Konsili Vatikan II sungguh telah memperbaharui Gereja dan hubungannya dengan dunia. Hubungan yang menjadi baik ini disebabkan karena Gereja mulai memiliki pandangan baru tentang dunia dan manusia. Mungkin ada baiknya kita melihat pandangan-pandanganbaru tentang dunia dan gereja, kemudian kita melihat hubungan antara Gereja dan dunia serta alasan-alasan mengapa harus terjalin hubungan yang saling mengisi antara keduanya.
A. Permasalahan
yang Dihadapi Dunia
Persoalan dunia, dapat
kita petakan lewat beberapa peristiwa yang dihadapi, yang dapat menjadi
gambaran bagaimana persoalan dunia itu sebenarnya.
1. Perang
Dewasa ini masih banyak
kawasan yang dilanda peperangan, tidak ketinggalan Indonesia, masih sering
terjadi bentrokan, perang suku, perang antar kelompok. Yang menjadi pemicunya
seringkali ambisi kekuasaan, ada kecenderungan hasrat manusia ingin berkuasa dan
menguasai manusia yang lain, yang tentunya hal ini menjadi permasalahan serius,
karena manusia tidak lagi menyadari bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk hidup
bersama dalam kebersamaan, kedamaian, saling melengkapi dan menyempurnakan satu
sama lain.
2. Kemiskinan
Kemiskinan sering dipahami
sebagai kondisi kehidupan manusia yang tidak layak atau tidak memenuhi
kebutuhan dasar hidup manusia, seperti sandang, pangan dan papan, namun
sesungguhnya kemiskinan dapat juga dipahami secara sosial ekonomi, dan mental.
oleh karena itu, kenyataan adanya kebodohan dan keterbelakangan sering juga
dikategorikan sebagai kemiskinan. Penyebab kemiskinan tersebut dapat secara
eksternal (struktura) ataupun personal (mental). Sistem kehidupan yang
didasarkan pada prisip kapitalisme akan menciptakan struktur masyarakat di mana
yang kaya semakin kaya dan miskin semakin terpuruk. Akibatnya terjadi
kesenjangan antara kaya dan miskin.
3. Ketidakadilan
Sosial
Salah satu tuntutan kodrat
masunia adalah diperlakukan secara adil. Artinya setiap pribadi manusia
mempunyai hak atas hidupnya yang perlu dihargai dan dihormati oleh orang lain.
Banyak peristiwa yang diketegorikan sebagai ketidakadilan, misalnya perampasan
yang seringkali mengatasnamakan kepentingan rakyat. Persoalan dasar
ketidakadilan adalah bahwa manusia tidak menyadari status kesederajatannya di
hadapan Sang Pencipta sehingga manusia sulit memandang sesamanya sebagai
pribadi yang perlu dihormati dan dihargai.
4. Perusakan
Lingkungan
Isu tetang pemanasan
global, menyadarkan kita bahwa bumi ini sudah semakin tua dan tidak lagi
menjadi tempat yang nyaman dan menjanjikan kesejahteraan hidup bagi manusia.
Banyak bencana alam yang sudah terjadi, seperti banjir, tanah longsor, dll. Di
samping perubahan ekosistem juga karena perbuatan manusia yang tidak
bertanggungjawab, perilaku yang tidak menghargi lingkungan yang mengancam
kelestarian alam.
5. Perkembangan
IPTEK
Di samping
persoalan-persoalan di atas, yang juga perlu disadari adalam perkembangan dunia
yang begitu pesat terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Kemajuan dan perkembanan ilmu pengetahuan dan teknologi tentunya juga menpunyai
dampak positif bagi kehidupan manusia dan dampak negatif.
