Senin, 02 Maret 2026

GEREJA DAN DUNIA

 Konsili Vatikan II sungguh telah memperbaharui Gereja dan hubungannya dengan dunia. Hubungan yang menjadi baik ini disebabkan karena Gereja mulai memiliki pandangan baru tentang dunia dan manusia. Mungkin ada baiknya kita melihat pandangan-pandanganbaru tentang dunia dan gereja, kemudian kita melihat hubungan antara Gereja dan dunia serta alasan-alasan mengapa harus terjalin hubungan yang saling mengisi antara keduanya.

 

A.    Permasalahan yang Dihadapi Dunia

Persoalan dunia, dapat kita petakan lewat beberapa peristiwa yang dihadapi, yang dapat menjadi gambaran bagaimana persoalan dunia itu sebenarnya.

 

1.      Perang

Dewasa ini masih banyak kawasan yang dilanda peperangan, tidak ketinggalan Indonesia, masih sering terjadi bentrokan, perang suku, perang antar kelompok. Yang menjadi pemicunya seringkali ambisi kekuasaan, ada kecenderungan hasrat manusia ingin berkuasa dan menguasai manusia yang lain, yang tentunya hal ini menjadi permasalahan serius, karena manusia tidak lagi menyadari bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk hidup bersama dalam kebersamaan, kedamaian, saling melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain.

 

2.      Kemiskinan

Kemiskinan sering dipahami sebagai kondisi kehidupan manusia yang tidak layak atau tidak memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia, seperti sandang, pangan dan papan, namun sesungguhnya kemiskinan dapat juga dipahami secara sosial ekonomi, dan mental. oleh karena itu, kenyataan adanya kebodohan dan keterbelakangan sering juga dikategorikan sebagai kemiskinan. Penyebab kemiskinan tersebut dapat secara eksternal (struktura) ataupun personal (mental). Sistem kehidupan yang didasarkan pada prisip kapitalisme akan menciptakan struktur masyarakat di mana yang kaya semakin kaya dan miskin semakin terpuruk. Akibatnya terjadi kesenjangan antara kaya dan miskin.

 

3.      Ketidakadilan Sosial

Salah satu tuntutan kodrat masunia adalah diperlakukan secara adil. Artinya setiap pribadi manusia mempunyai hak atas hidupnya yang perlu dihargai dan dihormati oleh orang lain. Banyak peristiwa yang diketegorikan sebagai ketidakadilan, misalnya perampasan yang seringkali mengatasnamakan kepentingan rakyat. Persoalan dasar ketidakadilan adalah bahwa manusia tidak menyadari status kesederajatannya di hadapan Sang Pencipta sehingga manusia sulit memandang sesamanya sebagai pribadi yang perlu dihormati dan dihargai.

 

4.      Perusakan Lingkungan

Isu tetang pemanasan global, menyadarkan kita bahwa bumi ini sudah semakin tua dan tidak lagi menjadi tempat yang nyaman dan menjanjikan kesejahteraan hidup bagi manusia. Banyak bencana alam yang sudah terjadi, seperti banjir, tanah longsor, dll. Di samping perubahan ekosistem juga karena perbuatan manusia yang tidak bertanggungjawab, perilaku yang tidak menghargi lingkungan yang mengancam kelestarian alam.

 

5.      Perkembangan IPTEK

Di samping persoalan-persoalan di atas, yang juga perlu disadari adalam perkembangan dunia yang begitu pesat terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Kemajuan dan perkembanan ilmu pengetahuan dan teknologi tentunya juga menpunyai dampak positif bagi kehidupan manusia dan dampak negatif.

 

B.     Hubungan Gereja dan Dunia

Melihat permasalahan dunia yang terjadi, Gereja sebagai persekutuan umat beriman dan bagian dari dunia, tentunya tidak akan tinggal diam saja. Sikap dasar Gereja dalam hubungannya dengan dunia bermula dari suatu pemikiran Paus Yohanes XXIII yang melahirkan Konsili Vatikan II, yang menghasilkan dokumen-dokumen penting yang mewarnai tonggak sejarah Gereja dalam kehidupannya di dunia. Salah satu dokumen yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II adalah Gaudium et Spes (kegembiraan dan harapan). Dengan Konsili Vatikan II, Gereja membuka dirinya terhadap dunia luar. Di mana selama ini, Gereja tertutup terhadap dunia luar.

Lewat Konsili Vatikan II, Gereja sungguh telah memperbaharui diri dalam hubungannya dengan dunia. Hubungan yang lebih baik ini disebabkan karena Gereja mulai memiliki pandangan baru tentang dunia dan seiisinya.

 

1. Pandangan Baru tentang Dunia dan Manusia

a. Dunia

Pada masa lalu dunia sering kali dipandang negative sebagai dunia berdosa sehingga terdapat gagasan bahwa dunia tidak berharga, berbahaya, jahat, dan tidak termasuk lingkup keselamatan manusia, bahkan merupakan halangan dan rintangan bagi manusia untuk mencapai keselamatan. Pandangan demikian mungkin didasari oleh penafsiran secara dangkal terhadap teks Kitab Suci, misal:

“janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada didalam orang itu. sebab semua yang ada didalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari bapa, melainkan dari dunia” (1 Yoh 2 : 15-16).

“Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah, dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat” ( 1 Yoh 5 : 19).

       “Janganlah menjadi serupa dengan dunia” (Rm 12 : 2).

Dalam Injil ataupun surat-surat juga ditekankan bahwa dunia berdosa, dunia yang bermusuhan dengan Allahtelah dikalahkan oleh Kristus ( Yoh 16 :33). Berkat Salib Kristus, seorang Kristen hidup dalam dunia yang baru. Dunia yang terletakdalam genggaman si jahat telah dikalahkan oleh Kristus seperti dikatakan Paulus:” Karena Salib Kristus, bagiku dunia disalibkan dan akupun disalibkan bagi dunia “ (Gal 6 : 14).

Konsili Vatikan II mengajak kita untuk melihat dunia secara lebih positif, Dunia dilihat sebagai seluruh keluarga manusia dengan segala yang ada di sekelilingnya. Dunia menjadi pentas berlangsungnya sejarah umat manusia. Dunia ditandai dengan usaha-usaha manusia, dengan segala kekalahan dan kemenangannya. Dunia diciptakan dan dipelihara oleh cinta kasih Tuhan Pencipta. Dunia yang pernah jatuh menjadi budak dosa, kini telah dimerdekakan oleh Kristus yang telah disalibkan dan bangkit pula, untuk menghancurkan kekuasaan setan agar dunia dapat disusun kembali dengan rencana Allah dan dapat mencapai kesempurnaan.

 

b. Manusia

Menyangkut manusia kita bicarakan tentang martabat manusia, masyarakat manusia dan karya manusia. Sejak dahulu Gereja sudah selalu mengajarkan bahwa manusia mempunyai martabat yang luhur, karena manusia diciptakan menurut citra Allah dan dipanggil untuk memanusiawikan dan mengembangkan diri menyerupai Kristus, dimana citra Allah tampak secara utuh.

Manusia adalah ciptaan yang memiliki akal budi, kehendak bebas, dan hati nurani. Ketiga-tiganya in menunjukkan bahwa manusia adalah sebagai citra Allah, walaupun dapat disalah gunakan sehingga jatuh kedalam dosa.

Manusia sungguh ciptaan yang istimewa, karena ia diciptakan demi dirinya sendiri, padahal makhluk lain diciptakan hanya untuk manusia. Pribadi manusia dan masyarakat memang saling bergantungan satu sama lain. Hal ini sesuai dengan rencana Tuhan karena manusia diciptakan sebagai makhluk yang bermasyarakat. Allah, yang memelihara segala sesuatu sebagai Bapa, menghendaki agar semua manusia membentuk satu keluarga dan memperlakukan seorang akan yang lain dengan jiwa persaudaraan (G.S 24). Kristus sendiri berdoa agar “ semua menjadi satu …………seperti kita pun satu adanya” (Ya 17 : 21 – 22).

