, baik dengan kata-kata ataupun dengan teladan hidup dari satu generasi ke generasi lainnya tanpa petunjuk tertulis. Dengan kata lain, pemikiran-pemikiran serta nilai-nilai dari satu generasi diwariskan kepada generasi berikutnya. Gereja senantiasa melestarikan dan meneruskan hidup, ajaran, dan ibadahnya, dari generasi ke generasi. Dalam tradisi ada kurun waktu yang istimewa, yaitu zaman Yesus dan para rasul, dan periode itu disebut “Zaman Gereja Perdana”

Tradisi zaman Gereja Perdana “didbangun diatas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Efesus 2:20). Sebagian dari tradisi itu kemudian ditulis dan kita kenal sebagai Kitab Suci Perjanjian Baru.

Syahadat para rasul, menjadi salah satu contoh tradisi Gereja yang hingga kini masih dipakai dan dipergunakan sebagai ungkapan iman umat beriman kepada Allah.

Dalam Gereja Katolik ada dua pedoman: Kitab Suci dan Tradisi. Kitab Suci sendiri berawal dari tradisi bangsa Yahudi (Perjanjian Lama) dan tradisi Para Rasul Yesus (Perjanjian Baru).

Tradisi Gereja berasal dari pengalaman gereja Katolik selama 2000 tahun. Para Bapa Gereja mencermati pengalaman-pengalaman tersebut dan menetapkan peraturan-peraturan serta ajaran-ajaran yang terbukti telah membantu umat Katolik menghadapi permasalahan hidup. Peraturan serta ajaran tersebut telah memberikan hasil yang baik di masa lampau dan tetap demikian hingga kini.

Roh Kudus

ROH KUDUS

Air - melambangkan tindakan Roh Kudus dalam upacara Pembaptisan. "Dibaptis dalam satu Roh", kita juga "diberi minum darisatu Roh" (1 Kor. 12:13). Jadi Roh dalam pribadi-Nya adalah air yangmenghidupkan, yang mengalir, dari Kristus yang disalibkan (Yoh. 19:34;1 Yoh. 5:8) dan yang memberi kita kehidupan abadi.

Urapan - salah satu lambang Roh Kudus adalah juga urapan dengan minyak, malahan sampai ia menjadi sinonim dengan-Nya. Dalam inisiasi Kristen, urapan adalah tandasakramental dalam Sakramen Penguatan, yang karenanya dinamakan"Khrismation" dalam Gereja-gereja Timur. Tetapi untuk mengertisepenuhnya bobot nilai dari lambang ini, orang harus kembali ke urapanpertama, yang Roh Kudus kerjakan: Urapan Yesus. "Khristos" (terjemahandari perkataan Ibrani "Mesias") berarti yang "diurapi dengan Roh Allah".

Api - melambangkan daya transformasi perbuatan Roh Kudus.Dalam "lidah-lidah seperti api" Roh Kudus turun alas para Rasul padapagi hari Pentakosta dan memenuhi mereka (Kis 2:3-4).

Awan dan sinar - Roh turun alas Perawan Maria dan"menaunginya", supaya ia mengandung dan melahirkan Yesus (Luk. 1:35).Di atas gunung transfigurasi Ia datang dalam awan, "yang menaungi"Yesus, Musa, Elia, Petrus, Yakobus dan Yohanes, dan "satu suarakedengaran dari dalam awan: Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlahDia" (Luk 9:34-35).

Meterai - Meterai adalah sebuah lambang, yang erat berkaitandengan pengurapan. Kristus telah disahkan oleh "Bapa denganmeterai-Nya" (Yoh. 6:27; bdk. 2 Kor 1:22; Ef 1:13; 4:3) dan di dalamDia, Bapa juga memeteraikan tanda milik-Nya atas kita. Karena gambaranmeterai (bahasa Yunani"sphragis") menandaskan akibat pengurapan Roh Kudus yang tidakterhapuskan dalam penerimaan Sakramen Pembaptisan, Penguatan, danTahbisan, maka ia dipakai dalam beberapa tradisi teologis untukmengungkapkan "karakter", yang tidak terhapuskan, tanda yang ditanamkanoleh ketiga Sakramen yang tidak dapat diulangi itu.

Jari - "Dengan jari Allah" Yesus mengusir setan (Luk.11:20). Sementara perintah Allah ditulis dengan "jari Allah" atasloh-loh batu (Kel. 31:18), "surat Kristus" yang ditulis oleh paraRasul, "ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-lohbatu, melainkan pada loh-loh daging yaitu di dalam hati manusia" (Kel.31:18; 2 Kor. 3:3).

Merpati - Waktu Kristus naik dari air Pembaptisan-Nya, Roh Kudus - dalam rupa merpati - turun atas-Nya dan berhenti di atas-Nya.