B. Hubungan
Gereja dan Dunia
Melihat permasalahan dunia
yang terjadi, Gereja sebagai persekutuan umat beriman dan bagian dari dunia,
tentunya tidak akan tinggal diam saja. Sikap dasar Gereja dalam hubungannya
dengan dunia bermula dari suatu pemikiran Paus Yohanes XXIII yang melahirkan
Konsili Vatikan II, yang menghasilkan dokumen-dokumen penting yang mewarnai
tonggak sejarah Gereja dalam kehidupannya di dunia. Salah satu dokumen yang
dihasilkan oleh Konsili Vatikan II adalah Gaudium et Spes (kegembiraan
dan harapan). Dengan Konsili Vatikan II, Gereja membuka dirinya terhadap dunia
luar. Di mana selama ini, Gereja tertutup terhadap dunia luar.
Lewat Konsili Vatikan II,
Gereja sungguh telah memperbaharui diri dalam hubungannya dengan dunia.
Hubungan yang lebih baik ini disebabkan karena Gereja mulai memiliki pandangan
baru tentang dunia dan seiisinya.
1. Pandangan
Baru tentang Dunia dan Manusia
a. Dunia
Pada masa lalu dunia sering kali dipandang negative
sebagai dunia berdosa sehingga terdapat gagasan bahwa dunia tidak berharga,
berbahaya, jahat, dan tidak termasuk lingkup keselamatan manusia, bahkan
merupakan halangan dan rintangan bagi manusia untuk mencapai keselamatan.
Pandangan demikian mungkin didasari oleh penafsiran secara dangkal terhadap
teks Kitab Suci, misal:
“janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di
dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada didalam
orang itu. sebab semua yang ada didalam dunia, yaitu keinginan daging dan
keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari bapa, melainkan
dari dunia” (1 Yoh 2 : 15-16).
“Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah, dan seluruh
dunia berada di bawah kuasa si jahat” ( 1 Yoh 5 : 19).
“Janganlah menjadi
serupa dengan dunia” (Rm 12 : 2).
Dalam Injil ataupun surat-surat juga ditekankan bahwa
dunia berdosa, dunia yang bermusuhan dengan Allahtelah dikalahkan oleh Kristus
( Yoh 16 :33). Berkat Salib Kristus, seorang Kristen hidup dalam dunia yang
baru. Dunia yang terletakdalam genggaman si jahat telah dikalahkan oleh Kristus
seperti dikatakan Paulus:” Karena Salib Kristus, bagiku dunia disalibkan dan
akupun disalibkan bagi dunia “ (Gal 6 : 14).
Konsili Vatikan II mengajak kita untuk melihat dunia
secara lebih positif, Dunia dilihat sebagai seluruh keluarga manusia dengan
segala yang ada di sekelilingnya. Dunia menjadi pentas berlangsungnya sejarah
umat manusia. Dunia ditandai dengan usaha-usaha manusia, dengan segala
kekalahan dan kemenangannya. Dunia diciptakan dan dipelihara oleh cinta kasih
Tuhan Pencipta. Dunia yang pernah jatuh menjadi budak dosa, kini telah
dimerdekakan oleh Kristus yang telah disalibkan dan bangkit pula, untuk
menghancurkan kekuasaan setan agar dunia dapat disusun kembali dengan rencana
Allah dan dapat mencapai kesempurnaan.
b. Manusia
Menyangkut manusia kita bicarakan tentang martabat
manusia, masyarakat manusia dan karya manusia. Sejak dahulu Gereja sudah selalu
mengajarkan bahwa manusia mempunyai martabat yang luhur, karena manusia
diciptakan menurut citra Allah dan dipanggil untuk memanusiawikan dan
mengembangkan diri menyerupai Kristus, dimana citra Allah tampak secara utuh.
Manusia adalah ciptaan yang memiliki akal budi, kehendak
bebas, dan hati nurani. Ketiga-tiganya in menunjukkan bahwa manusia adalah
sebagai citra Allah, walaupun dapat disalah gunakan sehingga jatuh kedalam
dosa.