 

c.  Usaha dan Karya Manusia

       Perkembangan dunia disegala bidang memang dikehendaki Tuhan dan manusia dipilih untuk menjadi “ rekan kerja” Tuhan dalam melaksanakan perkembangan dunia. Kebenaran ini perlu disadari pada masa kemajuan ilmiah dan teknik ini, supaya manusia tidak salah langkah. Usaha dan karya manusia menjadi apa pun bentuknya mempunyai nilai yang luhur karena dengan itu manusia menjadi partner Tuhan dalam penyempurnaan dan menyelamatkan dunia ini. Selanjutnya, dengan berkarya manusia bukan saja menyempurnakan bumi ini tetapi juga menyempurnakan dirinya sendiri.

 

2.  Misi dan Tugas Gereja dalam Dunia

Tugas Gereja dalah melanjutkan karya Kristus sendiri yang datang ke dunia untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran, untuk menyelamatkan dan bukan untuk menghakimi, untuk melayani dan bukan dilayani (GS art 3). Misi dan perang Gereja di dunia adalah mewartakan Kerajaan Allah kepada seluruh umat manusia. Dengan melalui berbagai cara Gereja menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat. Kerajaan Allah sebagaimana yang diwartakan dan diperjuangkan oleh Yesus memang baru akan terwujud secara sempurna pada akhir jaman. Namun Kerajaan Allah itu sudah mulai mendatangi manusia dan ada diantara kita.  Dalam Injil tersirat kesadaran bahwa misi atau tugas Gereja pertama-tama bukan “penyebaran agama”, melainkan Kabar Gembira (Kerajaan Allah) yang relevan dan mengena pada situasi konkret manusia dalam dunia yang majemuk ini. Menjadi pelayan Kerajaan Allah berarti berusaha dengan segala macam cara ke arah terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat, misalnya persaudaraan, kerjasama, dialog, solidaritas, keterbukaan, keadilan, hormat kepada hidup, memperhatikan yang lemah, miskin, tertindas, tersingkirkan, dsb. Bagi Gereja, mewartakan Injil berarti membawa Kabar Gembira ke segenap lapisan umat manusia, sehingga berkat dayanya kabar tersebut masuk ke dalam lubuk hati manusia dan membaharui umat manusia dari dalam. “Lihatlah Aku memperbaharui seluruh ciptaan” (EN 18).

Berikut disebutkan beberapa hal pokok seperti yang disarankan oleh Gaudium et Spes yang harus menjadi perhatian Gerej masa kini, yakni :

1.      Martabat Manusia

Manusia dewasa ini berada di jalan menuju pengembangan kepribadiannya yang lebih penuh dan menuju penemuan serta penebusan hak-haknya yang makin hari makin bertambah. Untuk itu Gereja dapat berperan antara lain :

a.    Membebaskan martabat kodrat mausia dari segala perubahan paham, misalnya terlalu menekankan dan mendewasakan tubuh manusia atau sebaliknya.

b.    Menolak dengan tegas segala macam perbudakan dan pemerkosaan martabat dan pribadi manusia

c.     Menempatkan dan memperjuangkan martabat manusia sesuai dengan maksud Penciptanya.

2.    Peran Gereja dalam Masyarakat

Dalam kehidupn bermasyarakat, Gereja dapat berperan antara lain sebagai berikut :

a.    Membangkitkan karya-karya yang melayani semua orang, terutama yang miskin, seperti karya-karya amal, dsb.

b.    Mendorog semua usaha ke arah persatuan, sosialisasi, dan persekutuan yang sehat di bidang kewargaan dan ekonomi.

c.    Karena universalitasnya, Gereja dapat menjadi pengantara yang baik antara masyarakat dan negara-negara yang berbeda-beda hidup budaya dan politik.

 

3.    Usaha dan Karya Manusia

a.    Gereja akan tetap meyakinkan putra-putrinya dan dunia bahwa semua usaha manusia, betapapun kecilnya bila sesuai dengan kehendak Tuhan mempunyai nilai yang sangat tinggi, karena merupakan sumbangan pada pelaksanaan rencana Tuhan.

b.    Gereja akan tetap bersikap positif dan mendorong setiap kemajuan ilmiah dan teknik di dunia ini asal tidak menghalangi melainkan secara positif mengusahakan tercapainya tujuan akhir manusia.

c.     khirnya, Konsili Vatikan II mencatat masalah-masalah yang dilihatnya sebagai masalah yang mendesak, yakni martabat pernikahan dan kehidupan keluarga, pengembangan kemajuan kebudayaan, kehidupan sosial ekonomi dan politik serta perdamaian dan persatuan bangsa-bangsa.

 

 

 

3.  Hubungan antara Gereja dan Dunia

Menyangkut hubungan antara gereja dan dunia dapat diangkat satu dua hal berikut ini

a.      Gereja setelah Konsili Vatikan II (Gereja postkonsilier) melihat dirinya sebagai     “ Sakramen Keselamatan” bagi dunia. Gereja menjadi terang, garam, dan ragi bagi dunia. Dunia menjadi tempat atau lading. Dimana Gereja berbakti. Dunia tidak dihina dan dijauhi, tetapi didatangi dan ditawari keselamatan.

b.      Gereja dijadikan Mitra Dialog. Gereja dapat menawarkan nilai-nilai injili dan dunia dapat mengembangkan kebudayaannya, adapt istiadat, alam pikiran, ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga Gereja dapat lebih efektif menjalankan misinya di dunia.

c.       Gereja tetap menghormati otonomi dunia dengan sifatya yang sekuler, karena didalamnya terkandung nilai-nilai yang dapat mensejahterakan manusia dan membangun sendi-sendi Kerajaan Allah.

 

Sebenarnya, Gereja dan dunia manusia merupakan realitas yang sama, seperti mata uang yang ada dua sisinya. Berbicara tentang Gereja berarti berbicara tentang dunia manusia. Bagi seorang Kristen berbicara tentang dunia manusia berarti berbicara tentang Gereja sebagai umat Allah yang sedang berziarah didunia ini.

 

C.      Ajaran Sosial Gereja

       Sejak perkembangan industri modern, massa buruh berjubel di kota-kota besar tanpa jaminan masa depan. Muncullah berbagai macam masalah sosial baru yang berat, antaralain masalah upah yang adil, kepastian tempat kerja, hak mogok yang pada dasarnyamempertanyakan adil tidaknya struktur masyarakat itu sendiri. Maka timbullah Gerakan Gereja dalam rangka menebarkan bendera cinta kasih kepada sesama manusia dan

kewajiban terhadap masyarakat.

Kehadiran ajaran sosial Gereja dapat digambarkan dalam tiga tahap, yaitu :

1) Ajaran sosial Gereja yang dikembangkan sejak abad XIX merupakan bagian integral dari seluruh pandangan hidup Kristiani. Antara terbitnya Ensiklik Rerum Novarum (1891) dan Ensiklik Mater et Magistra (1961) dikembangkan ajaran sosial klasik yang berkisar pada masalah-masalah keadilan untuk para butuh upahan.

2) Mulai dari Ensiklik Master Magistra (1961), Gaudium et Spes (1965) dan Populorum Progressio (1977) dimunculkan tekanan baru pada segi pastoral dan praksis, dimensi sosial manusia dan masalah hak-hak asasi manusia.

3) Ajaran sosial Gereja sering terkesan sebagai pedoman yang kaku. Terdorong dan diterangi iman dicari jawaban atas masalah-masalah baru. Bila keputusan dan tindakan

politiknya tidak adil, maka Gereja berbicara.