Karya Roh Kudus

Karya Roh Kudus sebagai Penolong.
1. Pada peristiwa Pentakosta, Roh Kudus membawa bahasa saling pengertian. Suasana dimana para rasul mampu berbicara dan dimengerti oleh begitu banyak suku bangsa, dan situasi itu menciptakan keterbukaan untuk saling menerima, bersatu, dan bersekutu. Karya Roh Kudus yang mempersatukan manusia.
2. Peritiwa Pentakosta, Roh Kudus membawa persatuan dan persekutuan
Hari Pentakosta sering disebut sebagai harinya jaman baru, yaitu Gereja. Roh Kuduslah yang melahirkan Gereja.
3. Roh Kudus membawa pembaharuan.
Roh Kudus yang hadir lahir dalam Perjanjian Baru, merupakan sebuah firman dan hukum kasih yang hjalis dalam hati manusia. Roh Kudus tidak hanya memperbaharui Gereja, tetapi juga muka bumi sepanjang masa

KARUNIA ROH KUDUS

Karunia Kebijaksanaan yaitu “untuk menilai dan mengatur segala sesuatu sesuai dengan norma-norma ilahi dan dengan kewajaran yang memancar dari persatuan kasihnya dengan Tuhan.” Roh Kudus membantu mengkontemplasikan perkara-perkara ilahi, memampukan orang untuk bertumbuh dalam persatuan mesra dengan Tuhan.
Karunia Pengertian adalah karunia “untuk memberikan pengertian dan pemahaman mendalam akan kebenaran ilahi dalam iman, bukan sebagai pencerahan sementara, melainkan sebagai intuisi tetap.” Dengan pencerahan akal budi terhadap kebenaran, Roh Kudus membantu orang untuk mengerti kebenaran iman dengan mudah dan mendalam, serta memahami kedalaman kebenaran-kebenaran tersebut.
Karunia Nasehat adalah karunia “untuk membangkitkan ketaatan dan pasrah diri orang pada nasihat Tuhan dalam segala tindakannya demi mencapai kekudusan dan keselamatan.” Terutama, karunia nasihat memampukan orang untuk menilai tindakan pribadi sebagai baik dan harus dilakukan, atau sebagai jahat dan harus dihindari.
Karunia Keperkasaan, orang dapat “mengatasi persoalan-persoalan atau menanggung derita dan sengsara dengan kekuatan dan keperkasaan yang dianugerahkan Tuhan.” Sama seperti karunia-karunia yang lain, karunia keperkasaan bekerja atas dorongan Roh Kudus, dan memberikan kekuatan kepada orang untuk melawan yang jahat serta bertekun demi kehidupan kekal.
Karunia Pengenalan adalah karunia yang memampukan orang “untuk menilai dengan benar dalam hal kebenaran iman sesuai dengan dasar dan prinsip-prinsip dari kebenaran yang telah dinyatakan.” Di bawah bimbingan Roh Kudus, akal budi manusia membuat penilaian yang benar atas barang-barang duniawi dan hubungan antara benda-benda tersebut dengan kehidupan kekal dan kesempurnaan Kristiani.
Karunia Takut Akan Allah memampukan orang “untuk menghindari dosa dan menghindari cinta / kelekatan pada barang-barang duniawi lebih dari rasa cinta dan hormat kepada Tuhan.” Teristimewa, karunia ini membangkitkan rasa hormat mendalam kepada Allah segala kuasa yang Mahatinggi. Di sini, orang menyadari “keterbatasannya sebagai ciptaan” dan ketergantungannya kepada Tuhan, serta tidak akan pernah mau dipisahkan dari Tuhan yang penuh belas kasihan. Karunia takut akan Allah ini membangkitkan dalam jiwa semangat sembah sujud dan takwa kepada Allah yang Mahakuasa serta rasa ngeri serta sesal atas dosa.
Karunia Kesalehan “guna menghaturkan sembah sujud kepada Tuhan terutama sebagai Bapa kita dan berhubungan dengan semua orang sebagai anak-anak dari Bapa yang sama.” Di sini, orang menyatakan rasa hormat pada Tuhan sebagai Bapa yang penuh belas kasihan, serta menghormati sesama sebagai anak-anak Tuhan terutama karena memang begitu mereka adanya. Dengan demikian, karunia kesalehan menyempurnakan kebajikan akan keadilan, memampukan orang untuk memenuhi segala kewajibannya kepada Tuhan dan sesama; ia tidak hanya dimotivasi oleh keadilan yang harus ditegakkan, tetapi juga oleh hubungan cinta kasih yang dialaminya bersama sesama.



GEREJA DAN DUNIA

  Konsili Vatikan II sungguh telah memperbaharui Gereja dan hubungannya dengan dunia. Hubungan yang menjadi baik ini disebabkan karena Gerej...