Manusia sungguh ciptaan yang istimewa, karena ia
diciptakan demi dirinya sendiri, padahal makhluk lain diciptakan hanya untuk
manusia. Pribadi manusia dan masyarakat memang saling bergantungan satu sama
lain. Hal ini sesuai dengan rencana Tuhan karena manusia diciptakan sebagai
makhluk yang bermasyarakat. Allah, yang memelihara segala sesuatu sebagai Bapa,
menghendaki agar semua manusia membentuk satu keluarga dan memperlakukan
seorang akan yang lain dengan jiwa persaudaraan (G.S 24). Kristus sendiri berdoa
agar “ semua menjadi satu …………seperti kita pun satu adanya” (Ya 17 : 21 – 22).
c. Usaha dan Karya Manusia
Perkembangan dunia
disegala bidang memang dikehendaki Tuhan dan manusia dipilih untuk menjadi “
rekan kerja” Tuhan dalam melaksanakan perkembangan dunia. Kebenaran ini perlu
disadari pada masa kemajuan ilmiah dan teknik ini, supaya manusia tidak salah
langkah. Usaha dan karya manusia menjadi apa pun bentuknya mempunyai nilai yang
luhur karena dengan itu manusia menjadi partner Tuhan dalam penyempurnaan dan
menyelamatkan dunia ini. Selanjutnya, dengan berkarya manusia bukan saja
menyempurnakan bumi ini tetapi juga menyempurnakan dirinya sendiri.
2. Misi dan
Tugas Gereja dalam Dunia
Tugas Gereja dalah melanjutkan karya Kristus sendiri yang
datang ke dunia untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran, untuk
menyelamatkan dan bukan untuk menghakimi, untuk melayani dan bukan dilayani (GS
art 3). Misi dan perang Gereja di dunia adalah mewartakan Kerajaan Allah kepada
seluruh umat manusia. Dengan melalui berbagai cara Gereja menghadirkan
nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat. Kerajaan Allah sebagaimana
yang diwartakan dan diperjuangkan oleh Yesus memang baru akan terwujud secara sempurna
pada akhir jaman. Namun Kerajaan Allah itu sudah mulai mendatangi manusia dan
ada diantara kita. Dalam Injil tersirat kesadaran bahwa misi atau
tugas Gereja pertama-tama bukan “penyebaran agama”, melainkan Kabar Gembira
(Kerajaan Allah) yang relevan dan mengena pada situasi konkret manusia dalam
dunia yang majemuk ini. Menjadi pelayan Kerajaan Allah berarti berusaha
dengan segala macam cara ke arah terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di
tengah masyarakat, misalnya persaudaraan, kerjasama, dialog, solidaritas,
keterbukaan, keadilan, hormat kepada hidup, memperhatikan yang lemah, miskin,
tertindas, tersingkirkan, dsb. Bagi Gereja, mewartakan Injil berarti
membawa Kabar Gembira ke segenap lapisan umat manusia, sehingga berkat dayanya
kabar tersebut masuk ke dalam lubuk hati manusia dan membaharui umat manusia
dari dalam. “Lihatlah Aku memperbaharui seluruh ciptaan” (EN 18).
Berikut disebutkan beberapa hal pokok seperti yang
disarankan oleh Gaudium et Spes yang harus menjadi perhatian
Gerej masa kini, yakni :
1. Martabat
Manusia
Manusia dewasa ini berada di jalan menuju pengembangan
kepribadiannya yang lebih penuh dan menuju penemuan serta penebusan hak-haknya
yang makin hari makin bertambah. Untuk itu Gereja dapat berperan antara lain :
a. Membebaskan martabat kodrat mausia dari segala
perubahan paham, misalnya terlalu menekankan dan mendewasakan tubuh manusia
atau sebaliknya.
b. Menolak
dengan tegas segala macam perbudakan dan pemerkosaan martabat dan pribadi
manusia
c. Menempatkan
dan memperjuangkan martabat manusia sesuai dengan maksud Penciptanya.