 

1.      Arti dan Makna Ajaran Sosial Gereja

Ajaran sosial gereja adalah gereja mengenai hak dan kewajiban berbagai anggota masyarakat dalam hubungannya dengan kebaikan bersama dalam lingkup nasional maupun internasional.

Ajaran sosial Gereja merupakan tanggapan Gereja terhadap fenomena atau persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia dalam bentuk himbauan, kritik dan dukungan. Ajaran sosial Gereja bersifat lunak, bila dibandingkan dengan ajaran Gereja dalam arti ketat, yaitu dogma. Dengan kata lain, ajaran sosial Gereja merupakan bentuk keprihatinan Gereja terhadapa dunia dan umat manusia dalam wujud dokumen yang perlu disosialisasikan. Karena masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia beragama bervariasi, dan ini dipengaruhi oleh semangat dan kebutuhan zaman, maka tanggapan Gereja juga bervariasi sesuai dengan isu sosial yang muncul.

 

2.      Ensiklik-Ensiklik dan Dokumen Konsili Vatikan II Memuat Ajaran Sosial Gereja Sepanjang Masa

a.      Ajaran Sosial gereja dari Rerum Novarum sampai dengan Konsili Vatikan II
Ajaran sosial Gereja dalam dunia modern berawal dari tahun 1981, ketika Paus Leo XIII mengeluarkan ensiklik Rerum Novarum. Dalam ensiklik itu Paus dengan tegas menentang kondisi-kondisi yang tidak manusiawi yang menjadi situasi buruk bagi kaum buruh dalam masyarakat industri. Paus mengatakan 3 faktor kunci yang mendasari kehidupan ekonomi, yaitu buruh, modal, dan Negara. Paus juga menunjukkan bahwa saling hubungan yang wajar dan adil antara tiga hal itu menjadi masalah pokok ajaran sosial Gereja. Pada tahun 1931, pada peringatan Ke-40 tahun Rerum Novarum, Paus Pius XI menulis ensiklik Quadragesimo Anno. Dalam ensiklik itu, Paus Pius XI masalah-masalah ketidakadilan sosial dan mengajak semua pihak untuk mengatur kembali tatanan sosial berdasarkan apa yang telah ditunjukkan oleh Paus Leo XIII dalam Rerum Novarum.

Paus Pius XI menegaskan kembali hak dan kewajiban Gereja dalam menanggapi masalah-masalah sosial, mengamcam kapitalisme dan persaingan bebas serta komunisme yang menganjurkan pertentangan kelas dan pendewaan kepemimpinan kediktatoran kelas buruh. Paus menegaskan perlunya tanggungjawab sosial dari milik pribadi dan hak-hak kaum buruh atas kerja, upah yang adil, serta berserikat guna melindungi hak-hak mereka.

Tiga puluh tahun kemudian, Paus Yohanes XXVIII menulis dua ensiklik untuk menanggapi masalah-masalah pokok zamannya, yaitu Mater et Magistra (1961) dan Pacem in Terris (1963). Dalam dua ensiklik ini, Paus Yohanes XXVIII menyampaikan sejumlah petunjuk bagi umat Kristiani dan para pengambil kebijakan dalam menanggapi kesenjangan di antara bangsa-bangsa yang kaya dan miskin, dan ancaman terhadap perdamaian dunia. Paus mengajak orang-orang Kristiani dan “semua orang yang berkehendak baik” bekerja sama menciptakan lembaga-lemabaga sosial (local, nasional, ataupun internasional), sekaligus menghargai martabat manusia dan menegakkan keadilan serta perdamaian.

b.     Ajaran sosial Gereja sesudah Konsili Vatikan II   dan sesudahnya.

Ketika Paus Yohanes XXVIII mengadakan Konsili Vatikan II dalam bulan oktober 1962, dia membuka jendela Gereja agar masuk udara segar dunia modern. Konsili ekumenis yang ke-21 inilah yang pertama kali merefleksikan Gereja yang sungguh-sungguh mendunia. Selama tiga tahun, para cardinal dan para uskup dari berbagai penjuru dunia dan hampir semua bangsa berkumpul untuk mendiskusikan hakikat Gereja dalam dunia modern ini termuat dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan). Dalam Gaudium et spes ini, para bapa konsili meneguhkan bahwa perutusan khas religius Gereja memberinya tugas, terang dan kekuatan yang dapat membantu pembentukan dan pemantapan masyarakat manusia menurut hukum Ilahi. Keadaan, waktu, dan tempat menuntut agar Gereja dan bahkan memulai kegiatan sosial demi semua orang.

Sejak Konsili Vatikan II, pernyataan-pernyataan Paus Paulus VI dan Yohanes Paulus II, sinode para uskup dan konperensi-konperensi para uskup regional maupun nasional semakin mempertajam perenan Gereja dalam tanggung jawab terhadap dunia yang sedang berubah dengan pesat ini. Kedua Paus dan para uskup itu sepenuhnya sadar bahwa mencari kehendak Allah dalam arus sejarah dunia bukanlah tugas yang sederhana. Mereka juga menyadari bahwa Gereja tidak mempunyai pemecahan yang langsung dan secara universal dapat memecahkan masalah-masalah masyarakat yang kompleks dan semakin mendesak.

 

Ada tiga dokumen yang secara khusus memberi sumbangan Gereja mengenai tanggung jawab itu :

Dalam Dokumen Populorum Progresssio (1967), Paus Paulus VI menanggapi jeritan kemiskinan dan kelaparan dunia, menunjukkan adanya ketidakadilan structural. Ia menghimbau Negara-negara kaya maupun miskin agar bekerja sama dalam semangat solidaritas untuk membangun “tata keadilan dan membaharui tata dunia”.
Dokumen kedua berupa surat apostolic Octogesima Adveniens yang ditulis oleh Paus Paulus VI tahun 1971 untuk merayakan 80 tahun dokumen Rerum Novarum. Dalam surat ini ditengahkan bahwa kesulitan menciptakan tatanan baru melekat dalam proses pembangunan tatanan itu sendiri. Paus Paulus VI sekaligus menegaskan peranan jemaat-jemaat Kristiani dalam mengemban tanggung jawab baru ini.

Pada tahun itu juga, para uskup dari seluruh dunia berkumpul dalam sinode dan menyiapkan pernyataan keadilan didalam dunia. Dalam dokumen ketiga yang membeberkan pengaruh Gereja yang mendunia, para uskup mengidentifikasikan dinamika Injil dengan harapan-harapan manusia akan dunia yang lebih baik. Para uskup mendesak agar keadilan diusahakan di berbagai lapisan masyarakat, terutama di antara bangsa-bangsa kaya dan kuat, serta bangsa-bangsa yang miskin dan lemah.
Dalam tahun 1981, Paus Yohanes Paulus II, mengeluarkan ensiklik yang berjudul Laborem Excercens. Ensiklik ini membahas makna kerja manusia. Manusia dengan bekerja mengembangkan karya Allah dan memberi sumbangan bagi terwujudnya rencana penyelamatan Allah dalam sejarah. Tenaga kerja harus lebih diutamakan daripada modal dan teknologi.


Dalam ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (1987), Paus Yohanes Paulus II mengangkat kembali tentang pembangunan yang mengeksploitasi orang-orang kecil. Beliau berbicara tentang struktur-struktur dosa yang membelenggu masyarakat. Dalam ensiklik Centesimus Annus (1991), Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan bahwa Gereja hendaknya terus belajar untuk bergumul dengan soal-soal sosial.

KARYA PASTORAL GEREJA

 

A.      Geraja Yang Menguduskan (Liturgia)

 

Arti Kata :

Kata “liturgi” berasal dari bahasa Yunani leitourgia, terbentuk dari akar kata ergon yang berarti “karya, kerja atau bakti. Gereja Katolik lalu mengambil istilah liturgi untuk mengartikan kultus/ ibadat. Ibadat ini kemudian berpuncak pada EKARISTI, dimana gereja mengalami persatuan dengan Kristus.

Liturgi merupakan tugas gereja ketika menjalankan fungsi imamatnya. Imamat dalam gereja ada dua jenis, yakni imamat umum yang diterima oleh semua orang yang dibabtis, dan imamat khusus yang diterima oleh mereka yang ditahbiskan.

Ibadat atau liturgi disebut sebagai doa resmi gereja, karena di dalamnya ada kesatuan Gereja dengan Kristus. Liturgi adalah karya Kristus, Imam Agung serta Tubuh-nya, yaitu Gereja. Liturgi menjadi wahana utama untuk (1) mengantar umat Kristiani ke dalam persatuan pribadi dengan Kristus (Sacrosanctum Consilium, Art.7). Itu sebabnya maka liturgi sekaligus (2) menguduskan umat.

 

a.    Doa Dan Ibadat

Doa dan ibadat merupakan salah satu tugas gereja untuk menguduskan umatnya dan umat manusia. Tugas ini disebut tugas imamiah Gereja, yang artinya Kristus, Tuhan, Imam Agung yang dipilih antara manusia menjadikan umat baru, “kerajaan imam-imam bagi Allah dan BapaNya”. Mereka yang dibaptis dan diurapi Roh Kudus disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci untuk (sebagai orang kristiani dengan segala perbuatan mereka) mempersembahkan korban rohani dan mewartakan daya kekuatanNya.

Oleh sebab itu gereja bertekun dalam doa, memuji Allah dan mempersembahkan diri sebagai korban yang hidup suci dan berkenan pada Allah.Gereja memiliki imamat umum dan imamat jabatan, yang dengan cara khasnya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus.

Imamat umum: melaksanakan tugas pengudusan antara lain dengan berdoa, menyambut sakramen-sakramen, memberi kesaksian hidup, pengingkaran diri serta melaksanakan cinta kasih secara aktif dan kreatif.

Imamat jabatan: membentuk dan memimpin umat, memberi pelayanan sakramen-sakaramen.

Jadi, seluruh Gereja diberi bagian dalam imamat Kristus untuk melakukan suatu ibadat rohani demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia.Ibadat rohani adalah setiap ibadat yang dilakukan dalam Roh oleh setiap orang Kristiani.

 

 

1.      Doa yang Biasa

Arti  : Doa berarti berdialog atau berkomunikasi dengan ALlah, sebagai ungkapan iman pribadi atau bersama-sama. Doa juga dapat berarti ungkapan iman secara pribadi dan bersama-sama dalam komunikasi dan dialog yang bersifat pribadi antara manusia dan Tuhan dalam kehidupan nyata

Mengapa kita Berdoa

a.     Menjadi kuat : Lukas  22:40 Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan

b.    Mendapat keselamatan : Matius  24:20 Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat.

c.    Keberhasilan : Matius  7:7. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

d.   Persatuan dengan Allah : Kisah Para Rasul  22:17 Sesudah aku kembali di Yerusalem dan ketika aku sedang berdoa di dalam Bait Allah, rohku diliputi oleh kuasa ilahi.

Doa yang Baik

a.    Dengan hati yang bersih : Yohanes  15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

b.    Penuh Iman dan Percaya : Markus  11:24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

c.    Untuk kebaikan diri dan sesama : Yakobus  4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

d.    Hati yang tulus dan bersih : I Timotius  2:8 Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.

e.    Tidak putus asa dalam berharap : Lukas 18.2, kisah serang janda yang terus menerus meminta kepada hakim untuk membela perkaranya. Kisah Abraham dan Sarai, Elisabeth dan Zakaria yang doanya terkabul ketika sudah tua.

Fungsi Doa :

1.    Mengkomunikasikan diri dengan kepada Allah

2.    Mempersatukan diri dengan Allah.

3.    Mengungkapkan cinta, kepercayaan dan harapan kepada Allah agar dapat melihat hidup dengan mata iman.

4.    Mengangkat setiap harya sebagai doa yang hidup, yakni karya yang bersifat merasul dan menyelamatkan.

Syarat Doa yang baik

1.    Didoakan dengan hati.

2.    Berakar pada pengalaman hidup.

3.    Berdoa dengan tulus (Jika engkau berdoa, masuklah kamarmu…Matius 6:5-6)

4.    Berdoa dengan cara sederhana dan jujur. (“… doamu janganlah bertele-tele…. Matius 6:7)

 

2.      Doa Resmi Gereja

Doa resmi Gereja disebut ibadat atau liturgi. Yang pokok bukan sifat resmi atau kebersamaan, melainkan kesatuan Gereja dengan Kristus dalam doa. Dengan demikian, liturgi adalah “karya Kristus, Imam Agung, serta TubuhNya yaitu Gereja”.Oleh karena itu, liturgi tidak hanya merupakan “kegiatan suci yang sangat istimewa” tetapi juga wahana utama untuk mengantar umat Kristiani ke dalam persatuan pribadi dengan Kristus.

Liturgi merupakan perayaan iman sebagai ungkapan iman Gereja, dimana orang yang ikut dalam perayaan iman mengambil bagian dalam misteri yang dirayakan.Liturgi sungguh-sungguh menjadi doa dalam arti penuh bila semua yang hadir secara pribadi dapat bertemu dengan Tuhan dalam doa bersama. Dengan demikian terjadi apa yang dikatakan Tuhan; “…..dimana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, disitu Aku ada ditengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Atau dengan rumusan Konsili Vatikan II: “Di dalam jemaat-jemaat, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus dan berkat kekuatanNya terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik” Ibadat resmi Gereja tampak dalam ibadat pagi, ibadat siang, ibadat sore, ibadat malam dan ibadat bacaan. Yang pokok dalam doa bukan sifat resmi atau kebersamaan, melainkan kesatuan Gereja dengan Kristus dalam doa.

Bapa Kami adalah doa singkat yang sempurna. Di dalamnya mencakup jenis-jenis doa berikut :

Doa iman

      Bapa kami yang ada di surga

Doa Pujian / Kemuliaan :

      Dimuliakanlah nama-Mu.

Doa Pengharapan

      Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.

Doa Permohonan.

      Berilah kami rejeki pada hari ini.

Doa Tobat.

      Dan ampunilah kesalah kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Doa permohonan / harapan.

      Dan janganlah masukan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. 

 

b.    Sakramen:

Arti dan Makna Sakramen

a.      Asal kata : Sakramen berasal dari kata 'mysterion' (Yunani), yang dijabarkan dengan kata 'mysterium' dan 'sacramentum' (Latin). Sacramentum dipakai untuk menjelaskan tanda yang kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan yang disebut sebagai 'mysterium'.

b.      Kitab Suci : Dasar pengertian sakramen sebagai misteri/ 'mysterium' kasih Allah, yang diterjemahkan sebagai "rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad... tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya" (Kol 1: 26, Rom 16:25). Rahasia/ 'misteri' keselamatan ini tak lain dan tak bukan adalah Kristus (Kol 2:2; 4:3; Ef 3:3) yang hadir di tengah-tengah kita (Kol 1:27).

c.       Katekismus : mengutip perkataan St. Leo Agung :, "apa yang tampak pada Penebus kita, sudah dialihkan ke dalam misteri-misteri-Nya"/ sakramen-sakramen-Nya.