2. Peran
Gereja dalam Masyarakat
Dalam
kehidupn bermasyarakat, Gereja dapat berperan antara lain sebagai berikut :
a. Membangkitkan karya-karya yang melayani semua
orang, terutama yang miskin, seperti karya-karya amal, dsb.
b. Mendorog semua usaha ke arah persatuan,
sosialisasi, dan persekutuan yang sehat di bidang kewargaan dan ekonomi.
c. Karena
universalitasnya, Gereja dapat menjadi pengantara yang baik antara masyarakat
dan negara-negara yang berbeda-beda hidup budaya dan politik.
3. Usaha dan Karya Manusia
a. Gereja akan tetap meyakinkan putra-putrinya dan
dunia bahwa semua usaha manusia, betapapun kecilnya bila sesuai dengan kehendak
Tuhan mempunyai nilai yang sangat tinggi, karena merupakan sumbangan pada
pelaksanaan rencana Tuhan.
b. Gereja
akan tetap bersikap positif dan mendorong setiap kemajuan ilmiah dan teknik di
dunia ini asal tidak menghalangi melainkan secara positif mengusahakan
tercapainya tujuan akhir manusia.
c. khirnya,
Konsili Vatikan II mencatat masalah-masalah yang dilihatnya sebagai masalah
yang mendesak, yakni martabat pernikahan dan kehidupan keluarga, pengembangan
kemajuan kebudayaan, kehidupan sosial ekonomi dan politik serta perdamaian dan
persatuan bangsa-bangsa.
3. Hubungan antara Gereja
dan Dunia
Menyangkut
hubungan antara gereja dan dunia dapat diangkat satu dua hal berikut ini
a. Gereja
setelah Konsili Vatikan II (Gereja postkonsilier) melihat dirinya
sebagai “ Sakramen Keselamatan” bagi dunia. Gereja
menjadi terang, garam, dan ragi bagi dunia. Dunia menjadi tempat atau lading.
Dimana Gereja berbakti. Dunia tidak dihina dan dijauhi, tetapi didatangi dan
ditawari keselamatan.
b. Gereja
dijadikan Mitra Dialog. Gereja dapat menawarkan nilai-nilai injili dan
dunia dapat mengembangkan kebudayaannya, adapt istiadat, alam pikiran, ilmu
pengetahuan dan teknologi, sehingga Gereja dapat lebih efektif menjalankan
misinya di dunia.
c. Gereja
tetap menghormati otonomi dunia dengan sifatya yang sekuler, karena
didalamnya terkandung nilai-nilai yang dapat mensejahterakan manusia dan
membangun sendi-sendi Kerajaan Allah.
Sebenarnya, Gereja dan dunia manusia
merupakan realitas yang sama, seperti mata uang yang ada dua sisinya. Berbicara
tentang Gereja berarti berbicara tentang dunia manusia. Bagi seorang Kristen
berbicara tentang dunia manusia berarti berbicara tentang Gereja sebagai umat
Allah yang sedang berziarah didunia ini.
C. Ajaran
Sosial Gereja
Sejak perkembangan
industri modern, massa buruh berjubel di kota-kota besar tanpa jaminan masa
depan. Muncullah berbagai macam masalah sosial baru yang berat, antaralain
masalah upah yang adil, kepastian tempat kerja, hak mogok yang pada dasarnyamempertanyakan
adil tidaknya struktur masyarakat itu sendiri. Maka timbullah Gerakan Gereja
dalam rangka menebarkan bendera cinta kasih kepada sesama manusia dan
kewajiban terhadap masyarakat.
Kehadiran ajaran sosial Gereja dapat digambarkan dalam
tiga tahap, yaitu :
1) Ajaran sosial Gereja yang dikembangkan sejak abad XIX
merupakan bagian integral dari seluruh pandangan hidup Kristiani. Antara
terbitnya Ensiklik Rerum Novarum (1891) dan Ensiklik Mater et Magistra (1961)
dikembangkan ajaran sosial klasik yang berkisar pada masalah-masalah keadilan
untuk para butuh upahan.
2) Mulai dari Ensiklik Master Magistra (1961), Gaudium et
Spes (1965) dan Populorum Progressio (1977) dimunculkan tekanan baru
pada segi pastoral dan praksis, dimensi sosial manusia dan masalah hak-hak
asasi manusia.
3) Ajaran sosial Gereja sering terkesan sebagai pedoman
yang kaku. Terdorong dan diterangi iman dicari jawaban atas masalah-masalah
baru. Bila keputusan dan tindakan
politiknya tidak adil, maka Gereja berbicara.
1. Arti
dan Makna Ajaran Sosial Gereja
Ajaran sosial gereja adalah gereja mengenai hak dan
kewajiban berbagai anggota masyarakat dalam hubungannya dengan kebaikan bersama
dalam lingkup nasional maupun internasional.
Ajaran sosial Gereja merupakan tanggapan Gereja terhadap
fenomena atau persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia dalam bentuk
himbauan, kritik dan dukungan. Ajaran sosial Gereja bersifat lunak, bila
dibandingkan dengan ajaran Gereja dalam arti ketat, yaitu dogma. Dengan kata
lain, ajaran sosial Gereja merupakan bentuk keprihatinan Gereja terhadapa dunia
dan umat manusia dalam wujud dokumen yang perlu disosialisasikan. Karena
masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia beragama bervariasi, dan ini dipengaruhi
oleh semangat dan kebutuhan zaman, maka tanggapan Gereja juga bervariasi sesuai
dengan isu sosial yang muncul.
2. Ensiklik-Ensiklik
dan Dokumen Konsili Vatikan II Memuat Ajaran Sosial Gereja Sepanjang Masa
a. Ajaran Sosial
gereja dari Rerum Novarum sampai dengan Konsili Vatikan II
Ajaran sosial Gereja dalam dunia modern berawal dari tahun 1981, ketika Paus
Leo XIII mengeluarkan ensiklik Rerum Novarum. Dalam ensiklik itu Paus dengan
tegas menentang kondisi-kondisi yang tidak manusiawi yang menjadi situasi buruk
bagi kaum buruh dalam masyarakat industri. Paus mengatakan 3 faktor kunci yang
mendasari kehidupan ekonomi, yaitu buruh, modal, dan Negara. Paus juga
menunjukkan bahwa saling hubungan yang wajar dan adil antara tiga hal itu
menjadi masalah pokok ajaran sosial Gereja. Pada tahun 1931, pada peringatan
Ke-40 tahun Rerum Novarum, Paus Pius XI menulis ensiklik Quadragesimo Anno.
Dalam ensiklik itu, Paus Pius XI masalah-masalah ketidakadilan sosial dan mengajak
semua pihak untuk mengatur kembali tatanan sosial berdasarkan apa yang telah
ditunjukkan oleh Paus Leo XIII dalam Rerum Novarum.
Paus Pius XI menegaskan kembali hak dan kewajiban Gereja
dalam menanggapi masalah-masalah sosial, mengamcam kapitalisme dan persaingan
bebas serta komunisme yang menganjurkan pertentangan kelas dan pendewaan
kepemimpinan kediktatoran kelas buruh. Paus menegaskan perlunya tanggungjawab
sosial dari milik pribadi dan hak-hak kaum buruh atas kerja, upah yang adil,
serta berserikat guna melindungi hak-hak mereka.
Tiga puluh tahun kemudian, Paus Yohanes XXVIII menulis
dua ensiklik untuk menanggapi masalah-masalah pokok zamannya, yaitu Mater et
Magistra (1961) dan Pacem in Terris (1963). Dalam dua ensiklik ini, Paus
Yohanes XXVIII menyampaikan sejumlah petunjuk bagi umat Kristiani dan para
pengambil kebijakan dalam menanggapi kesenjangan di antara bangsa-bangsa yang
kaya dan miskin, dan ancaman terhadap perdamaian dunia. Paus mengajak
orang-orang Kristiani dan “semua orang yang berkehendak baik” bekerja sama
menciptakan lembaga-lemabaga sosial (local, nasional, ataupun internasional),
sekaligus menghargai martabat manusia dan menegakkan keadilan serta perdamaian.
b. Ajaran sosial Gereja
sesudah Konsili Vatikan II dan sesudahnya.