Jadi Sakramen adalah: Tanda yang kelihatan untuk rahmat Allah yang tidak kelihatan; sebagai sarana keselamatan, untuk menguduskan, membangun tubuh Kristus dan akhirnya mempersembahkan ibadah kepada Allah (Sacrosanctum Consilium Art 59).

Sakaramen adalah tanda berdaya guna yang menghasilkan rahmat dan memberikan kehidupan Ilahi kepada kita, yang ditetapkan Kristus dan dipercayakan kepada GerejaNya.Bagi umat beriman yang menerimanya dengan sikap batin yang wajar, mereka menghasilkan buah.

1.      Sakramen adalah Lambang atau Simbol

Sakramen-sakramen Gereja Katolik melambangkan dan mengungkapkan karya penyelamatan Allah dan pengalaman dasariah manusia yang terselamatkan.Sakramen sebagai sarana untuk menyampaikan kepada umat manusia tentang rahasia penyelamatan Allah dan menunjukkan tindakan Allah kepada kita. Sakramen adalah tanda kehadiran dan cinta Allah kepada manusia.

2.      Sakramen-sakramen Mengungkapkan Karya Tuhan yang Menyelamatkan

Karya Allah dalam dunia adalah untuk menyelamatkan manusia.Allah yang menyelamatkan itu hadir nyata dalam diri Yesus Kristus. Dalam Yesus, orang dapat melihat, mengenal dan mengalami siapakah sebenarnya Allah. Allah yang tidak kelihatan nampak dalam diri Yesus.

3.             Sakramen-sakramen Meningkatkan dan Menjami Mutu Hidup Kita sebagai Orang Kristiani

Manusia adalah makhluk yang lemah dan gampang jatuh dalam dosa. Kejatuhan manusia dalam dosa mengakibatkan mutu hidupnya dihadapan Tuhan semakin menurun. Orang membutuhkan penyegaran dan keselamatan dalam hidup. Karena itu, orang datang kepada Allah untuk disucikan, dikuatkan dan disegarkan untuk menjadi manusia baru. Dengan menerima sakramen, manusia bersatu dengan Allah dan diangkat menjadi manusia baru dan lebih berarti. Dalam sakramen-sakramen, hidup manusia disempurnakan dan menjadi lebih berarti. Perayaan sakramen adalah suatu pertemuan antara Kristus dan manusia.

 

Terdapat 7 sakramen yang dibagi dalam tiga kelompok :

1.    Sakramen Inisiasi (inisiasi : acara diterima dalam suatu kelompok)

b.    Babtis.

c.     Ekaristi.

d.    Krisma.

2.    Sakramen Penyembuhan.

b.    Tobat

c.     Minyak Suci.

3.    Sakramen Persekutuan.

b.    Imamat.

c.     Perkawinan.

 

Dalam Tiap Sakramen selalu ada Materi : suatu benda atau tindakan. Dan Forma : rumusan kata-kata yang diucapkan.

1.    Sakramen Babtis.

Pembaptisan adalah sakramen pertama dan mendasar dalam inisiasi Kristiani.Pelayan sakramen ini biasanya seorang uskup atau imam, atau seorang diakon. Dalam keadaan darurat, siapapun yang berniat untuk melakukan apa yang dilakukan Gereja, bahkan jika orang itu bukanlah seorang Kristiani, dapatmembaptis.

Pembaptisan membebaskan penerimanya dari dosa asal serta semua dosa pribadi dan dari hukuman akibat dosa-dosa tersebut dan membuat orang yang dibaptis itu mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Allah melalui "rahmat yang menguduskan" (rahmat pembenaran yang mempersatukan pribadi yang bersangkutan dengan Kristus dan Gereja-Nya).

Pembaptisan juga membuat penerimanya mengambil bagian dalam imamat Kristus dan merupakan landasan komuni (persekutuan) antar semua orang Kristen. Jika

seseorang secara resmi menyatakan tobat dan imannya pada Kristus serta bertekad ikut serta dalam tugas panggilan Kristus maka ia diterima dalam umat dengan sakramen permandian.

Orang yang menerima sakramen permandian diterima oleh Kristus menjadi anggota tubuhNya, umat Allah (Gereja), orang tersebut laksana baru lahir dalam gereja.Orang yang telah dipermandikan harus siap hidup bagi Allah. Perayaan dalam peristiwa permandian berupa pencurahan air pada dahi, dan imam berkata, ”Aku mempermandikan engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus” (Forma)

 

2.        Sakramen Ekaresti

Malam perjamuan terakhir menjadi tanda terbentuknya suatu Ekaristi.Ekaristi adalah sakramen yang dengannya umat Katolik mengambil bagian dari Tubuh dan Darah Yesus Kristus serta turut serta dalam pengorbanan diri-Nya.Aspek pertama dari sakramen ini (yakni mengambil bagian dari Tubuh dan Darah Yesus Kristus) disebut pula Komuni Suci.Roti dan anggur yang digunakan dalam ritus Ekaristi, dalam iman Katolik, ditransformasi dalam segala hal kecuali wujudnya yang kelihatan menjadi Tubuh dan Darah Kristus, perubahan ini disebut transubstansiasi.

Hanya uskup atau imam yang dapat menjadi pelayan Sakramen Ekaristi, dengan bertindak selaku pribadi Kristus sendiri.Diakon serta imam biasanya adalah pelayan

Komuni Suci, umat awam dapat diberi wewenang dalam lingkup terbatas sebagai pelayan luar biasa Komuni Suci. Ekaristi dipandang sebagai "sumber dan puncak" kehidupan Kristiani, tindakan pengudusan yang paling istimewa oleh Allah terhadap umat beriman dan tindakan penyembahan yang paling istimewa oleh umat beriman terhadap Allah, serta sebagai suatu titik dimana umat beriman terhubung dengan liturgi di surga.

 

 

3.        Sakramen Krisma

Sakramen ini diberikan dengan cara mengurapi penerimanya dengan Krismadisertai doa khusus yang menunjukkan bahwa karunia Roh Kudus menandai si penerima seperti sebuah meterai. Melalui sakramen ini, rahmat yang diberikan dalam pembaptisan "diperkuat dan diperdalam" (KGK 1303).Seperti pembaptisan, penguatan hanya diterima satu kali, dan si penerima harus dalam keadaan layak (artinya bebas dari dosa-maut apapun yang diketahui dan yang belum diakui) agar dapat menerima efek sakramen tersebut.Pelayan sakramen ini adalah seorang uskup yang ditahbiskan secara sah.Krisma menjadi tanda kedewasaan, untuk turut serta bertanggung jawab atas kehidupan Umat Allah dan pada sesama.

 

4.        Sakramen Tobat

Sakramen tobat adalah sakramen penyembuhan rohani dari seseorang yang telah dibaptis yang terjauhkan dari Allah karena telah berbuat dosa. Sakramen ini memiliki empat unsur: penyesalan si peniten (si pengaku dosa) atas dosanya (tanpa hal ini ritus rekonsiliasi akan sia-sia), pengakuan kepada seorang imam, absolusi (pengampunan) oleh imam, dan penyilihan.

Orang jatuh dalam dosa berarti merusak dan melemahkan si pendosa sendiri, serta hubungannya dengan Allah dan sesama. Si pendosa yang bangkit dari dosa tetap harus memulihkan sepenuhnya kesehatan rohaninya dengan melakukan lagi sesuatu untuk memperbaiki kesalahannya: dia harus 'melakukan silih bagi' atau 'memperbaiki kerusakan akibat' dosa-dosanya. Penyilihan ini juga disebut 'penitensi'" (KGK 1459).Para pengikut Kristus perlu bertobat secara terusmenerus dihadapan Allah dan sesama.Tanda pertobatan tersebut diterima dalam perayaan sakramen tobat.

 

5.        Sakramen Minya Suci

Jika seorang anggota umat sakit keras, keprihatinan Tuhan diungkapkan dengan sakramen perminyakan orang sakit.Kristus menguatkan si sakit dengan Roh KudusNya yang ditandakan dengan minyak suci. Dengan demikian, si sakit siap dan tabah untuk menerima apa saja dari tangan Allah yang mencintai kita, baik dalam kesembuhan maupun dalam maut. Dengan menderita seperti Kristus, si sakit menjadi lebih serupa dengan Kristus

 

6.        Sakramen Imamat

Atas kehendak Allah dan Uskup dari Gereja setempat, pria-pria tertentu dipilih dan ditahbiskan untuk melayani Gereja sebagai daikon, imam dan uskup.Sakramen imamat adalah sakramen pelayanan.Para uskup, imam dan daikon dipanggil untuk menguduskan kaum awam, yang turut mengambil bagian dalam imamat umum yang diterima saat mereka dibaptis

 

7.        Sakramen Perkawinan

Makna dari  Arti perkawinan katolik menurut KHK1983 kan.1055 §1 adalah perjanjian (foedus) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk kebersamaan hidup. Latar belakang definisi ini adalah dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes §48). GS dan KHK tidak lagi mengartikan perkawinan sebagai kontrak. Bertujuan untuk :  a) Bonum vitae – kebaikan hidup bersama pasangan. b) Bonum prolis – terbuka terhadap kelahiran anak dan kebaikan hidup mereka. c) Bonum Coniugum: membentuk kebersamaan hidup.

 

C.     Sakramentalia

         Sakramentalia adalah berkat suci yang diberikan Tuhan melalui gerejanya pada orang atau barang / benda yang kemudian menjadi suci yang di dalamnya menjadi tanda berkat Allah.  Dalam Kisah Para Rasul  19:12 diceritakan kekuatan benda / barang yang telah dikuduskan tersebut : “Bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat.”

Berikut jenis sakramentalia :

-          Pemberkatan orang, benda/ barang, alat rohani : pemberkatan ibu hamil, anak-anak, orang yang berulang tahun, berkat menghadapi ujian, motor / mobil baru, rumah, patung, Rosario, kitab suci, dll.

-          Pemberkata dalam arti tahbisan rendah : pemberkatan untuk orang atau benda untuk keperluan liturgis. Misalnya, pemberkatan / tahbisan lector akolit, katekis, prodiakon, kapel, gereja, lonceng gereja, altar, minyak suci, air babtis, dll.

 

D.    Devosi

Devosi (latin : devotion = penghormatan) adalah bentuk-bentuk penghormatan atau kebaktian khusus kepada rahasia kehidupan Yesus, misalnya devosi (penghormatan) kepada Hati Kudus Yesus, devosi kepada Allah yang maha Rahim, jalan salib, Devosi kepada Sakramen Maha Kudus. Atau devosi kepada orang-orang kudus, misalnya devosi kepada Bunda Maria, kepada santa-santo pelindung.

 

B.       Tugas Gereja Mewartakan (Kerygma)

 

Perintah Untuk Mewartakan Injil.

Kristus adalah Allah yang hadir di muka bumi untuk memulihkan cinta-Nya yang telah lama diabaikan oleh manusia. Kristus sekaligus menunjukan sifat Allah yang maha cinta melebihi sifat maha adil-Nya. Begitu banyak perbuatan kasih yang dibuat Yesus. Yesus memperkenalkan kembali nilai-nilai utama: cinta kasih, keadilan, kesederhanaan untuk berbagi, kedamaian, kesetaraan manusia, kejujuran, kebenaran. Namun akhirnya dia mati dengan cara manusia. Hanya 33 tahun Yesus hidup sebagai manusia, namun sejarah manusia tetap berjalan. Maka nilai-nilai itu harus tetap diperkenalkan kepada dunia. Manusia harus diselamatkan dan disatukan kembali kepada penciptanya. Maka Yesus telah memilih 12 orang, plus Paulus untuk melanjutkan misi-Nya, menjaga kawanan kerajaan Allah. Matius 28:16-20, “…. Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu…”

Tugas mengajar inilah yang kita terima dari Kristus sendiri.

 

 

Perintah untuk Memberitakan Injil

(Mat 28:16-20)

 

16Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.17Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.18Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

 

Dasar Gereja sebagai Pewarta Sabda

Dalam diri Yesus dari Nazaret, Sabda Allah tampak secara konkret manusiawi. Sabda menjadi manusia. Sabda Allah menjelmakan diri dalam sejarah kehidupan manusia. Oleh karena itu, Sabda Allah senantiasa hidup dan berbicara dalam segala zaman.

Pada masa sebelum Kristus, Sabda Allah telah ada namun lebih diwarnai dengan janji. Sedangkan sesudah penjelmaan (Kristus) Sabda Allah lebih bersifat kesaksian hidup. Dalam kesaksian itu, Kristus, Sabda sejati hadir di dalam sejarah manusia sebagai sarana keselamatan.

Bentuk baru Sabda itu adalah Gereja. Kristus, Sabda Allah, menciptakan Gereja. Lewat Gereja, Ia bisa hadir dan berbicara dalam sejarah manusia. Di pihak lain, Gereja pada hakikatnya tidak lain daripada jawaban atas panggilan Yesus Kristus, Sabda Allah. Seluruh hidup dan keberadaan Gereja merupakan jawaban atas pewartaan dan kesaksian tentang Yesus Kristus, Sabda dan Wahyu Allah.

 

Bentuk-bentuk Sabda Allah dalam Gereja

Dalam diri Yesus dari Nazaret, sabda Allah tampak secara konkret dan manusiawi.Ada 3 bentuk Sabda Allah dalam Gereja:

1.      Sabda/pewartaanpara rasul sebagai daya yang membangun Gereja.

2.      Sabda dalam Kitab Suci sebagai kesaksian normatif.

3.      Sabda Allah dalam pewartaan aktual gereja sepanjang zaman.

Tugas pewartaaan adalah untuk mengaktualisasi apa yang disampaikan Allah dalam Kristus sebagaimana diwartakan Para Rasul. Dengan demikian, sabda Allah sungguh datang pada manusia menyelamatkan mereka yang mendengar dan melaksanakan pewartaan gereja.

 

Dua pola Kerygma

a.      Kerygma verbal /  lewat kata-kata.

Misalnya : - Kotbah/ homily : oleh para Imam  untuk membawa perikop Kitab Suci ke dalam hidup umat, atau menerangi hidup umat dengan perikop Kitab Suci.   – Pelajaran agama, Katekese umat, Pendalaman Kitab Suci, dialog tidak formal dengan teman atau orang lain tentang Kristus. Memperkenalkan ajaran Kristus lewat internet, pendalaman kitab suci di dalam keluarga atau lingkungan.

b.      Kerygma lewat kesaksian hidup (martyria)

Memberi kesaksian yang positif sebagai anggota gereja, umat Allah. Menjadi garam dan terang dunia. Misalnya, lewat kegiatan politisi yang dapat menjadi panutan, politisi yang jujur, orang Kristen yang membela hidup orang miskin seperti Rm. Mangun Wijaya di kali code Jogyakarta. Dari sikap mereka ini, orang diajarkan- tentang kasih Allah.

 

 

 

 

Pelaku Kerygma

1.      Magisterium.

      Gereja katolik memiliki kelompok tertahbis (hirarki) yang memiliki wewenang mengajar. Mereka punya kuasa untuk mengajarkan iman dan kesusilaan. Semua umat kini boleh saja menafsir kitab suci, namun hanya merekalah yang dapat mengajarkan, atau mengesahkan bahwa ajaran iman seseorang (awam) dapat diterima. Magister – pengajar/ doctor. Magisterium : wewenang mengajar.