Ketika Paus Yohanes XXVIII mengadakan Konsili Vatikan II
dalam bulan oktober 1962, dia membuka jendela Gereja agar masuk udara segar
dunia modern. Konsili ekumenis yang ke-21 inilah yang pertama kali
merefleksikan Gereja yang sungguh-sungguh mendunia. Selama tiga tahun, para
cardinal dan para uskup dari berbagai penjuru dunia dan hampir semua bangsa
berkumpul untuk mendiskusikan hakikat Gereja dalam dunia modern ini termuat
dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan). Dalam
Gaudium et spes ini, para bapa konsili meneguhkan bahwa perutusan khas religius
Gereja memberinya tugas, terang dan kekuatan yang dapat membantu pembentukan
dan pemantapan masyarakat manusia menurut hukum Ilahi. Keadaan, waktu, dan
tempat menuntut agar Gereja dan bahkan memulai kegiatan sosial demi semua
orang.
Sejak Konsili Vatikan II, pernyataan-pernyataan Paus
Paulus VI dan Yohanes Paulus II, sinode para uskup dan konperensi-konperensi
para uskup regional maupun nasional semakin mempertajam perenan Gereja dalam
tanggung jawab terhadap dunia yang sedang berubah dengan pesat ini. Kedua Paus
dan para uskup itu sepenuhnya sadar bahwa mencari kehendak Allah dalam arus
sejarah dunia bukanlah tugas yang sederhana. Mereka juga menyadari bahwa Gereja
tidak mempunyai pemecahan yang langsung dan secara universal dapat memecahkan
masalah-masalah masyarakat yang kompleks dan semakin mendesak.
Ada tiga dokumen yang secara khusus memberi sumbangan
Gereja mengenai tanggung jawab itu :
Dalam Dokumen Populorum Progresssio (1967),
Paus Paulus VI menanggapi jeritan kemiskinan dan kelaparan dunia, menunjukkan
adanya ketidakadilan structural. Ia menghimbau Negara-negara kaya maupun miskin
agar bekerja sama dalam semangat solidaritas untuk membangun “tata keadilan dan
membaharui tata dunia”.
Dokumen kedua berupa surat apostolic Octogesima Adveniens yang
ditulis oleh Paus Paulus VI tahun 1971 untuk merayakan 80 tahun dokumen Rerum
Novarum. Dalam surat ini ditengahkan bahwa kesulitan menciptakan tatanan
baru melekat dalam proses pembangunan tatanan itu sendiri. Paus Paulus VI
sekaligus menegaskan peranan jemaat-jemaat Kristiani dalam mengemban tanggung
jawab baru ini.
Pada tahun itu juga, para uskup dari seluruh dunia
berkumpul dalam sinode dan menyiapkan pernyataan keadilan didalam dunia. Dalam
dokumen ketiga yang membeberkan pengaruh Gereja yang mendunia, para uskup
mengidentifikasikan dinamika Injil dengan harapan-harapan manusia akan dunia
yang lebih baik. Para uskup mendesak agar keadilan diusahakan di berbagai
lapisan masyarakat, terutama di antara bangsa-bangsa kaya dan kuat, serta
bangsa-bangsa yang miskin dan lemah.
Dalam tahun 1981, Paus Yohanes Paulus II, mengeluarkan ensiklik yang
berjudul Laborem Excercens. Ensiklik ini membahas makna kerja
manusia. Manusia dengan bekerja mengembangkan karya Allah dan memberi sumbangan
bagi terwujudnya rencana penyelamatan Allah dalam sejarah. Tenaga kerja harus
lebih diutamakan daripada modal dan teknologi.