2.      Pewarta Sabda.

Para pewarta adalah termasuk kaum awam. Mereka diberikan mandat dan kemampuan oleh magisterium untuk mengajar.   Mereka adalah:

a.      Para pengkotbah dalam ibadat-ibadat ,

b.      Para katekis, umat dengan pelbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang mau terlibat sebagai penggerak umat dan masyarakat untuk mengenal Kristus dan atau hidup menurut ajaran Kristus.

c.       Guru Agama : mereka yang diakui oleh pemerintah dan gereja, memiliki pengetahuan yang baik tentang iman Katolik dan Kitab Suci, serta tradisi gereja.

 

Maka inilah hal yang harus dimiliki oleh para kerygmator / Pewarta :

1.      Karena tugas mereka adalah mengajar / memperkenalkan iman dan kitab suci, maka mereka harus memiliki iman dan mengenal baik tentang Kitab Suci.

2.      Mereka harus mengenal siapa yang akan menerima pewartaan, dekat dan merasakan senasip dengan mereka.

 

Dua Tuntutan dalam Pewartaan

Tugas pewartaan adalah mengaktualisasi sabda Tuhan yang disampaikan dalam Kristus sebagaimana diwartakan oleh para rasul.Usaha mengaktualisasi sabda Tuhan itu mengandaikan berbagai tuntutan yang harus dipenuhi. Tuntutan-tuntutan tersebut antara lain sebagai berikut:

a)      Mendalami dan menghayati sabda Tuhan.

Orang tidak dapat mewartakan sabda Allah dengan baik, jika ia sendiri tidak mengenal dan menghayatinya. Oleh sebab itu, kita hendaknya cukup mengenal, mengetahui dan menghayati isi Kitab Suci, ajaran-ajaran resmi Gereja dan keseluruhan tradisi Gereja, baik Gereja universal maupun Gereja lokal.

b)      Mengenal umat/masyarakat konteksnya

Dalam tugas pewartaan, hendaknya juga memperhatikan dan mengenal dengan baik jiwa dan budaya masyarakat setempat. Agar apa yang diwartakan dengan mudah diserap dan sejalan dengan situasi masyarakat. Intinya, Sabda Allah yang diwartakan harus sesuai dengan konteks hidup masyarakat.

 

Magisterium atau Wewenang Mengajar

Magisterium adalah kuasa mengajar dalam Gereja. Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas kenabiannya dalam kepatuhan kepada pimpinan Gereja, sebab pimpinan Gereja inilah yang disebut magisterium. Namun, “wewenang mengajar” tidak berarti bahwa dalam pewartaan hanya hierarki yang aktif, sedang yang lain tinggal menerima dengan pasif.

Dalam pewartaan, hierarki bertugas menjaga kesatuan iman dan ajaran. Hierarki adalah pengajar otentik (yang mengemban kewibawaan Kristus) tentang perkara iman dan kesusilaan. Apa yang diajarkan tidak dapat sesat. Karena ajaran iman itu adalah kehendak Penebus Ilahi. Karena itu ada empat syarat sebuah ajaran iman tidak dapat sesat:

a.   Ajaran harus menyangkut iman dan kesusilaan.

b.  Ajaran harus bersifat ajaran otentik, artinya jelas dikemukakan dengan kewibawaan  Kristus.

c.  Ajaran dinyatakan dengan tegas atau definitif (tidak dapat diganggu gugat).

d. Ajaran itu disepakati bersama (sejauh hal ini menyangkut pernyataan para uskup sebagai dewan.

Agar umat beriman tidak dapat sesat dalam imannya, maka para hierarki harus memimpin atau menggembalakan umat dengan baik.

 

 

Para Pewarta Sabda

Mereka yang secara khusu smelibatkan diri kedalam tugas pewartaan adalah sebagai berikut:

a.   Para Pengkhotbah

b.   Para Katekis

c.   Guru Agama

 

Menjadipewartamerupakansuatupanggilan.Olehkarenaitu, seorangpewartaharus:

a.   Dekatdengan yang diwartakannya.

b.   Menjadisenasibdengan yang diwartakannya.

c.    Beranimenanggungderitaseperti yang diwartakannya.

d.    Siapuntukdiutusdan “diserahkan” kepadaumat yang mendengarpewartaannya.

e.    Memilikikomitmen yang utuhkepadaumat.

 

 

C.      Gereja Yang Manjadi Saksi (Martyria)

 

Kata SAKSI memiliki dua arti:

·         Orang yang melihat atau mengetahui sendiri suatu peristiwa atau kejadian

·         Orang yang dimintai hadir pada suatu peristiwa untuk mengetahuinya agar suatu ketika apabila diperlukan dapat memberi keterangan yang membenarkan bahwa peristiwa tersebut sungguh-sungguh terjadi.

Dari kedua arti di atas, kita dapat disimpulkan bahwa saksi selalu menunjuk pada personal/pribadi seseorang yang mengetahui atau mengalami dan mampu memberikan keterangan yang benar.


Dengan demikian, menjadi “Saksi Kristus” berarti:

·         Menyampaikan atau menunjukkan apa yang dialami dan diketahui tentang Kristus kepada orang lain

·         Penyampaian, penghayatan atau pengalamannya itu dapat dilaksanakan melalui kata-kata, sikap atau tindakan nyata (teladan hidup)

·          

Menjadi saksi Kristus selalu mengandung resiko sebagaimana Sabda Yesus sendiri, “Kamu akan dikucilkan bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah” (Yohanes 16: 2). Meskipun demikian, banyak orang yang terinspirasi dari pengorbanan Yesus sendiri dan mengorbankan nyawanya sebagai saksi Kristus atau Martir (martir berarti orang yang berkorban atau rela mati demi menjadi saksi Kristus). Martyria terbagi atas dua yaitu:

 

·         Martyria Merah/Darah: orang yang rela menumpahkan darahnya demi memberi kesaksian tentang imannya akan Tuhan.

Contoh:
Uskup Romero yang tewas ditembak karena membela orang miskin di kota San Salvator.
Pater Maximilianus Kolbe yang rela mati dibunuh di kamp konsentrasi Nazi Jerman demi menggantikan seorang bapak yang hendak dieksekusi.
Santo Tarsisius yang rela mati demi menyelamatkan hosti tubuh Kristus

 

·         Martir Putih: orang yang rela berbuat apa saja termasuk menghadapi tantangan demi memberi kesaksian tentang Tuhan. Orang seperti ini tidak perlu mati seperti martyria merah/darah tetapi rela hidup seperti Kristus.

Contoh:
Mother Teresa yang selama hidupnya melayani orang-orang miskin di Calcuta-India

Pater Damian yang selama hidupnya melayani orang-orang kusta yang dibuang di pulai Molokai.

 

D.      Gereja Yang Membangun Persekutuan (Koinonia)

 

E.       Gereja Yang Melayani (Diakonia)

Latar Belakang.

Ciri cinta kasih gereja tampak sangat nyata dalam sikap utamanya yakni melayani. Inilah salah satu pesan utama Yesus Kristus setelah Ekaristi pada malam perjamuan terakhir. Yesus menanggalkan jubah tuan-Nya, lalu mengikatkan kain lenan pada pinggangnya seperti yang dilakukan para pelayanan. Lalau mulailah dia melakukan pekerjaan para hamba : mencuci kaki murid-muridnya. Tentu saja murid tersentak kaget, Petrus dengan terang menolak. Tapi Yesus bilang kalau dia tidak mau dicuci kakinya maka tidak pantas menjadi murid-Nya, sebab semua murid-Nya harus melakukan hal serupa kepada sesamanya. (Yohanes  13: 1 – 20) Kisah penuh emosional ini sungguh menyentuh hati para Rasul, maka mereka semua bekerja sungguh-sungguh dalam pelayanan, menjadi hamba di antara para hamba. (Lukas 17:10) bahkan bersedia mati untuk itu. Mereka semua, kecuali Yohanes, memang akhirnya jadi martir demi Kristus.

 

Semangat Pelayanan Gereja dalam Terang Kitab Suci

Bukan Memerintah Melainkan Melayani

(Mrk 10:35-45)

35Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" 36Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" 37Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." 38Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" 39Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 40Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya.Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan."

41Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. 42Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 43Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 45Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

 

Penjelasan

Yesus sangat menekankan semangat pengabdian dan semangat pelayanan kepada murid-muridNya yang rupanya sangat berambisi untuk memiliki kedudukan dan kekuasaan. Yesus mengenal struktur masyarakat feudal pada zamanNya, yakni adanya kelas-kelas dan tingkat-tingkat dalam masyarakat. tetapi, Yesus berkata “tidaklah demikian di antara murid-muridNya”. Mereka harus memiliki sikap melayani. Sikap yang mau melayani itu ditunjukkan Yesus dengan membasuh kaki para muridNya. Semangat pelayanan itu harus diteruskan di dalam GerejaNya. Tugas kegembalaan atau kepemimpinan dalam Gereja adalah tugas pelayanan.

Yesus datang untuk melayani bukan dilayani. Sebagai murid kristus maka kita juga harus mengambil sikap untuk melayani, bukan dilayani. Saling melayani,prinsip dasar kehidupan gereja, itulah panggilan gereja menurut hidup Kristus. Pelayanan dalam perwujudan iman kristiani adalah dengan mengikuti jejak kristus. Pelayanan dalam hal ini adalah kerjasama, tolong menolong, saling membantu, menyadari, dan menghayati bahwa kemerdekaan adalah kesempatan untuk melayani sesama yang tercapai dalam kebersamaan dan persaudaraan.

 

Dasar Pelayanan dalam Gereja

Dasar pelayanan dalam Gereja adalah semangat pelayanan Kristus sendiri. Pelayanan Kristiani adalah sikap pokok para pengikut Yesus. Dengan kata lain, melayani sesama adalah tanggung jawab setiap orang Kristiani sebagai konsekuen dalam imannya.

 

Ciri-ciri Pelayanan Gereja

a.      Bersikap sebagai pelayan.

Mereka tidak protes, mereka melakukan apapun HARUS (sanggup atau tidak, ikhlas atau terpaksa) dilakukan, siap untuk diperlakukan sebagai hamba yang tidak berguna yang hanya siap melaksanakan semua tugas. (Lukas 17:10)

b.  Tetap Setia pada Kristus.

Melihat beratnya ciri pertama di atas, maka sangat penting untuk kita dekat dan bersatu pada Kristus sumber kekuatan. Dari-Nya kita akan mendapat penghiburan dan kekuatan untuk melaksanakan tugas yang sering melampui kemampuan kita sebagai manusia. Tuhan pun tahu, tugas para murid-Nya ini berat, maka Dia berjanji untuk berserta kita SELALU sampai akir zaman (Matius 28:20)

c.    Sasaran utamanya terutama adalah kaum miskin – Option for the Poor.

Keadilan jangan berpihak kepada siapapun termasuk yang miskin, tapi pelayanan harus tetap mengutamakan kaum miskin, terpinggir dan tidak beruntung hidupnya. Pelayanan itu bukan saja karikatif – rumah sakit murah, memberi makan, tapi juga memberikan pendidikan agar mereka dapat mandiri dan juga mereformasi system politik agar membela hidup mereka.

d.    Rendah Hati.                            

Ini adalah ciri utama pelayan. Seumur hidupnya dia harus tetap melihat dirinya sebagai pelayan (ciri nomor a di atas).  Pelayan boleh bangga, bersyukur dan kagum pada hasil kerjanya, tapi tidak boleh sombong. Untuk setiap hasil yang baik atau tidak, dia bersyukur sebab telah ikut ambil bagian dalam karya Allah. (Roma  15:17. Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah).

 

      Dalam Gereja ada Diakon yang punya tugas khusus untuk melayani. Namun semua umat dituntut untuk memiliki sikap melayani dalam pelbagai macam cara hidup mereka. Misalnya:

 

Bentuk-bentuk Pelayanan Gereja

a.    Di bidang Transformatif : kebudayaan dan pendidikan.

Gereja berusaha terus membangun peradaban manusia (trans – melewati dan form – bentuk), melewati jaman sambil terus memperkenalkan nilai-nilai kerajaan Allah. Jalan paling ampuh adalah lewat budaya dan pendidikan. Maka muncullah sekolah-sekolah Katolik, bukan untuk mengkatolikan tapi untuk membangun manusia yang beradap – memiliki cinta kasih dan rasionalitas baik. Di Indonesia banyak sekali pemikir dan budayawan Katolik yang berpengaruh. Misalnya, Rm. Drost SJ, Rm. Mangunwijaya(sastrawan, budayawan dan pendidik), Rm. Sinduanta (wartawan, budayawan), Rm. Mudjisutrisno(budayawan dan pendidik), dan masih banyak yang lainnya. Di negeri ini Institusi Pendidikan Katolik selalu menjadi patokan kemajuan pendidikan Indonesia.

b.   Di bidang Karikatif : kesejahteraan. (Charitas – kasih ; care – merawat)

Bidang ini meliputi pelayanan di bidang kesehatan, misalnya mendirikan rumah sakit atau klinik, atau lembaga-lembaga sosial ekonomi seperti koperasi Credit Union (CU). Misalnya, CU Melania di Bandung yang sudah beromset ratusan miliaran, tidak saja melayani umat gereja tapi terbuka kepada siapa saja yang mau ikut. Atau karya karikatif terhadap orang-orang jompo. Di bidang ini kita kenal Mather Teresadari Kalkuta, St. Damianus, dokter perawat kusta di kep. Molokai.

a.      Di bidang Reformatif : bidang politik dan hukum  (reform : membentuk kembali)

Peran gereja adalah menjaga tata dunia ini agar menyerupai dunia Kerajaan Allah yang penuh kasih, damai, sejahtera, adil, jujur dan benar. Tanpa kekerasan. Karena itu gereja mengutus para imam dan terutama para awam untuk menjadi garam dan terang dunia di dunia Politik dan Hukum. Mengapa kedua bidang ini, sebab politik dan hukumlah yang menguasai suatu bangsa.

Pada bidang ini kita kenal Rm. Magnis Suseno (Penulis dan Pengajar Etika Politik), kini ada Ignatius Jonan di Kabinet Kerja Jokowi yang memajukan system Kreta Api Indonesia.

 

Perhatikan perbedaan berikut.

 

Pekerja

Pelayan

Orientasinya adalah uang

Oritentasinya Berkat

Bahagia jika jabatan / gaji naik.

Bahagia jika dirinya makin berarti untuk orang lain.

Kerja berdasarkan jam kerja.

Siap sedia kapan pun dibutuhkan.

Kemajuan perusahan / usaha berarti kesejahteraan pekerjanya.

Kebahagiaan orang lain berarti kemuliaan Tuhan dan kebagiaan batin pribadi.

Saya harus mendekati orang lain sebab saya membutuhkan mereka.

Saya mendekati mendekati orang lain sebab mereka membutuhkan saya.

Saya harus mendapatkan apa yang mereka punya.

Mereka harus mendapatkan apa yang saya punya.

 Harus selektif memilih patner atau sasaran pelanggan. Jauhi yang tidak berdaya / miskin.

Semua orang patut pendapat pelayanan, terutama yang tidak berdaya / miskin

 

 

 

GEREJA DAN DUNIA

  Konsili Vatikan II sungguh telah memperbaharui Gereja dan hubungannya dengan dunia. Hubungan yang menjadi baik ini disebabkan karena Gerej...